Keberadaan toko kelontong di desa itu seharusnya sangat menguntungkan. Kita nggak perlu jauh-jauh pergi ke minimarket atau ke pasar sekadar untuk membeli sabun atau garam yang sudah habis. Namun, pada akhirnya hancur karena tetangga yang licik, doyan utang, tapi sok lupa kalau diminta bayar.
Toko kelontong juga sering jadi pilihan oleh tetangga yang pengen punya income sambilan dengan cara membuka warung. Niatnya biar tiap hari ada pemasukan, ya meskipun nggak banyak, setidaknya uangnya tetap berputar terus.
Sayangnya, warung kayak gini rawan jadi sasaran tetangga yang sedang mbutuhke uang. Alias, toko kelontong di desa dihancurkan oleh kelakuan tetangganya sendiri.
#1 Padahal, untung toko kelontong itu nggak seberapa
Sejauh pengalaman dan pengetahuan saya, banyak orang mikirnya toko kelontong itu untungnya banyak. Padahal, Iitu salah besar.
Kadang, satu barang untungnya hanya 500 perak. Misalnya, camilan snack, kadang pedagang hanya ambil untung 500 rupiah. Atau kadang yang bikin tambah nyesek ketika barang masih banyak tapi sudah kedaluwarsa. Mau tidak mau, pemilik harus membuang stok yang seharusnya terjual.
#2 Tetangga terlalu sering njagakke utang di toko kelontong
Biang utama yang membuat warung kelontong di desa desa merrugi ya karena tetangga sering njagakke atau utang. Biasanya sih datang dengan muka melas. Paling sering adalah kasbon beras.
Soalnya, beras itu kan merupakan barang pokok yang jadi bahan makanan sehari-hari. Ngomongnya sih akan dibayar hari Sabtu tapi eh ujung-ujungnya kelupaan nggak dibayar lagi.
#3 Anak sering jadi alasan utang
Mirisnya lagi anak sering menjadi alasan. Misalnya, “Duite gawe nyanguni anakku sekolah,” maksudnya uangnya buat saku anak.
Jadinya, uangnya habis dan nggak bisa belanja lagi. Maka, mereka akan utang susu anak. Bisa juga terjadi, si anak ikut ke toko kelontong dan nangis merengek minta susu. Tapi, ibunya nggak bawa uang atau memang lagi nggak punya.
Kadang ada juga yang sengaja bawa anak. Nanti kalau si anak nangis, pemilik toko kelontong jadi iba dan mengiyakan. Namun, lagi-lagi itu hanya omongan belaka dan utang menguap nggak terbayarkan. Entah kapan bayarnya.
#4 Stok barang menipis perlahan kemudian warung kelontong tutup
Sebuah toko kelontong yang “sehat” seharusnya punya banyak stok barang dagangan. Namun, ada juga warung yang tidak menambah stok ketika barangnya menipis.
Jadi, si pemilik memang sengaja membiarkan stoknya habis. Soalnya dia udah muak banget sama kelakuan tetangga yang licik dan sering utang.
Jadinya, ya mending biarin aja stok habis atau cuma nyetok dikit. Intinya biar nggak jadi sarang utang tetangga. Nah, lama-kelamaan saking sudah capeknya, akhirnya memilih menutup warung saja. Daripada boncos karena untung nggak seberapa.
Toko kelontong sering jadi tempat tetangga untuk mencari alternatif tercepat ketika nggak punya uang. Bahkan pemilik warung sudah apal di luar kepala kelakuan tetangganya. Biasanya lebih milih tutup warung daripada masih punya warung tapi nggak ada untung. Kalau di tempat kalian gini juga nggak?
BACA JUGA 3 Resep Warung Kelontong Anti Bangkrut, Anti Utang, tapi Tetap Dermawan cocok buat kamu yang lagi ingin buka sampingan dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.