Jika ada orang yang bertanya berapa jumlah to be read (TBR) atau buku yang masuk ke wishlist saya, dengan bangga akan saya tunjukkan ratusan judul buku tersebut. Saya menyimpan judul-judul buku yang pengin saya lahap di galeri saya, yang saat ini menumpuk hingga hampir dua ratus judul.
Dulu, saya memenuhi keinginan untuk membaca dengan pergi ke Gramedia atau Togamas, lalu membawa pulang buku yang saya dambakan. Atau kalau sedang malas, saya cukup checkout dari Shopee dan tinggal menanti.
Saya juga sempat berada di fase pengin punya perpustakaan pribadi dengan rak-rak dipenuhi buku di setiap sisi tembok ruangan. Saya pikir, dengan menyisihkan pendapatan dan beli satu-dua buku tiap bulan bisa membuat saya mewujudkan mimpi itu.
Sayangnya, harapan saya mungkin akan pupus. Mengisi rak buku sekarang terasa seperti mengumpulkan uang untuk beli tanah, alias kok lama banget untuk bisa penuhnya.
In this economy, beli buku bukan prioritas lagi
In this economy, buku yang selalu menjadi hobi utama saya berubah menjadi barang tersier. Ia menjadi barang mewah seperti perhiasan atau tas bermerek bagi saya. Setiap mau meminang satu buku saja saya harus menimbang-nimbang lama sekali, yang pada akhirnya tetap nggak jadi saya beli.
Dengan harga barang-barang pokok yang naik, buku sudah nggak menjadi prioritas buat saya. Seorang bibliophile seperti saya juga pada akhirnya menjadi kaum mendang-mending. Mending duitnya untuk bertahan hidup daripada memenuhi impian punya perpustakaan pribadi.
Dan ternyata, nggak cuma saya saja yang menyadari dan mengalami hal ini. Banyak teman sesama bibliophile di sekitar saya yang memutuskan untuk nggak memenuhi hobinya lagi demi bisa makan. Apalagi setelah saya melihat postingan yang menyetarakan satu buku dengan makan 20 hari, rasanya nyesek banget. Buku benar-benar sudah jadi barang mewah di negeri ini.
Bahkan saya sudah menamatkan adegan yang paling membuat saya patah hati: menjual koleksi saya. Beberapa koleksi buku dengan berat hati saya lepas. Pada waktu itu saya berpikir bahwa lebih baik buku-buku ini saya ubah jadi uang kembali daripada teronggok begitu saja di rak buku. Toh saya nggak tahu kapan rak buku yang jumlahnya baru satu ini berubah jadi sebuah perpustakaan pribadi.
Perpustakaan menjadi pilihan
Saya memang menyerah untuk menjadi kolektor buku, tapi saya nggak pernah menyerah untuk tetap bisa membaca buku. Dan perpustakaan menjadi penyelamat saya untuk tetap bisa membaca buku tanpa keluar uang sepeserpun.
Kini, saya menjadi pengunjung tetap Perpustakaan Kota Yogyakarta yang setiap seminggu sekali saya datangi untuk pinjam dua buku sekaligus. Beberapa to be read bisa saya coret berkat buku koleksi perpustakaan. Tanpa menunggu gajian atau mempertimbangkan harga, saya bisa baca buku baru begitu buku yang lama sudah selesai dibaca.
Minusnya, buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan memang nggak bisa (dan memang nggak boleh) dianotasi. Menggarisbawahi suatu bagian dari buku dengan bolpoin warna, menempelkan sticky notes lucu berwarna-warni, dan menggambar ekspresi sewaktu membaca juga menjadi kegiatan yang saya sukai, tapi itu dulu. Sekarang, kalau saya kagum pada suatu bagian dari buku, saya cuma bisa memotretnya biar tersimpan di galeri.
Buku-buku yang dipinjam dari perpustakaan juga harus dikembalikan dalam jangka waktu 7 hari (dan bisa diperpanjang 1×7 hari). Otomatis, koleksi buku di rak saya nggak bertambah. Tapi, nggak apa-apa deh. Koleksi buku saya kini beralih menjadi koleksi digital di Goodreads atau Bookmory.
Yah, agaknya kalau ekonomi negara kita masih begini-begini saja, buku akan selamanya menjadi barang mewah. Saya dan banyak pembaca di luar sana mungkin butuh waktu lama untuk memiliki perpustakaan pribadi. Sambil menunggu impian itu terwujud, sekarang saya pinjam buku dari perpustakaan di kota saya dulu. Ekonomi memang lagi lesu, tapi jangan sampai motivasi membaca ikutan lesu.
Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Perpustakaan di Indonesia Memang Nggak Bisa Buka Sampai Malam, apalagi Sampai 24 Jam.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.