Di tengah tren anak muda lebih pengen nikah di KUA, agaknya tren ini akan sulit diikuti oleh anak muda di Madura. Wedding dream atau pernikahan impian orang Madura itu harus meriah, terutama saweran uang yang bertumpah-tumpah. Kalau pun bukan si anak yang punya wedding dream seperti yang saya sebut tadi, maka pasti si orang tuanyalah yang akan makan wedding dream seperti itu.
Nah, saya mengatakan demikian bukan asal berbicara. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, saya sudah muak dengan agenda pernikahan keempat saudara saya di Madura. Saking sibuknya, saya seperti tak punya waktu tidur yang cukup.
Nah, setelah coba-coba saya merenung, resepsi pernikahan di Madura itu memang terasa berlebihan. Bukan cuma pra-acara saja yang bikin kita linglung, tapi pasca acara pun akan membuat hidup kita tak tenang. Makanya, menurut saya, ada beberapa hal dari kebiasaan pernikahan orang Madura itu harus dibuang. Berikut saya jelaskan!
#1 Bhubuwen bikin yang nikah di Madura banyak utang
Di Madura, pernikahan itu bukan cuma si anak yang yang punya acara, tapi juga orang tuanya. Alasannya, di sini ada tradisi bhubuwen, yakni menyimpan uang/barang ke seseorang yang anaknya sedang menikah. Nanti, kalau anak kita sendiri yang nikah maka orang itu harus mengembalikannya ke kita.
Sekilas hal ini ada baiknya, sebab dengan tradisi ini sesama kerabat akan datang menyambung silaturahim.
Akan tetapi, makin kesini tradisi bhubuwen ini terasa semakin ekstrem. Orang yang menyimpan bukan cuma puluhan ribu, tapi ratusan ribu, bahkan bisa satu juta. Itu baru sang bapak. Kalau ibu, tidak kalah meriah. Kadang bawa gula, minyak goreng, beras bersak-sak, pokoknya biayanya tidak sedikit.
Nah, jika dalam satu bulan ada 10 orang yang nikah, pada musim nikahan misalnya, bisa butuh puluhan juta buat mengembalikan bhubuwen itu. Parahnya, kalau orang tidak takut dosa kadang catatannya sengaja dihilangkan supaya bisa masang bhubuwen seenaknya. Haduh!
Itu mengapa, menurut saya, tradisi ini perlu buang atau ya diganti sajalah. Apalah gitu.
#2 Drumband sudah bukan jamannya
Hampir semua orang tua di Madura sangat ingin mengundang drumband saat pernikahan anaknya. Ini biayanya tidak sedikit, bisa lebih dari Rp 5 juta. Saya tidak bermaksud mengomentari selera seseorang, tapi kalau direnungkan drumband itu kurang worth it.
Pertama, biayanya mahal. Kemudian, apakah yang didapat sebanding? Tidak. Pemain drumband kadang tidak memperhatikan penampilan, ini terlihat dari kebersihan pakaian dan wajahnya. Coba deh kalian lihat komentar orang-orang kalau lihat drumband di Madura. Banyak yang jadi bahan candaan.
Lalu, drumband di Madura juga cenderung kontroversial. Sebab, penarinya menutup kakinya hanya dengan celana ketat yah meskipun pakai rok setinggi paha. Nah, di Madura fashion seperti ini terlihat kurang sopan oleh orang-orang.
#3 Blayer-blayer motor itu caper ke siapa sih?
Di Madura, menerka apakah mempelai pria itu bagian dari jamet atau bukan sangat mudah, yakni lihat saja iringan mantennya saat resepsi. Jika dipenuhi oleh sekelompok jamet, maka besar kemungkinan ia bagian dari mereka. Biasanya, kelompok ini punya tradisi ngeblayer-blayer motor saat kawan jametnya sedang menikah. Semakin nyaring dan ramai blayer motor itu semakin menunjukkan seberapa jamet yang sedang menikah.
Nah, menurut saya rangkaian acara blayer-blayer motor ini harusnya dihapus saja. Alasannya sangat jelas, sangat mengganggu. Semua pasti terganggu, tapi ya tidak ngomong saja.
Lagian, apakah kalian tahu apa sebetulnya fungsi knalpot? Untuk menyaringkan bunyi mesin motor? Tet tot. Salah. Malah sebaliknya, knalpot salah satu fungsinya yakni meredam suara bising dari mesin motor. Jadi, dipasang knalpot ya biar nggak bising. Nah, inilah anehnya para jamet di Madura. Knalpot motor malah dimodifikasi supaya suaranya nyaring.
Ya, demikianlah kebiasaan dari resepsi pernikahan di Madura yang menurut saya dihapus saja. Sekali lagi, saya tidak bermaksud menganggap rendah orang lain ya. Tapi, jika selera itu hanya menyusahkan diri kita, apalagi mengganggu ketenangan orang lain, bukankah sebaiknya diganti saja. Yah, ini hanya saran. Selanjutnya, saya kembalikan pada kalian yang mau nikah. Hehehe.
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sudah jatuh tertimpa tangga, sudah WNI jadi orang Madura pula.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.