Ditengah keadaan politik yang belakangan ini semakin memusingkan,kegiatan kenduri di salah satu rumah tetangga jadi tempat pelarian. Di sana saya menemukan ketenangan. Bukan karena sambutan tokohnya, bukan pula karena doa-doanya.
Saya justru menemukan ketenangan dari perbincangan hangat antar bapak-bapak yang kenduri. Setelah acara selesai, mereka duduk melingkar, ngobrol, dan menikmati kopi. Bahan obrolannya pun nggak muluk-muluk, salah satunya, proses pembuatan tape goreng.
Ikut kenduri dan mendengarkan cara membuat tape goreng
Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benak saya, ikut kenduri yang membahas cara membuat tape goreng jadi pelarian saya dari dunia yang kian memusingkan. Saya ingat betul bagaimana para bapak-bapak ini membahas tape goreng yang harus dipegang pakai tangan berkali-kali tanpa kita tahu kebersihan pembuatnya.
“Bayangkan, pertama, setelah dikupas singkongnya cuci pakai tangan. Kedua : saat akan mengukus singkongnya juga dipegang pakai tangan untuk memasukkan ke panci,” kata salah satu bapak-bapak.
“Ketiga, setelah matang, mengangkatnya juga pakai tangan. Keempat. saat memisahkan seratnya juga pakai tangan. Kelima, saat menekan-nekan membentuk bulat seperti ini juga pakai tangan. Keenam saat memasukkan ke wajan untuk digoreng juga pakai tangan,” lanjut dia.
Dengan penuh semangat, beliau meneruskan hingga langkah terakhir, langkah ketujuh. Di mana tape goreng diletakkan di piring menggunakan tangan. “Setidaknya minimal sudah tujuh kali kan tape goreng ini dipegang pakai tangan oleh pembuatnya untuk dimakan,” tutup dia.
Mendengar penjelasan itu seluruh bapak-bapak yang ada di ruangan bukan merasa jijik, tapi semua yang datang kenduri malah tertawa terbahak-bahak mendengarkannya.
Bapak-bapak yang lain tak mau kalah ingin ikut mendetailkan pernyataan yang pertama. Mulai dari membayangkan bagaimana pembuat tape harus ke toilet dulu sebelum seluruh proses tadi hingga bagian kelupaan mencuci tangan. Imajinasi yang terlalu mendetail itu membuat bapak-bapak lain terbahak-bahak. Suasana menjadi lebih hangat dan cair.
Obrolan ringan yang menjadi jeda
Saya memperhatikan obrolan kenduri itu beberapa saat. Tidak ada yang menyebut nama presiden, tidak ada yang membicarakan DPR, tidak ada yang membahas perampasan aset, korupsi bupati, apalagi survei elektabilitas pejabat.
Dari sini saja jadi paham, mungkin negara boleh saja gaduh. Tapi, bapak-bapak ini punya urusan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan mereka. Bukan berarti mereka tidak peduli dengan kondisi negara saat ini ya. Mungkin mereka juga sedang ambil jeda dari kondisi yang kian memusingkan. Jeda yang diperlukan agar tetap waras menghadapi hari-hari.
Tiap orang mungkin punya “pelarian” masing-masing untuk menghadapi hari-hari yang makin berat dan tetap waras. Ada yang mendalami hobi, kumpul bersama keluarga, hingga plesir. Kalau belum punya alternatif healing, saya sarankan ikut kenduri di lingkungan kalian atau acara sosial lain yang sering membicarakan topik remeh-temeh. Siapa tahu hal sederhana ini bisa menghibur.
Penulis: Arif Kurniawan
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Menggugat Mekanisme Pembagian Ingkung dalam Kenduri yang Tidak Adil.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.