ADVERTISEMENT

Rewang, tempat warga pamer pencapaian yang lama-lama menyebalkan

Jangan buru-buru kapok ikut rewang di kampung, lama-lama akan terasa manfaatnya kok Mojok.co

Kita tahu lah rewang itu isinya apa saja: ibu-ibu memasak, bapak-bapak merebus air dalam volume besar, serta para remaja putri yang kebagian potong-potong. Tapi selain kegiatan template tersebut, ada satu hal yang jarang kita sorot: rewang adalah tempat orang tua pamer pencapaian anak.

Secara nggak langsung, rewang itu bagaikan kegiatan update kehidupan orang lain. Dengan blak-blakan mereka bercerita sendiri kehidupan rumah tangganya. Ada yang dengan bangga menceritakan suaminya yang baru saja gajian atau anaknya yang rajin memberikan uang bulanan. Atau bahkan ada yang bercerita kebalikannya.

ADVERTISEMENT

Intinya sih, saat rewang cukup lebarkan pendengaran kalian. Pasti ada aja cerita unik yang mengalir begitu saja.

Adu pencapaian anak cucu adalah hal wajib

Di antara life update yang sering diutarakan, hal yang paling sering diceritakan adalah pencapaian anak cucu. Misalnya jika anaknya bisa menang lomba atau bisa diterima di pekerjaan yang jos. Lalu, mereka akan menceritakan perjuangan anaknya kenapa bisa seperti itu.

Atau sekarang yang lagi hype di desa adalah merantau ke Jepang yang sudah sering jadi bahan cerita di tempat saya. Selain adu pencapaian anak, juga jadi ajang pamer perkembangan anak atau milestone anak. Unik kan?

Nggak hanya anaknya yang dibicarakan, tapi cucunya juga. Biasanya mereka akan menceritakan cucunya sudah bisa tengkurap atau berjalan. Kemudian juga menceritakan betapa pintarnya mereka atau sudah paham uang jadi sering ngajak nenek kakeknya jajan ke warung. Hal-hal kecil seperti itu sering jadi bahan pembicaraan saat rewang.

Merendah untuk meroket ala ibu-ibu

Selain ibu-ibu yang blak-blakan, ada juga tipe ibu-ibu lain yang punya senjata merendah untuk meroket. Istilah kerennya adalah humble brag. Contohnya begini:

“Anakku ra pernah ngei duit, tapi 3 sasi pisan ngei emas 3 gram.”

Itu contoh merendah untuk meroket. Atau biasanya juga menimpali omongan orang lain tapi dengan nada yang merendah. Kemudian menceritakan yang bagus-bagusnya, tapi dengan nada yang halus.

Ada yang diam dan fokus rewang

Di balik saling adu pencapaian anak cucu ataupun adu pangkat tersebut, ada beberapa orang yang hanya bisa diam dan nggak ikut nimbrung. Soalnya menurutnya itu nggak penting. Ada juga yang nggak ikut nimbrung karena anaknya belum bekerja seperti anak-anak yang lain. Ibu-ibu yang lain jadi minder dan jadi kepikiran anaknya yang lain kalau belum jadi apa-apa.

ADVERTISEMENT

Memang, rewang sejatinya adalah tempat gotong royong warga dalam hajatan. Tapi ya, jangan lupakan, dinamika kehidupan seringnya berubah. Hal yang dulunya bermakna indah, bisa jadi sekarang bercampur nanah.

Ya contohnya rewang ini. Harusnya gotong royong, jadi tempat siapa yang paling sombong. Harusnya jadi tempat kumpul antarwarga, jadi tempat siapa yang sudah duduk di singgasana.

Penulis: Wulan Maulina
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 Oktober 2026 oleh .

Wulan Maulina

Lulusan Bahasa Indonesia Universitas Tidar. Suka menulis tentang kearifan lokal dan punya minat besar terhadap Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Beranggapan memelihara kata ternyata lebih aman daripada memelihara harapan.