Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Supriyadi oleh Supriyadi
6 Juni 2026
A A
Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan

Orang Kampung yang Punya Jabatan di Tempat Kerjanya Sering Lupa kalau Tetangga di Tempat Tinggalnya Bukan Bawahan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu fenomena yang menurut saya menarik sekaligus agak menggelikan di kampung: orang yang makin tinggi jabatannya di tempat kerja, kadang justru makin sulit kembali menjadi warga biasa.

Saya tidak sedang bicara soal semua orang. Banyak juga orang yang jabatannya tinggi, tapi tetap ringan tangan, masih mau duduk lesehan, dan tetap mau dipanggil dengan nama kecilnya.

ADVERTISEMENT

Hanya saja, ada sebagian yang entah kenapa mengalami perubahan aneh. Di kantor, ia memang punya bawahan karena kedudukannya yang cukup tinggi. Bahkan ia juga punya ruangan sendiri di tempat kerjanya. Juga punya orang yang siap menerima instruksi. Lebih dari itu, ia punya tanda tangan yang menentukan nasib berkas orang lain.

Masalahnya muncul ketika kebiasaan itu ikut dibawa pulang ke kampung atau tempat tinggalnya. Padahal, kampung bukan kantor.

Ketika jabatan dibawa pulang ke tempat yang tidak seharusnya

Di kantor mungkin ia adalah kepala bidang, kepala divisi, atau pejabat yang kalau masuk ruangan semua orang langsung berdiri dan menyiapkan catatan. Tapi, begitu sampai kampung, anehnya sebagian orang masih membawa suasana itu.

Musyawarah warga terasa seperti rapat dinas. Ngobrol santai berubah jadi sesi pengarahan. Usulan tetangga dipotong seperti bawahan yang sedang presentasi. Kalau ada kerja bakti, gaya bicaranya seperti membagikan disposisi.

Yang lebih lucu, kadang bukan cuma cara bicara yang berubah, tapi juga ekspektasinya. Ia mulai berharap diperlakukan berbeda. Kalau ada acara warga, berharap diprioritaskan. Kalau usulannya tidak diterima, merasa tidak dihargai. Jika ada orang yang berani berbeda pendapat, langsung dianggap kurang sopan.

Padahal tetangganya bukan staf administrasi. Tetangganya juga tidak menerima SK yang mengharuskan mereka mengangguk.

Baca Juga:

Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Saya sering merasa, sebagian orang terlalu lama hidup di tempat yang membuat pendapatnya selalu didengar sampai lupa rasanya menjadi orang biasa. Padahal, kedudukannya di kampung bahkan sejatinya ia tak lebih tinggi dari ketua RT yang profesinya mungkin sekadar pedagang di pasar atau petani.

BACA JUGA: 4 Hal yang Bisa Dibanggakan Orang yang Tinggal di Kampung pada Penghuni Perumahan

Kampung tidak mengenal struktur organisasi

Hidup di kampung sebenarnya sederhana, status sosial tidak selalu bekerja sebagaimana di kantor. Kampung lebih egaliter, jika misal ada hierarki pun, amat kecil disumbang oleh jabatan seorang warga di pekerjaannya.

Hierarki justru lebih sering ditentukan oleh seberapa dermawan dan berguna orang tersebut di kampung. Percayalah, orang yang punya banyak kemampuan seperti bisa memperbaiki pipa, listrik, tembok retak, punya “kasta sosial” yang lebih tinggi.

Seseorang yang punya akhlak baik, ringan tangan, juga berada di tingkat yang berbeda. Itu sebabnya banyak orang kampung sebenarnya tidak terlalu terkesan pada jabatan. Mereka lebih menghormati perilaku.

Perlu diingat juga, di kampung, relasi sosial tidak dibangun dari struktur komando. Sebab, kita-kita ini adalah tetangga, bukan staf.

Jabatan tinggi tidak selalu membuat orang jadi besar

Saya kadang berpikir, mungkin tantangan terbesar dari seseorang yang punya jabatan bukan saat memimpin kantor. Itu justru bagian yang paling mudah.

Yang lebih sulit adalah tetap bisa menjadi warga biasa setelah terbiasa dihormati setiap hari. Sebab ada perbedaan besar antara dihormati karena posisi dan disukai karena kepribadian. Yang pertama bisa hilang saat pensiun. Yang kedua sering bertahan jauh lebih lama.

Mungkin itu sebabnya saya selalu kagum pada orang-orang yang jabatannya tinggi tapi kalau pulang kampung masih mau ikut duduk di gardu, ikut mengangkat kursi hajatan, dan tidak merasa harga dirinya turun hanya karena tidak ada yang memanggil “Pak”.

Semakin lama saya hidup, saya mulai sadar: Tidak semua orang yang berhasil secara karier berhasil secara sosial. Ada yang pandai memimpin kantor tapi gagal menjadi tetangga.

Padahal pada akhirnya, kantor punya jam pulang. Sedangkan kampung adalah tempat kita kembali. Dan ketika kembali, tidak semua orang ingin bertemu atasan. Kadang mereka hanya ingin bertemu sesama manusia.

Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Jarang Srawung karena Lingkungannya Toxic dan Pemikirannya Jalan di Tempat!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 Juni 2026 oleh

Tags: jabatan dalam pekerjaankampungkehidupan di desakehidupan di kampung
Supriyadi

Supriyadi

Seorang yang lahir di Bantul bagian selatan, berdomisili di Bantul bagian utara, dan ber-KTP Cirebon.

ArtikelTerkait

Culture Shock Saya Sebagai Orang Kota Jakarta yang Pindah ke Kampung: Apa-apa Murah, tapi Jadi Orang Nggak Enakan

Culture Shock Saya Sebagai Orang Kota Jakarta yang Pindah ke Kampung: Apa-apa Murah, tapi Jadi Orang Nggak Enakan

11 Juli 2024
Membayangkan Upin Ipin dan Warga Kampung Durian Runtuh Jadi Tetangga Saya di Bumi Pasundan, Pasti Kampung Nggak Pernah Sepi Mojok.co

Membayangkan Upin Ipin dan Warga Kampung Durian Runtuh Jadi Tetangga Saya di Bumi Pasundan, Pasti Kampung Nggak Pernah Sepi

20 Maret 2024
Hidup di Desa Terkadang Tak Lebih Baik ketimbang Hidup di Kota, Bahkan Bisa Jadi Lebih Buruk

Miskin Dihina, Kaya Dituduh Pesugihan: Dilema Hidup di Desa

22 Oktober 2025
Kalau Orang Sunda Susah Bilang F, Orang di Kampung Saya Susah Bilang W. Sebuah Contoh Dialek Epik! terminal mojok.co

Tipe-tipe Orang Ketika Mengikuti Ronda Malam

5 Desember 2020
Derita Anak Kampung yang Kuliah, Dikira Master of Everything terminal mojok.co

Sebagai Anak Kampung yang Kuliah, Saya Dianggap Master of Everything

15 Oktober 2020
Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

Orang Kampung Berubah Jadi Picky dan Menyebalkan ketika Berhadapan dengan Makanan “Kota”

3 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan Mojok.co

Jadi warga Tegal bukan sekadar soal domisili, tapi ujian mental karena harus menelan kekalahan demi kekalahan

25 Juli 2026
Kayutangan Adalah Sumber Masalah Baru bagi Warga Kota Malang

Orang Malang nggak ada yang suka main ke Kayutangan. Udah macet dan semrawut, desainnya yang meniru Malioboro bikin ilfil

24 Juli 2026
Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

Krisis Identitas wingko babat: jajanan asli Lamongan, dijajah Semarang, dicaplok Jogja

21 Juli 2026
Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian Mojok.co

Simpang Tuwowo Surabaya pantas dijuluki lampu merah paling semrawut, kalahkan lampu merah Pegirian 

25 Juli 2026
Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu Mojok.co

Nasib apes mahasiswa tanggung, susah dapat beasiswa karena kebanyakan untuk mahasiswa kurang mampu

26 Juli 2026
Mustahil Hidup Tentram di Lingkungan Pecinta Sound Horeg Banyuwangi (Pexels) malang

Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg

25 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.