Seorang teman dengan tegas menuding dengan nada komplain bahwa saya tidak bangga menjadi orang Madura. Tuduhannya tentu cukup beralasan, mengingat setiap kali ditanya berasal dari mana, jawaban saya selalu sama “Jawa Timur.”
Bagi saya dan beberapa teman lain, jawaban tersebut lebih aman daripada menyebutkan kota kami berasal, apalagi menyebut nama Madura. Sejujurnya, saya merasa cape harus menjelaskan bahwa pulau kami terdiri dari empat kabupaten yang semuanya berbeda satu sama lain.
Sayangnya, hal tersebut tampak tak bisa dipahami dengan baik oleh orang-orang non-Madura. Bagi mereka, semua orang Madura identik dengan memakai sarung serta mampu jongkok di atas galon seperti Boger. Padahal, apa yang ditampilkan Boger hanya mewakili satu kabupaten yang bahkan di kabupaten lain sukar untuk menemukan hal yang sama.
Demikian juga anggapan bahwa Madura keras yang selama ini langgeng hanya valid di beberapa kasus. Sisanya, ya orang Madura sama seperti orang pada umumnya.
Ketika kabar buruk dari Madura menyeruak
Belum lagi kalau ada beberapa kejadian tidak mengenakkan dan menjadi pemberitaan nasional. Di banyak kejadian, ketika pelakunya orang Madura, nama pulau kami seringkali disebut—langsung atau tidak. Kenyataan seperti ini semakin diperparah oleh sosial media. Manakala melihat pemberitaan perihal orang Madura, maka responson dari khalayak nyaris seragam. Mereka seolah memahami dengan penuh hati sambil melontarkan pemakluman bernada ejekan “maklum blok M.”
Hal-hal semacam ini jarang menimpa, atau bahkan tidak pernah, orang-orang di Jogja, misalnya. Sewaktu-waktu seorang juru parkir mematok harga tak masuk akal bagi wisatawan, tak pernah ada komplain yang membawa sentimen kedaerahan. Belum pernah saya lihat di kolom komentar seorang menyebut “dasar plat AB.” Tidak. Tentunya hal tersebut berbanding terbalik dengan apa yang menimpa kami sebagai insan yang memikul atribut orang Madura.
Dengan kenyataan tersebut, ketika beberapa hari lalu Indomaret di Pamekasan dibongkar secara paksa, asumsi-asumsi terhadap orang Madura semakin menebal. Bagaimana tidak, di saat label ‘Warung Madura’ menjamur di kota-kota besar, pada saat yang sama daerah ini justru menolak keberadaan kompetitor. Pastinya kita bisa berdebat perihal motif dari pembongkaran yang terjadi beberapa hari lalu itu. Meski begitu, hal tersebut tidak akan memberikan signifikansi apapun selain hanya menebalkan stereotipe perihal Madura yang keras dan arogan.
Sulit untuk memberikan justifikasi dan tafsir yang meyakinkan atas pembongkaran salah satu Indomaret di Pamekasan. Bagaimana pun justifikasi dan penjelasan yang disuguhkan, yang nampak di permukaan hanya bangunan yang diruntuhkan. Lagi pula, motif semulia apa pun tidak akan pernah bisa menjustifikasi tindakan-tindakan yang tidak fair. Apalagi kalau ternyata alasan yang disuguhkan hanya berlindung di balik kata-kata tidak mendapat restu dari ulama setempat.
Dampak pada perantau
Apa yang terjadi di salah satu kabupaten di Madura tersebut memberikan dampak yang juga tidak main-main terhadap perantau lain di luar Pulau Garan. Bayangkan satu skenario besok seorang tak dikenal menanyakan dari mana saya berasal. Jika saya menjawab Madura, maka pertanyaan lanjutannya bisa ditebak. Ia tak akan jauh-jauh dari pembahasan mengenai pembongkaran Indomaret.
Seolah-olah, pelaku tersebut merupakan saudara atau kerabat dekat saya dan karenanya saya diasumsikan tahu duduk perkaranya.
Akhirnya, keberatan dan beban yang selama ini dipikul anak-anak Madura di rantau semakin tidak main-main. Seberusaha apapun mereka menjaga citra, ada titik-titik di mana sesama Madura—lebih-lebih di tanah asal—melakukan atraksi-atraksi yang tak diinginkan.
Betul, kita bisa berkelit bahwa Madura itu majemuk dan tak seragam, tapi butuh berapa ratus kali untuk meyakinkan bahwa kita tidak seragam? Atau jangan-jangan sudah saatnya kita menerima bahwa menjadi orang Madura adalah sebuah kutukan? Waalahu ʿal’am.
Penulis: Moh. Rofqil Bazikh
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.