Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

Mohammad Mukarom oleh Mohammad Mukarom
29 Juli 2026
A A
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa (Rizal Febri Ardiansyah via Wikimedia Commons)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada ironi yang sering kali saya temui dalam layanan Commuter Line Dhoho Penataran. PT KAI resmi menjual tiket tanpa nomor tempat duduk, namun sama sekali tidak menyediakan fasilitas berdiri yang layak bagi para penumpangnya.

Di aplikasi Access by KAI, tiket non-seated ini baru dijual setelah kursi habis. Kuotanya lumayan besar, 20 persen dari total kapasitas. Dengan jumlah kursi yang mencapai seribu lebih dalam sekali jalan, artinya ada ratusan penumpang yang harus pasrah berdiri sepanjang perjalanan.

ADVERTISEMENT

Kereta lokal ini memang harus diakui sangat berarti bagi warga kelas menengah. Harganya super ekonomis, jadwalnya tepat waktu, dan sangat diandalkan pekerja, mahasiswa, hingga pemudik. Masalahnya, ketika kehabisan kursi, opsi “tanpa tempat duduk” ini akhirnya jadi pilihan pasrah yang tak terhindarkan bagi penumpang. Saya adalah salah satunya.

Sebagai penumpang langganan kereta Dhoho Penataran, kalah war tiket dan terpaksa berdiri adalah konsekuensi yang siap saya terima. Namun, rasanya kok tidak adil jika kerelaan penumpang untuk berdiri sama sekali tidak difasilitasi dengan layak oleh pihak pengelola.

Susahnya jadi penumpang kereta Dhoho Penataran tanpa kursi

Demi mengadu nasib, saya terpaksa berjalan menyusuri gerbong demi gerbong sambil celingak-celinguk mencari kursi kosong. Percayalah, berjalan di lorong sempit sambil ditatap puluhan pasang mata yang sedang duduk nyaman itu canggungnya minta ampun.

Paling bikin mengelus dada, sesekali saya mendapati ada penumpang kereta Dhoho Penataran yang santai selonjoran di kursi depannya. Saya tidak paham, apakah dia memang membeli tiket ekstra atau sekadar tak tahu diri menguasai kursi sekitar yang sedang kosong. Tapi kalau boleh meminjam kata dari Aqil Husein Almanuri dalam tulisannya di Terminal Mojok, perilaku seperti ini jelas maruk dan egois.

Kalaupun akhirnya menemukan kursi kosong yang benar-benar tak berpenghuni, pikiran saya tetap tidak tenang. Sepanjang jalan saya harus siap-siap kaget kalau pemilik aslinya mendadak datang. Kalau sudah kepepet, saya biasanya mulai mencari peruntungan lain. Area antarpetugas atau gerbong prioritas sering jadi rujukan awal. Tapi ya begitu, ujung-ujungnya hampir pasti ditegur dan disuruh pindah juga oleh petugas.

Setelah semua usaha gerilya mencari kursi kosong itu kandas, masalah paling krusial baru terasa: ketersediaan handgrip alias pegangan tangan di kereta Dhoho Penataran. Berdiri tanpa pegangan di lorong tengah itu menyiksa luar biasa. Tiap kali kereta mengerem mendadak atau sedikit oleng, saya harus refleks mencengkeram sandaran kursi penumpang lain. Jujur saja, ada rasa canggung dan tidak enak hati karena mengganggu kenyamanan orang yang sedang duduk.

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Karena situasi di lorong tengah tak lagi kondusif, saya akhirnya menyerah. Saya bergeser ke area border atau sebuah lorong sempit di dekat pintu keluar-masuk kereta dan juga toilet. Tanpa ada opsi tersisa, di titik ini kepasrahan itu sangat diperlukan.

Menetap di lorong sibuk ini benar-benar serbasalah. Saya mesti kuat-kuatan menahan sengatan bau toilet dan gerahnya border, sembari merasa canggung karena membuat penumpang lain kerepotan tiap kali mau lewat. Di sinilah ketimpangan terasa begitu nyata.

Kereta PSO dan batas kelayakan pelayanan yang dilupakan

Sebagai kereta bertarif subsidi (PSO), wajar jika kereta Dhoho Penataran tidak menjual kemewahan. Wajar pula jika penumpang yang membayar harga komersial atau berkursi itu mendapatkan kenyamanan ekstra. Namun, menjual transportasi dasar bukan berarti mengabaikan batas kelayakan pelayanan minimum.

Sederhana saja mengukur aman dan nyaman bagi penumpang berdiri, yaitu adanya kepastian keselamatan dasar. Misalnya, berdiri berjam-jam tanpa handgrip itu bukan lagi soal kompromi naik kereta murah, melainkan pertaruhan keselamatan yang diabaikan. Bagi penerima subsidi, murah seharusnya berarti keterjangkauan akses, bukan pasrah diperlakukan asal-asalan.

Bagaimanapun, penumpang tanpa kursi adalah pengguna jasa KAI yang sah. Kalah berburu tiket memang ada konsekuensinya, tetapi membiarkan penumpang terlunta-lunta tanpa fasilitas berdiri yang layak jelas bentuk kelalaian. Tak perlu muluk-muluk, sediakan handgrip yang memadai di sepanjang lorong dan atur batas area berdiri yang manusiawi. Atau jika PT KAI memang tak sanggup menyediakannya, hapus saja kuota tiket non-seated sekalian.

Penulis: Mohammad Mukarom
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Penderitaan yang Saya Rasakan Saat Naik Kereta Api Dhoho Penataran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: kereta dhoho penataranKereta PSOkereta subsiditiket kereta tanpa kursi
Mohammad Mukarom

Mohammad Mukarom

Seorang penyiar radio yang lagi doyan nulis artikel opini dan sedang membangun minat baca lewat tulisan-tulisan di Mojok.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal Mojok.co

3 hal yang mendorong saya meninggalkan Alfagift dan beralih Klik Indomaret walau lebih mahal

26 Juli 2026
Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

Sebaiknya para pejabat berhenti bawa-bawa Jawa Timur untuk tameng atas gaya bicara yang arogan

23 Juli 2026
5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi Mojok.co

5 Dosa tukang cukur Madura yang bikin pelanggan risih dan kapok balik lagi

23 Juli 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

In this economy, cuma Point Coffee yang masih masuk akal untuk dibeli karena promonya bejibun

26 Juli 2026
Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

25 Juli 2026
Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

Saya kapok pakai tumbler mahal yang tahan panas dingin, mendingan tetap setia pakai botol Tupperware jadul kesayangan Ibu

29 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.