Informasi
ADVERTISEMENT

Cirebon: sebuah wilayah yang terlihat maju, tapi nyatanya priwen gebrage

Cirebon: sebuah wilayah yang terlihat maju, tapi nyatanya priwen gebrage

Sebagai manusia yang berkembang dan mengumpulkan serbuk-serbuk imajinasi di Cirebon, saya sangat pede ketika berbicara tentang kota istimewa ini.

Ketika kita berbicara tentang Cirebon, bayangan orang-orang biasanya langsung melayang ke udang rebon, empal gentong yang mengepul gurih, atau pelabuhan tua yang penuh sejarah. Kota yang dijuluki Kota Wali ini memang punya daya tarik magis.

Dari luar, terutama kalau kita lewat jalur tol baru atau main-main ke kawasan ruko modern di pinggir jalan utama, Cirebon kelihatan megah banget. Ada mal baru, kafe-kafe estetik buat nongkrong anak muda, dan perumahan elit yang menjamur di mana-mana. Pokoknya, dari kejauhan, wilayah ini kelihatan siap meleset jadi kota metropolitan baru di Pantura.

Tapi, begitu kita coba masuk agak ke dalam menyelami sudut kampungnya, atau sekadar ngerasain alur hidup sehari-hari di sana rasanya langsung berubah drastis. Ada perasaan keder alias minder duluan pas lihat gemerlapnya, tapi pas dijalani… ya priwen anae, lakoni bae.

Penampakan luar nyentrik, dalemnya tercekik

Kalau kita turun dari tol atau stasiun utama, Cirebon menyambut kita dengan infrastruktur yang lumayan kinclong. Jalur jalurnya lebar, lampu penerangan jalan umum lumayan terang, dan pusat perbelanjaan berdiri megah seolah ngasih tahu dunia, “Hei, kita ini kota yang lagi berkembang pesat, lho!”

Banyak pendatang, mahasiswa atau orang yang cuma lewat mengira Cirebon bakal jadi saingan berat kota-kota besar kayak Bandung atau Jakarta. Apalagi semenjak ada Tol Cipali dan Cisumdawu, yang bikin mobilitas makin gila-gilaan. Investasi masuk, ruko-ruko bertingkat dibangun, dan franchise makanan cepat saji internasional gampang banget ditemuin di pinggir jalan tuparev, perjuangan, dan gunung sari Cirebon.

Tapi ingat, itu hanya bungkus yang sayangnya, tidak pernah mewakili isi Cirebon yang sebenarnya.

Maju kena, mundur kayanya sudah

Begitu kita melipir sedikit dari jalan protokol, suasananya langsung jungkir balik. Di satu sisi, ada mobil-mobil mewah seliweran di depan mal. Di sisi lain, nggak jauh dari situ, masih banyak warga yang berjuang buat sekadar nutup kebutuhan dapur.

Lapangan pekerjaan formal di Cirebon juga rasanya belum cukup merata buat menampung ribuan anak muda lulusan baru tiap tahunnya. Akhirnya, pilihannya klise: kalau nggak merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya. Ya paling banter jadi pekerja serabutan, berangkat ke Taiwan, Arab Saudi, Jepang atau bertahan dengan UMR yang naiknya malu-malu kucing.

Banyak anak muda Cirebon yang terjebak di persimpangan jalan. Mau dibilang modern, fasilitas penunjang kreatifnya masih minim. Mau dibilang tradisional banget, pengaruh budaya luar udah masuk lewat gawai dan media sosial saban hari. Hasilnya? Ya jalan di tempat, serba nanggung.

”Priwen Gebrage”, filosofi krisis orang Cirebon

Nah, di sinilah mentalitas khas orang Cirebon berperan penting. Di tengah gegap gempita kemajuan semu dan realitas hidup yang kadang bikin elus dada, mereka punya senjata pamungkas: ungkapan pasrah tapi santai, “priwen gebrage”.

Bukan berarti warga Cirebon itu malas atau YOLO saja tanpa usaha. Bukan. Orang Cirebon terkenal gigih, ulet, dan pekerja keras. Coba lihat mas-mas penjual es cuwing, gonjing, bolu putu, bahkan plendungan. Keringat mereka nggak pernah bohong.

Hanya saja, mereka sadar betul kalau hidup nggak bisa cuma dilawan pakai amarah atau ambisi yang kelewat tinggi. Kalau proyek pembangunan ngantuk, ya disyukuri jalannya masih bisa dilewati. Kalau dagangan lagi sepi karena hujan atau banyak yang di-PHK, ya sedot napas sing jero, lalu dibikin gemuyu karo guyonan sambil ngopi di warung.

Ada semacam ketahanan mental yang luar biasa di balik gaya santai mereka. Hidup di Cirebon mengajarkan kita buat nggak usah terlalu ngoyo mengejar standar kesuksesan orang kota besar yang melelahkan.

Kuliner dan filosofi Cirebon yang mantep

Untungnya, Cirebon punya satu hal yang nggak pernah gagal bikin orang betah atau setidaknya melupakan sejenak keruwetan hidup: kulinernya yang juara dan suasana daerahnya yang nggak sepanik Jakarta.

Mau stres kayak gimana pun mikirin cicilan atau masa depan, seporsi nasi lengko dengan telor dadar, seketika bisa bikin hati adem. Harganya juga masih masuk akal buat ukuran kantong kebanyakan orang. Belum lagi keramahan khas warganya.

Ngobrol sama tukang parkir atau penjual warung kopi di pinggir jalan sering kali ngasih perspektif baru tentang hidup: bahwa bahagia itu ternyata sederhana, nggak harus nunggu jadi kaya raya di kota Metropolitan.

Cirebon mungkin adalah sebuah paradoks. Wilayah yang dari jauh kelihatan gagah, maju, dan penuh potensi ekonomi raksasa, tapi pas dideketin ternyata menyimpan sejuta gumaman sosial yang rumit.

Tapi ya mengkenen Cirebon dengan segala pesona dan kekurangannya. Kota yang bikin keder di awal karena penampilannya yang sok sibuk, tapi pada akhirnya bikin kita maklum dan cuma bisa bilang, “Priwen gebrage, dinikmati dan disyukuri saja.”

Penulis: Muhamad Safiq
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kota Cirebon Cocok untuk Orang-orang Mager yang Ingin Berwisata

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2026 oleh .

Muhamad Safiq

Seorang lelaki yang bercita-cita menjadi kepala suku di dunia pendidikan, pemerintahan. Hobi makan empal.