Informasi
ADVERTISEMENT

Alasan anak rantau enggan tinggal gratis di rumah saudara, lebih memilih ngekos meski harus keluar biaya

Alasan anak rantau menghindari tinggal gratis di rumah saudara, lebih memilih ngekos meski harus keluar biaya Mojok.co

Kalian pilih tinggal di kos atau menumpang di rumah saudara? 

Seorang kawan pernah sambat tentang anaknya. Dia bingung karena si anak ingin kuliah di Bandung. Hal itu jelas bertentangan dengan keinginan kawan saya yang menginginkan anaknya kuliah di Semarang. 

Pertama, Semarang lebih dekat daripada Bandung. Kedua, ada banyak saudara yang tinggal di Semarang. Jadi, bisalah nanti tinggal di rumah saudara saja. Kan lumayan, bisa menghemat ongkos bulanan.

Keberadaan sanak saudara di tanah rantau memang seringkali dianggap sebagai penyelamat. Dengan adanya saudara, ada sosok yang bisa dimintai bantuan ketika terjadi sesuatu yang darurat. Bahkan, bisa jadi tempat tujuan untuk tinggal, seperti yang kawan saya rencanakan.

Meski demikian, sebagian orang ternyata lebih suka tinggal sendiri atau ngekos daripada tinggal di rumah saudara. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam, menguras tabungan, bahkan memangkas jatah jajan bulanan demi bisa hidup mandiri di kosan. Tentu saja, keputusan membuang uang ini diambil bukan tanpa alasan yang masuk akal.

Tinggal di rumah saudara seperti dimata-matai

Bagi orang tua, menitipkan anak di rumah saudara dianggap sebagai keputusan yang terbaik. Ada semacam keyakinan bahwa anak mereka berada di tangan yang tepat. Misal pun terjadi apa-apa, tiba-tiba sakit saat di rantau misalnya, akan ada keluarga yang sigap membantu.

Sekarang, coba posisikan diri dari sudut pandang anak yang menumpang hidup. Dari POV mereka, tinggal di rumah saudara sering kali jauh dari kata nyaman.

Rumah saudara mungkin lebih besar daripada kamar kosan yang hanya sepetak itu. Tinggal di rumah saudara juga ada jaminan bisa makan 3 kali sehari. Namun, kenikmatan itu terasa semu ketika berhadapan dengan fakta betapa sempitnya ruang gerak psikologis saat tinggal di rumah saudara.

Mau beraktivitas jadi serba canggung, pulang malam sedikit merasa bersalah, hingga dibayangi perasaan risih seolah gerak-geriknya diawasi oleh pemilik rumah. Padahal mungkin nggak ‘diawasi’ yang gimana-gimana, ya. Tapi, tetap saja, tidak bebas di rumah saudara itu fakta.

Muncul perasaan tidak enak saat tinggal di rumah saudara

Selain tidak bebas, tinggal di rumah saudara saat di perantauan juga memunculkan perasaan tidak enak yang berkepanjangan. Wajar, mengingat keberadaan kita di rumah tersebut pasti akan menambah beban ekonomi. Mulai dari tambahan air, listrik, hingga urusan dapur. Mau nggak mau, harus tahu diri.

Pakai air jangan banyak-banyak, kipas angin di kamar nyala seperlunya saja, ada ayam goreng di meja makan jangan asal comot, dsb. Kudu ati-ati banget pokoknya. Termasuk soal kepekaan yang harus disetel maksimal. Mau secapek apapun, kalau lihat omnya lagi sibuk beresin gudang atau tante lagi masak besar karena mau ada arisan, ya bantuin.  bantuin.

Belum kalau bicara soal utang budi. Bukankah setiap hutang itu wajib dibayar? Termasuk hutang budi. Maka, makin menumpuklah beban psikologis di pundak di penumpang.

Tidak semua saudara itu baik

Alasan kuat lain kenapa beberapa orang enggan tinggal di rumah saudara saat di perantauan adalah karena sudah hafal betul karakter si pemilik rumah. Jadi, ya, baru membayangkan bakal satu atap saja rasanya sudah malas.

Soal ini, saya jadi ingat dengan pengalaman kawan saya. Dia lebih memilih untuk mengeluarkan uang ratusan ribu untuk ngekos daripada tinggal dengan saudaranya. Padahal, saudaranya ini punya banyak kamar kosong yang bisa dia tempati. Ketika saya tanya apa alasannya, dia bilang dia tidak tahan dengan tabiat saudaranya yang hobi mengungkit kejelekan orang tuanya di masa lalu.

Kawan saya tahu orang tuanya bukanlah orang yang sempurna. Tapi, anak mana yang bisa tahan ketika orang tuanya dijelek-jelekkan? Itu sebabnya dia putuskan untuk ngekos. Bagi kawan saya, lebih baik dicap sombong atau dituduh medot seduluran (memutus silaturahmi) daripada tiap hari harus mendengar orang yang paling dihormatinya dihina di depan matanya sendiri.

Seringkali jadi korban suruh-suruh

Terakhir, ada satu momok klasik yang paling dihindari anak rantau, korban suruh-suruh.

Entah kenapa, tinggal di rumah saudara (apalagi untuk jangka waktu yang cukup lama) mirip-mirip simulasi kerja rodi. Baru juga sampai rumah setelah seharian lelah kuliah atau bekerja, titah pertama sudah turun, tolong jaga keponakan.

Nanti setelah jagain keponakan, baru mau meluruskan kaki, turun titah untuk mengangkat jemuran, menyapu lantai, mengepel, hingga membuang sampah. Curiga banget pemilik rumah punya semacam radar khusus yang bisa mendeteksi waktu santai kita. Buktinya, tiap kali bisa bernafas lega dikit aja, perintah langsung turun. Capek banget pokoknya. Mau nolak gimana? Lha wong numpang.

Pada akhirnya, mau sebesar apapun rumah saudara, sedekat apapun jaraknya dengan kampus atau tempat kerja, menumpang tinggal bukanlah keputusan yang wajib diambil oleh para perantau. Para perantau berhak menentukan hidupnya sendiri. Itu normal. Bukan bentuk kesombongan apalagi upaya untuk memutus tali silaturahmi.

Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Punya rumah dekat kantor justru tersiksa, sering direpoti kolega dan tidak ada romantisme perjalanan pulang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

 

Terakhir diperbarui pada 12 September 2026 oleh .

Dyan Arfiana Ayu Puspita

Alumnus Universitas Terbuka yang bekerja sebagai guru SMK di Tegal. Menulis, teater, dan public speaking adalah dunianya.