Kita benci betul dengan dunia kerja hari ini, dan ingin hidup tenang macam juragan kos. Tapi agar bisa jadi juragan kos butuh duit miliaran agar bisnisnya bisa jalan. Maju kena, mundur kena
Saya pernah iseng bertanya kepada beberapa teman mahasiswa baru tentang cita-cita mereka. Jawabannya mulia semua dan penuh api semangat. Ada yang ingin jadi diplomat, CEO startup, hingga aktivis HAM yang siap mengubah wajah dunia.
Namun, coba tanyakan pertanyaan yang sama pada mahasiswa semester akhir yang lagi pusing sama skripsinya. Jawabannya biasanya jauh lebih membumi, pragmatis, dan sedikit putus asa: “Gua pengen jadi juragan kos aja.”
Realitas pahit dan indahnya passive income
Pergeseran cita-cita dari yang tadinya ingin menyelamatkan dunia menjadi sekadar mengurus sepuluh pintu kamar ini sebenarnya sangat wajar. Semakin lama kita kuliah, semakin kita sadar bahwa mengubah dunia itu berat, dan bekerja di korporat dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore itu sangat potensial bikin sakit tifus.
Tiba-tiba, konsep passive income terasa seperti bisikan ilahi yang menenangkan jiwa. Sebuah wujud paling nyata passive income di mata mahasiswa bukanlah saham atau kripto yang grafiknya bikin jantungan tiap malam. Wujud paling paripurna dari kemapanan finansial adalah sebidang tanah dengan deretan kamar berukuran 4×3 meter, lengkap dengan fasilitas kasur busa dan kipas angin nempel di dinding. Yak, juragan kos, jauh lebih menjanjikan, dekat, dan (lumayan) masuk akal untuk dijalani.
Kasta tertinggi itu bernama kaos partai dan daster luntur
Coba perhatikan gaya hidup bapak atau ibu kos kita. Mereka adalah bukti nyata bahwa penguasa sejati tidak butuh jabatan super keren berbahasa Inggris untuk terlihat berwibawa. berwibawa. Pekerjaan berat mereka setiap hari hanyalah menyiram tanaman hias di pagi hari, ngobrol dengan tetangga soal gosip terbaru, dan memantau meteran listrik prabayar.
Dengan dress code daster luntur atau kaos partai yang dipadukan celana pendek kolor, mereka memegang otoritas absolut atas hajat hidup orang banyak. Mau kamu aktivis kampus paling vokal, atau ketua BEM kek, di depan ibu kos yang menagih uang sewa tanggal satu, nyalimu pasti ciut.
Telat bayar dua hari? Wi-Fi diputus. Bawa teman menginap tanpa izin? Kena denda dobel. Mereka adalah rezim paling tiran yang pernah ada, tapi anehnya, justru posisi itulah yang diam-diam sangat kita cita-citakan.
Mimpi jadi juragan kos adalah bukti kelelahan massal generasi kita
Kalau dipikir-pikir ya, cita-cita menjadi juragan kos ini sejatinya adalah bentuk kelelahan massal generasi kita. Kita ini generasi yang setiap hari dicekoki hustle culture, disuruh kerja keras bagai kuda, disuruh ikut bootcamp sana-sini agar CV standout. Tapi pada akhirnya, gaji entry-level yang kita dapatkan cuma cukup buat bayar langganan Spotify, jajan kopi susu, dan bayar kos itu sendiri.
Mimpi menjadi bapak atau ibu kos adalah bentuk pemberontakan kita terhadap sistem kerja yang melelahkan dan bikin sakit. Jujur saja, sebenarnya kita nggak peduli-peduli amat dengan manajemen properti. Kita cuma ingin rebahan sampai pegel. Kita ingin merasakan nikmatnya bangun tidur jam sepuluh siang, nagih bayaran kos, lalu kembali tidur nyenyak. Sebuah kehidupan yang mungkin agak parasitik, namun luar biasa damai.
Bagian paling absurdnya justru ada di akhir cerita. Untuk bisa menjadi juragan kos yang kerjaannya cuma rebahan sambil kipas-kipas pakai uang sewa, kamu butuh modal miliaran untuk beli tanah dan bangun rumah. Lalu dari mana uang miliaran itu berasal? Tentu saja dari bekerja banting tulang sampai asam lambung naik, atau yang paling realistis menunggu warisan.
Jadi ya, itulah ironinya. Kita benci betul dengan dunia kerja hari ini, dan ingin hidup tenang macam juragan kos. Tapi agar bisa jadi juragan kos butuh duit miliaran agar bisnisnya bisa jalan. Dan dari mana duit miliaran itu datang? Yak betul.
Penulis: Zain Ahdan
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.