ADVERTISEMENT

Saya orang Madura dan mengakui kalau kami memang keras kepala

Saya orang Madura dan mengakui kalau kami memang keras kepala Mojok.co

“Kenapa sih orang Madura keras kepala?” sebuah kalimat yang sering dilontarkan kekasih kepada saya yang berasal dari Madura. 

Biasanya, kalimat itu muncul saat dia kesal ketika berdebat dengan saya perihal pilihan hidup. Atau ketika dia sedang melihat video orang Madura yang sebenarnya salah, tapi selalu saja ada alasan sebagai pembelaan. Contohnya, saat penertiban juru parkir di Jalan Tunjungan, Surabaya.

Saya tidak sakit hati dengan apa yang kekasih saya lontarkan. Sebab, saya sebenarnya sudah sering mendapatkan kritikan yang sama dari teman-teman kuliah. Orang Madura ngeyelan! 

Saya juga tidak sakit hati  dengan apa yang dikatakan oleh teman-teman kuliah. Saya sadar dan mengakui, faktanya orang Madura memang keras kepala. Meskipun ada juga orang Madura yang mudah mengalah, tapi kalau dibuat persentase, persentasenya kecil. 

Faktanya, kebanyakan orang Madura memang keras kepala

Saya melihatnya sendiri bagaimana banyak teman saya di Madura tidak mau argumentasinya dianggap salah ketika berdebat. Padahal, lawan debatnya sudah menunjukkan argumentasi yang lebih rasional. Kalau sudah sedang terdesak, biasanya teman saya akan membelokkan fakta lain sehingga seolah argumentasinya benar, padahal tetap tidak rasional. 

Atau contoh terbaru ketika saya sedang mampir di kedai kopi. Kebetulan saya membawa mobil dan parkiran kedai kopinya sempit, hanya cukup 5 mobil. Saat saya datang, parkiran mobilnya sudah penuh. Lalu, saat saya mau pulang, mobil saya tidak bisa keluar karena ada mobil parkir sembarangan di belakang mobil saya. 

Karena kesal, akhirnya saya memarahi tukang parkir karena dianggap tidak becus mengatur parkiran. Sudah tahu kalau tempat yang dijadikan parkiran oleh mobil di belakang mobil saya bukan tempatnya parkiran, malah dibiarkan. Anehnya, si tukang parkir merasa tidak bersalah karena tidak menyuruh pemiliknya parkir di sana. 

Saya bilang, “Kan tugas kamu mengatur parkiran agar tertib dan rapi.” Si tukang parkir tadi tetap merasa tidak salah dengan dalih tugasnya adalah membantu kendaraan keluar dari parkiran. 

Itu adalah secuil kasus bagaimana orang Madura memang keras kepala, merasa dirinya benar. Dan saya sendiri mengakui punya karakter keras kepala, sulit untuk mengalah atas keputusan yang saya yakini. Makanya, kekasih saya malas berdebat dengan saya kalau tidak penting-penting amat. 

Menelusuri asal-usul sifat keras kepala ini

Sikap keras kepala ini tidak terbentuk dari ruang kosong. Ia lahir dari pengetahuan yang diinternalisasi antargenerasi. Dari pengalaman saya, banyak peribahasa-peribahasa di Madura yang dilontarkan di masyarakat lebih condong perihal harga diri. 

ADVERTISEMENT

Seperti peribahasa yang sangat terkenal, bahkan sampai dibahasakan ke bahasa Indonesia oleh penyanyi dangdut asal Sumenep, Imam S. Arifin. Ada paribahasa “atembang pote mata, lebbi bhagus pote tolang”. Peribahasa tersebut mengajarkan lebih baik mempertahankan harga diri daripada mati berselimut malu. 

Contoh peribahasa lainnya “lokana dhaging bisa ejhai’, lokana ate tade’ tambena”. Peribahasa tersebut mengajarkan kalau luka batin lebih memalukan sehingga tidak boleh diinjak-injak. Satu lagi yang populer, “tada’ ajhina” yang menggambarkan seseorang yang harga dirinya sudah terinjak-injak. 

Sebenarnya, jika saya melihat kamus bahasa Madura, ada banyak sekali peribahasa Madura yang tidak membicarakan tentang harga diri. Banyak saya temukan peribahasa Madura yang mengajarkan tentang ekonomi, pendidikan, adab, agama, dan lain-lain. 

Hanya saja yang banyak beredar di masyarakat lebih pada peribahasa tentang harga diri. Saya melihat ada faktor sosiologis dan historis yang melatarbelakanginya. Dalam buku Kuntowijoyo dan Ardhie Raditya, dulu masyarakat Madura banyak melakukan perlawanan terhadap penjajah di Pulau Garam. Dan sebagai sulut api perlawanan, masyarakat diajarkan tentang pentingnya sebuah harga diri. 

Secara sosiologis, peribahasa harga diri masih terus populer di masyarakat karena kebiasaan orang Madura untuk merantau. Keluarga saat ada anggota keluarganya merantau ada rasa khawatir jika terjadi sesuatu di tanah perantauan. Oleh karenanya, biasanya anggota keluarga memberi pesan-pesan keberanian ke anggota keluarga yang merantau dengan peribahasa harga diri tersebut. 

Belum lagi stigma orang luar terhadap orang Madura, menjadi faktor lain yang membuat orang Madura keras kepala. Sampai sekarang, masih banyak orang luar yang menganggap orang Madura sebagai kelas subordinasi. Akibatnya, orang Madura ingin menunjukkan bahwa dirinya juga mampu dan istimewa. 

Harga diri yang tinggi

Itu mengapa, jangan heran kalau nasihat dari orang luar sulit diterima oleh orang Madira. Bukan karena orang Madura tidak terbuka, tapi ada rasa minder jika harus mengikuti nasihat dari orang luar. Saya paham, bahwa di kepala mereka, merasa ada rasa takut jika mengikuti masukannya, nantinya akan dianggap tidak bisa berpikir atau merasa dikontrol. 

Misalnya saja, kekasih saya yang memberi saran agar saya lanjut S2 dan menjadi dosen karena dia melihat kemampuan mendidik saya yang baik. Namun, saya tidak menerimanya. Saya sadar alasan dia kuat. Hanya saja, sekali lagi karena ada efek psikologis yang tak terlihat dari stigma bahwa orang Madura kelas subordinasi, saya menolak pendapat kekasih saya. 

Saya memilih untuk berkarier di dunia kreatif. Karena saya ingin menunjukkan kalau orang Madura bisa kok berpikir dengan baik dan berjuang penuh atas keputusannya sendiri. 

Oleh karena itu, jangan mudah untuk mengatakan orang Madura keras kepala. Iya, saya menyadarinya, tapi Anda juga harus menyadari ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Jadi, buat orang luar Madura, pahami dulu kehidupan orang Madura sebelum mengatakan dengan enteng orang Madura keras kepala. Lalu, buat orang Madura, yuk mulai sadar momen, kapan kita bersifat kukuh terhadap pendirian  dan kapan tidak boleh kukuh! 

Penulis: Akbar Mawlana
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah WNI jadi orang Madura pula.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Akbar Mawlana

Alumni S1 Sosiologi dan sekarang menjadi pegiat literasi. Suka menulis isu sosial.