Pada awal tahun 2025, saya sebagai warga Bangunjiwo, sempat menulis mengenai keresahan saya terhadap Jalan Bibis Bantul yang treknya seperti ikut Lava Tour Merapi. Lubang besar di sisi kanan-kiri, belum lagi genangan dan cipratan air yang dihasilkan oleh ban-ban kendaraan yang melintas di sini saat musim hujan. Di sisa penghujung tahun yang sama, Jalan Bibis akhirnya resmi berbenah. Kami, sebagai warga Bangunjiwo Bantul, memulai tahun 2026 dengan aspal jalan yang mulus, tidak lagi ada kerikil berhamburan ke tengah jalan, lubang jalan pun sudah tidak lagi terlihat.
Namun, tentu saja di balik hasil yang bagus itu mesti ada pengorbanan yang besar. Ya, betul, yang kami korbankan saat itu adalah waktu dan kesabaran, pasalnya perbaikan jalan ini memakan waktu sekitar tiga bulan! Bayangkan betapa suramnya tiga bulan yang kami alami!
Perbaikan jalan yang memakan waktu lama bikin pekerja komuter Bantul-Sleman ketar-ketir. Dulu pekerja cukup meluangkan waktu satu jam lebih awal untuk perjalanan. Kini harus berangkat lebih awal lagi karena banyak ruas jalan ditutup untuk perbaikan.
Selama masa perbaikan jalan ini pula, kami yang terbiasa santai lewat jalan utama jadi harus mengulik jalan tikus di sekitar sini. Saya pernah tersesat seperti masuk di hutan karena jalan utama mengalami penutupan. Tersesat nyaris 15 menit menjelang malam dengan kondisi ponsel yang baterainya tinggal 2 persen? Benar-benar mematikan!
BACA JUGA: Bangunjiwo Bantul Problematik: Daerahnya Makin Modern, tapi Infrastruktur Nggak Memadai
Butuh subsidi motor trail
Sebelum kondisinya semulus Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Bantul, aspal di Jalan Bibis benar-benar dikeruk habis, menyisakan tanah, bebatuan dan pasir selama nyaris tiga bulan.
Alhasil, para pengendara yang melintas di sini jadi harus membiasakan diri kelilipan pasir setiap hari. Saat hujan mengguyur, mungkin rasanya pasir tidak akan terlalu pedih di mata, tapi jalan jadi berlumpur dan licin untuk dilalui kendaraan. Jadi, sebenarnya mau cuaca cerah ataupun hujan, sama-sama merepotkan, sih.
Belum lagi kalau membahas spek motor yang digunakan, buat saya pribadi sebagai pengguna motor matic, rasanya benar-benar nggak nyaman bergerak di jalur seperti ini, sebab lebih mudah tergelincir dan peredam kejut motor jadi perlu bekerja ekstra.
Rasanya waktu itu warga Bangunjiwo Bantul benar-benar butuh subsidi motor trail, ya minimal satu motor trail untuk satu keluarga, deh!
Pedagang hilang semua, warga Bangunjiwo Bantul hanya bisa mengandalkan minimarket
Seperti yang saya katakan tadi, karena perbaikan jalannya memakan waktu sekitar tiga bulan, para pedagang yang sudah biasa mangkal di sepanjang Jalan Bibis itu jadi “tergusur”. Pelebaran aspal membuat sisi trotoar jadi mengecil, alhasil para pedagang ruang geraknya juga makin terbatas.
Hilangnya para pedagang ini bikin Jalan Bibis sedikit banyak jadi kehilangan nyawanya. Pasalnya, orang-orang yang kerap ke sini, ya untuk cari jajan sore.
Selain itu, warga sekitar juga merasa kesulitan untuk cari cemilan karena nyaris semua penjual jajanan menghilang, mulai dari cilok sampai martabak. Alhasil, satu-satunya tempat yang bisa dituju untuk cari jajan, ya minimarket saja.
Namun, tiga bulan yang suram itu sudah terlewati. Kini saya sudah bisa angkat dagu dan umuk ke teman-teman bahwa jalan di sekitar rumah saya sudah mulus lagi!
Namun, agaknya karena pandangan ke Bantul masih buruk, mereka sampai kini masih kerap melontarkan guyonan bahwa tinggal di Bangunjiwo seperti menjalani program KKN mahasiswa, wes angel!
Penulis: Cindy Gunawan
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 3 Alasan Tinggal di Bangunjiwo Bantul Semakin Tidak Nyaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

















