Informasi
ADVERTISEMENT

Eskalator Stasiun Duri rusak nggak bikin saya kaget, memang kualitas eskalator stasiun KRL itu nggak bisa dibilang bagus

Eskalator Stasiun Duri rusak nggak bikin saya kaget, memang kualitas eskalator stasiun KRL itu nggak bisa dibilang bagus

Belum lama ini, ada malafungsi fasilitas yang mencelakakan pengguna KRL di Stasiun Duri. Tepatnya, berhubungan dengan eskalator yang error, lalu berjalan mundur. Eskalator yang error merupakan akses ke peron jalur 5 untuk menunggu KRL tujuan Tangerang.

Sebagai anker lama yang sudah menyambangi berbagai stasiun, saya nggak kaget. Kebanyakan eskalator memang terasa rapuh. Terutama, eskalator yang baru dibangun sekitar tahun 2018 ke atas. Pegangannya terasa tipis dan nggak kokoh.

Bahkan sering kali, saya merasa tangan saya seperti terbawa ke bawah saat memegang handrail. Sementara, badan saya yang berdiri diam di atas tangga, terbawa sesuai arah eskalator berjalan.

Kalau nggak hati-hati, mungkin saya bisa jatuh. Masalah eskalator ini nggak cuma di satu stasiun, kejadian ini saya rasakan saat naik eskalator di beberapa stasiun berbeda.

Eskalator Stasiun Duri nggak bisa digunakan bukan cuma sekali dua kali

Saya nggak setiap hari naik KRL dari Stasiun Duri. Sesekali aja kalau pas mau ke arah Stasiun Tangerang, saya transit di Stasiun Duri. Walaupun termasuk jarang ke sana, tapi pemandangan eskalator rusak ke peron jalur 5 sudah cukup biasa saya dapati.

Eskalator yang rusak, mengharuskan saya menggunakan tangga. Padahal, saya selalu ke sana bersama ibu saya yang sudah lansia. Yang mana dengan adanya eskalator, kondisi beliau yang sudah berumur sangat terbantu.

Kalaupun eskalatornya bisa digunakan, saya agak waswas. Nggak dimungkiri, saya bisa merasakan kondisi eskalator di sana kurang baik. Apalagi, orang yang naik eskalator menuju peron 5 di Stasiun Duri selalu banyak di saat yang bersamaan. Hampir selalu penuh, walaupun bukan jam-jam sibuk. Sehingga, beban eskalator sudah pasti berat.

Eskalator rusak sudah pemandangan biasa

Bukan cuma di Stasiun Duri. Eskalator nggak bisa digunakan itu sudah seperti piket. Berganti-gantian aja rusaknya. Eskalator Stasiun Klender juga pernah ditutup aksesnya dan nggak bisa digunakan. Entah ada kerusakan apa.

Kalau di Stasiun Klender, saya lebih sering menggunakan lift dibandingkan eskalator. Awalnya, karena eskalator sering rusak dan saya terlalu lelah naik tangga. Sampai akhirnya, kalau ke sana saya lebih pilih naik lift saja. Daripada sudah capai-capai mau naik eskalator, eh harus putar balik karena rusak.

Eskalator Stasiun Sudirman yang sudah ada sejak lama terasa lebih kokoh

Kisaran tahun 2015-2020, saya merupakan anker yang sehari-harinya naik turun KRL dari Stasiun Sudirman. Sejauh pengalaman saya, eskalator di stasiun ini terasa paling baik kualitasnya. Meskipun kalau bicara eror dan nggak bisa digunakan, pernah juga terjadi.

Padahal, dibandingkan stasiun-stasiun lain seperti Stasiun Duri dan Klender, eskalator Stasiun Sudirman sudah ada lebih dulu. Sebelum banyak stasiun mulai dibangun bertingkat, di mana penumpang yang mau pindah jalur harus lewat atas, Stasiun Sudirman sudah lebih dulu.

Soal ramai, meskipun bukan stasiun transit seperti Manggarai, Tanah Abang, atau Duri, Stasiun Sudirman terbilang ramai. Terutama di jam-jam sibuk. Yang naik dan turun di stasiun ini didominasi oleh pekerja kantoran.

Eskalator Stasiun Sudirman selalu padat di jam-jam sibuk. Dibandingkan di stasiun lain, orang yang naik eskalator di Stasiun Sudirman juga lebih tahu aturan. Mereka sudah paham kalau bagian kiri untuk diam, sedangkan kanan untuk berjalan naik mendahului.

Saya malah jarang melihat orang menggunakan lift di stasiun ini. Hampir semuanya eskalator. Soalnya, eskalatornya berada di ujung-ujung peron. Sedangkan lift-nya berada di belakang eskalator. Jadi, tentu saja eskalator lebih banyak dipilih karena lebih mudah terlihat dan lebih mudah diakses.

Fasilitas pada akses transum mengalami gangguan adalah hal lumrah. Apalagi, mengingat banyaknya pengguna KRL dalam satu harinya. Nggak selamanya rusak karena kualitas jelek. Yah walaupun pada kebanyakan stasiun yang saya sambangi, eskalatornya terasa nggak kokoh sih.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal yang Harus Penumpang Ketahui tentang Stasiun Duri, Si Paling Sibuk dan Melelahkan se-Jakarta Barat

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 7 Oktober 2026 oleh .

Arsyindah Farhan

Tukang kue yang suka menuangkan unek-uneknya lewat tulisan. Kuliah keguruan, tapi akhirnya lebih pilih bisnis home made biar bisa menemani ibu di rumah.