Informasi
ADVERTISEMENT

Hidup di desa itu ribet, apalagi urusan asmara, bawa pacar salah, nggak bawa tambah salah

Hidup di desa itu ribet, apalagi urusan asmara, bawa pacar salah, nggak bawa tambah salah

Hidup di desa yang katanya slow living itu ternyata banyak nggak enaknya. Memang secara lingkungan alam mendukung untuk hidup tenang. Sayangnya kehidupan sosial di desa nggak bisa tenang. Soalnya hidup orang desa nol privasi.

Tetangga bisa tahu bahkan bisa menebak kegiatan yang dilakukan oleh tetangganya. Istilahnya adalah rasan-rasan. Jadi tetangga suka menggunjing orang lain. Banyak sekali masalah sepele yang bisa jadi masalah besar hanya dari mulut ke mulut. Ibaratnya hidup di desa kita menggadaikan ketenangan dengan ditelanjangi privasi kita.

ADVERTISEMENT

Salah satunya yang sering jadi omongan di masyarakat desa adalah soal pacaran atau membawa pacar ke rumah.

Bawa pacar ke rumah dianggap kebelet nikah

Bawa pacar ke rumah, padahal kamu hidup di desa bikin kamu jadi gunjingan tetangga paling hangat. Dari jendela pintu tetangga kamu sedang menebak-nebak kerjanya di mana dan gajinya berapa. Ngerinya lagi kalau bawa pacar ke rumah dianggap kebelet pengen nikah. Padahal tujuan membawa pacar ke rumah itu sebagai langkah awal pendekatan dengan orang tua satu sama lain.

Sayangnya tetangga di desa nggak mau tahu hal itu. Mereka dengan stigma kolot yang seenaknya suka menuduh yang nggak-nggak. Misal ada satu tetangga yang lihat, ini biasanya diceritakan ke tetangga lain. Sehingga bisa jadi trending topik hangat di desa kalian. Sekadar boncengan berdua aja kadang juga terlihat salah di mata mereka.

Hidup di desa ribet, sering ngapel jadi masalah

Tujuan utama ngapel ke rumah pacar itu untuk perkenalan tahap awal dengan orang tua. Makanya nggak bisa sekali langsung OTW nikah. Bukan seperti itu, butuh beberapa kali pertemuan untuk merasa cocok atau klik.

Tapi, lagi-lagi, tetangga desa nggak mau tahu akan hal ini. Semakin sering ngapel, maka tetangga akan semakin ganas membuat gosip tentang orang tersebut. Lebih parahnya kadang ada yang sampai ditegur ketua RT karena keseringan melihat orang tersebut ngapel. Disidak tiba-tiba dan harus segera dinikahkan.

Padahal pacaran di rumah itu buat kenalan dengan orang tua. Orang tuanya juga fine-fine aja, ini kenapa sampai pak RT dah?

Nggak pernah bawa pacar dianggap nggak laku

Kalau nggak pernah bawa pacar dianggap nggak laku, itu stigma yang sampai sekarang masih melekat di desa. Orang yang dicap seperti ini seringkali akan dijodohkan oleh tetangga. Mereka juga akan membuat kemungkinan-kemungkinan untuk menebak kenapa orang tersebut nggak kunjung terlihat membawa pacar.

Misalnya dianggap karena terlalu tua, dianggap terlalu galak, dan dianggap orangnya pemalas. Anggapan itu seringkali muncul begitu saja.

ADVERTISEMENT

Standar ganda antara cewek dan cowok di desa

Terdapat standar ganda antara cewek dan cowok ketika membawa pacar ke rumah. Kalau yang membawa pacar ke rumah adalah cowok maka dianggap orang itu gentle dan siap ke hubungan yang lebih serius. Namun, beda lagi jika cewek yang membawa pacarnya ke rumah. Cewek tersebut akan dianggap sebagai cewek yang nggak bener karena sering membawa pacarnya ke rumah. Aneh kan?

Kata siapa hidup di desa tenang? Justru nggak, karena hidup bersosial di sini masih sangat guyub. Sehingga hubungan antartetangga masih begitu dekat bahkan tanpa privasi. Apalagi soal masalah kehidupan percintaan. Kalau daerah kalian juga seperti ini nggak?

Penulis: Wulan Maulina
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Hidup di Desa Nggak Seindah Bayangan, Banyak Iuran yang Harus Dibayarkan kalau Nggak Mau Jadi Bahan Omongan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 Oktober 2026 oleh .

Wulan Maulina

Lulusan Bahasa Indonesia Universitas Tidar. Suka menulis tentang kearifan lokal dan punya minat besar terhadap Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing). Beranggapan memelihara kata ternyata lebih aman daripada memelihara harapan.