Ada ironi yang sering kali saya temui dalam layanan Commuter Line Dhoho Penataran. PT KAI resmi menjual tiket tanpa nomor tempat duduk, namun sama sekali tidak menyediakan fasilitas berdiri yang layak bagi para penumpangnya.
Di aplikasi Access by KAI, tiket non-seated ini baru dijual setelah kursi habis. Kuotanya lumayan besar, 20 persen dari total kapasitas. Dengan jumlah kursi yang mencapai seribu lebih dalam sekali jalan, artinya ada ratusan penumpang yang harus pasrah berdiri sepanjang perjalanan.
Kereta lokal ini memang harus diakui sangat berarti bagi warga kelas menengah. Harganya super ekonomis, jadwalnya tepat waktu, dan sangat diandalkan pekerja, mahasiswa, hingga pemudik. Masalahnya, ketika kehabisan kursi, opsi “tanpa tempat duduk” ini akhirnya jadi pilihan pasrah yang tak terhindarkan bagi penumpang. Saya adalah salah satunya.
Sebagai penumpang langganan kereta Dhoho Penataran, kalah war tiket dan terpaksa berdiri adalah konsekuensi yang siap saya terima. Namun, rasanya kok tidak adil jika kerelaan penumpang untuk berdiri sama sekali tidak difasilitasi dengan layak oleh pihak pengelola.
Susahnya jadi penumpang kereta Dhoho Penataran tanpa kursi
Demi mengadu nasib, saya terpaksa berjalan menyusuri gerbong demi gerbong sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Percayalah, berjalan di lorong sempit sambil ditatap puluhan pasang mata yang sedang duduk nyaman itu canggungnya minta ampun.
Paling bikin mengelus dada, sesekali saya mendapati ada penumpang kereta Dhoho Penataran yang santai selonjoran di kursi depannya. Saya tidak paham, apakah dia memang membeli tiket ekstra atau sekadar tak tahu diri menguasai kursi sekitar yang sedang kosong. Tapi kalau boleh meminjam kata dari Aqil Husein Almanuri dalam tulisannya di Terminal Mojok, perilaku seperti ini jelas maruk dan egois.
Kalaupun akhirnya menemukan kursi kosong yang benar-benar tak berpenghuni, pikiran saya tetap tidak tenang. Sepanjang jalan saya harus siap-siap kaget kalau pemilik aslinya mendadak datang. Kalau sudah kepepet, saya biasanya mulai mencari peruntungan lain. Area antarpetugas atau gerbong prioritas sering jadi rujukan awal. Tapi ya begitu, ujung-ujungnya hampir pasti ditegur dan disuruh pindah juga oleh petugas.
Setelah semua usaha gerilya mencari kursi kosong itu kandas, masalah paling krusial baru terasa: ketersediaan handgrip alias pegangan tangan di kereta Dhoho Penataran. Berdiri tanpa pegangan di lorong tengah itu menyiksa luar biasa. Tiap kali kereta mengerem mendadak atau sedikit oleng, saya harus refleks mencengkeram sandaran kursi penumpang lain. Jujur saja, ada rasa canggung dan tidak enak hati karena mengganggu kenyamanan orang yang sedang duduk.
Karena situasi di lorong tengah tak lagi kondusif, saya akhirnya menyerah. Saya bergeser ke area border atau sebuah lorong sempit di dekat pintu keluar-masuk kereta dan juga toilet. Tanpa ada opsi tersisa, di titik ini kepasrahan itu sangat diperlukan.
Menetap di lorong sibuk ini benar-benar serbasalah. Saya mesti kuat-kuatan menahan sengatan bau toilet dan gerahnya border, sembari merasa canggung karena membuat penumpang lain kerepotan tiap kali mau lewat. Di sinilah ketimpangan terasa begitu nyata.
Kereta PSO dan batas kelayakan pelayanan yang dilupakan
Sebagai kereta bertarif subsidi (PSO), wajar jika kereta Dhoho Penataran tidak menjual kemewahan. Wajar pula jika penumpang yang membayar harga komersial atau berkursi itu mendapatkan kenyamanan ekstra. Namun, menjual transportasi dasar bukan berarti mengabaikan batas kelayakan pelayanan minimum.
Sederhana saja mengukur aman dan nyaman bagi penumpang berdiri, yaitu adanya kepastian keselamatan dasar. Misalnya, berdiri berjam-jam tanpa handgrip itu bukan lagi soal kompromi naik kereta murah, melainkan pertaruhan keselamatan yang diabaikan. Bagi penerima subsidi, murah seharusnya berarti keterjangkauan akses, bukan pasrah diperlakukan asal-asalan.
Bagaimanapun, penumpang tanpa kursi adalah pengguna jasa KAI yang sah. Kalah berburu tiket memang ada konsekuensinya, tetapi membiarkan penumpang terlunta-lunta tanpa fasilitas berdiri yang layak jelas bentuk kelalaian. Tak perlu muluk-muluk, sediakan handgrip yang memadai di sepanjang lorong dan atur batas area berdiri yang manusiawi. Atau jika PT KAI memang tak sanggup menyediakannya, hapus saja kuota tiket non-seated sekalian.
Penulis: Mohammad Mukarom
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Naik Kereta Api Dhoho Penataran
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.







