Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Mempertanyakan Sertifikasi CHSE dari Sudut Pandang Pengelola Hotel

Dessy Liestiyani oleh Dessy Liestiyani
30 Januari 2022
A A
Mempertanyakan Sertifikasi CHSE dari Sudut Pandang Pengelola Hotel terminal mojok.co

Mempertanyakan Sertifikasi CHSE dari Sudut Pandang Pengelola Hotel (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

“Siap-siap, ya, Bapak dan Ibu. Nanti hotel Bapak dan Ibu akan kedatangan petugas CHSE.”

Pesan singkat dalam grup itu bikin saya tertegun. Petugas apalagi ini? Memasuki bulan terakhir di 2020 saat itu, sebagai pengelola hotel di kota wisata, otak saya lagi rudet membayangkan bakal seperti apa okupansi di akhir tahun nanti? Ramaikah? Atau masih senyap seperti Lebaran kemarin? Mikirin ada atau tidaknya cuti bersama saja sudah bikin mumet. Eh, ketambahan lagi deg-degan bakal didatengin petugas CHSE. Saat itu saya lagi blank, bingung, dan cemas. Tidak ada bayangan sama sekali, itu aparat mau ngapain?

Akhirnya saya teringat, beberapa waktu lalu saya memang mendaftarkan usaha saya secara online untuk mendapatkan sertifikasi CHSE ini. CHSE sendiri merupakan program penerapan standar protokol kesehatan dari Kemenparekraf terkait cleanliness (kebersihan), health (kesehatan), safety (keamanan), dan environment sustainably (kelestarian lingkungan). Sasarannya, para pelaku usaha di industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Bidang usaha saya, perhotelan, jelas menjadi salah satu targetnya.

Tidak ada bayangan sama sekali bagaimana saya harus menjalani sertifikasi ini. Ketika waktunya sang petugas datang, seperti deja vu. Prosesnya mengingatkan saya pada ospek kampus. Saat itu, saya harus mampu menyiapkan ini-itu dalam waktu yang cepat. Ternyata, protokol kesehatan yang distandarkan mereka sangat buanyaaak! Penggunaan masker, penyediaan tempat cuci tangan, dan pengukuran suhu tubuh bisa dibilang hanya sebagai introduction.

Awalnya saya berasumsi bahwa sertifikasi CHSE ini dilaksanakan terkait mewabahnya virus Covid-19. Dengan memiliki sertifikasi CHSE, diharapkan konsumen pun merasa aman dan nyaman selama menggunakan produk dan jasa dari pelaku usaha di masa pandemi. Oke, saya bisa memahami hal itu. Harapan saya sederhana saja sebenarnya. Siapa tau dengan sertifikasi itu hotel saya bisa memiliki nilai plus yang dipertimbangkan oleh segelintir calon tamu hotel. Nggak munafik, saat itu kami benar-benar sedang “rebutan” tamu.

Namun kenyataannya, sang petugas juga memeriksa hal-hal yang menurut saya nggak ada hubungannya sama sekali dengan pandemi. Contohnya, beliau meminta hotel saya untuk melengkapi beberapa sign yang sebenarnya sudah ada, tapi mungkin dianggap kurang. Seperti sign dilarang merokok, stiker imbauan untuk menghemat air dan energi, atau sign jalur keluar. Tidak hanya itu, genset, Alat Pemadam Api Ringan (APAR), sampai sistem pembuangan air limbah pun ternyata tak luput dari pemeriksaannya.

Sebenarnya, sebatas apa sih ruang lingkup CHSE ini? Kalau memang genset, APAR, dan pembuangan limbah menjadi wewenang CHSE juga, apakah itu berarti dinas terkait tidak akan melakukan pemeriksaan lagi? Pasalnya selama ini, masing-masing perangkat diperiksa secara berkala oleh dinas yang berbeda-beda. Genset dan perlistrikan misalnya, menjadi tugas dari dinas tenaga kerja untuk memeriksanya. Pembuangan air limbah menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup, sementara Dinas Pemadam Kebakaran yang rutin “mengurusi” APAR.

Terus sekarang ada CHSE pula. Sebelumnya, sudah terlalu banyak aturan yang dikirimkan kepada para pengelola hotel terkait pandemi ini. Mulai dari SOP yang dikeluarkan Kemenkes, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kota, sampai PHRI (organisasi yang menaungi hotel-hotel di Indonesia) pun nggak mau kalah. Kalau diperhatikan, ada beberapa poin yang berbeda di masing-masing SOP tersebut. Contohnya, ada yang mewajibkan memakai sarung tangan, ada yang tidak. Ada juga yang mewajibkan memakai face shield, ada juga yang cukup sekadar masker. Lha terus kalau “nggak kompak” gitu, yang mana yang harus dipegang?

Baca Juga:

Konten tidak tersedia

Di tengah kebimbangan itulah sertifikasi CHSE ini hadir. Sukses bikin saya makin bingung. Apalagi setelah mengalami sendiri bagaimana prosesnya. Kalau memang hal-hal seperti genset dan limbah pun diperiksa, kok sepertinya dalam CHSE, pandemi ini sekadar menjadi “tempelan”, ya? Saya jadi bertanya-tanya, sebenarnya tujuan standarisasi ini buat apa? Apakah untuk standarisasi minimum pelayanan hotel, untuk kepentingan konsumen, atau untuk kepentingan “yang mana”?

Sahabat saya yang suka travelling mengatakan bahwa CHSE memang sejatinya menjadi pertimbangan kala memutuskan untuk menginap di suatu tempat. Namun, sertifikasi ini bukanlah hal yang esensial bagi dirinya. Ia lebih menjadikan referensi, ranking, review, dan komentar orang-orang di media sosial sebagai pertimbangan utamanya. Bahkan ia lebih memilih pergi ke tempat favoritnya walaupun tempat tersebut tidak memiliki sertifikasi CHSE, dibandingkan pergi ke tempat lain yang bersertifikat.

Sejak disosialisasikannya sertifikasi CHSE ini ke publik, hotel saya sendiri sebenarnya juga tidak menjumpai tamu yang menanyakan keberadaan sertifikasi CHSE ini secara langsung. Tapi bisa jadi, hal yang berbeda ditemui untuk tamu yang memesan kamar hotel secara online. Beberapa Online Travel Agent (OTA) membuat campaign CHSE ini dalam berbagai bentuk. Namun intinya sama, jaminan keamanan dan kenyamanan tamu selama menginap di beberapa mitra hotelnya dengan melabeli “clean” atau sejenisnya. Entahlah seberapa efektif campaign ini berhasil memikat konsumennya.

Sahabat saya yang lain mengakui bahwa CHSE ini bikin jiwanya tenang. Kalau situasinya sedang “genting” dan ia diharuskan bepergian, ia akan mantap memilih hotel yang bersertifikasi CHSE. Namun, kalau situasinya dirasa membaik seperti akhir tahun lalu, ia tidak peduli dengan sertifikat CHSE ini. Ia lebih memprioritaskan review sebagai pertimbangannya untuk memilih hotel.

Penuturan sahabat saya itu sempat membuat saya berpikir bahwa sertifikasi ini akan “dipandang” oleh konsumsen pada momen-momen tertentu aja, misalnya pada saat kasus covid melonjak. Namun, di kota tempat saya tinggal, sepertinya asumsi itu tidak sepenuhnya benar. Sejak hotel saya dinyatakan “lulus” sertifikasi CHSE, saya belum menemukan satu orang pun tamu yang menanyakan keberadaan sertifikat CHSE ini di hotel.

Sementara kita mengetahui bahwa sepanjang 2021 sampai sekarang, kasus covid naik-turun. Dibandingkan 2020, di 2021 justru okupansi kami agak membaik. Hal ini semakin membuat saya mempertanyakan keefektifan sertifikasi ini di kota saya. Mungkin saja, sertifikasi ini bisa lebih efektif di kota-kota lain seperti Jakarta atau Bali, di mana sebagian besar warganya pun sudah lebih “nurut” prokes. Namun, sertifikasi ini sepertinya tidak “mempan” di kota saya. Alih-alih menanyakan sertifikasi, untuk segmen tertentu “harga kamar” lebih menjadi prioritas mereka.

Lantas, siapa yang nantinya akan menegakkan regulasi ini? Melihat CHSE ini adalah program pemerintah pusat, apakah nantinya walikota yang akan mengawasinya?

Sempat tersiar kabar bahwa sertifikasi ini akan menjadi kewajiban rutin yang harus dipenuhi oleh pengelola hotel. Di 2020 itu, pengurusan ini masih dibebaskan dari biaya. Namun, ke depannya tidak lagi. Efeknya tentu saja, tambah lagi cost yang harus dikeluarkan demi mendapatkan sertifikasi ini. Berkaca pada pengalaman pengurusan sertifikasi sebelumnya, ekstra cost yang harus dikeluarkan untuk memenuhi standart mereka, cukup memberatkan pengurus hotel kecil seperti saya. Nggak heran organisasi PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) sempat menyatakan menolak kewajiban berbayar ini.

Hotel masih terpuruk. Secara data mungkin tingkat hunian terlihat membaik. Namun, jangan salah, room rate yang ditawarkan pun terkoreksi jauh, sampai 40 persen dari harga normal sebelumnya. Ketika pemerintah berusaha untuk menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu, yang mengakibatkan barang dan jasa menjadi high cost, sebenarnya sertifikasi CHSE ini untuk kepentingan siapa? Dari pengalaman saya, tidak semua level masyarakat merasa hal ini perlu. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kebanyakan tamu hotel justru lebih mencari harga murah, dibanding mencari sertifikat CHSE di lobby hotel.

Penulis: Dessy Liestiyani
Editor: Audian Laili

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Januari 2022 oleh

Tags: Pengelola HotelSertifikasi CHSE
Dessy Liestiyani

Dessy Liestiyani

Tinggal di Bukittinggi. Wiraswasta, mantan kru televisi, penikmat musik dan film.

ArtikelTerkait

Konten tidak tersedia
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
Membuka Kebohongan Purwokerto Lewat Kacamata Warlok (Unsplash)

Membuka Kebohongan Tentang Purwokerto dari Kacamata Orang Lokal yang Jarang Dibahas dalam Konten para Influencer

4 April 2026
Naik Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan Mojok.co

Bus Sinar Mandiri Mulya Rembang-Semarang Mengancam Nyawa, Armada Reyot dan Sopir Ugal-ugalan

1 April 2026
Hidup di Desa Nggak Selamanya Murah, Social Cost di Desa Bisa Lebih Mahal daripada Biaya Hidup Sehari-hari karena Orang Desa Gemar Bikin Hajatan

Pindah ke Desa Bukan Solusi Instan Saat Muak Hidup di Kota Besar, apalagi bagi Kaum Introvert, Bisa-bisa Kena Mental

5 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta (Unsplash)

Magelang, Kota Paling Ideal untuk Orang yang Sedang Jatuh Cinta

3 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga
  • Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.