Bagi banyak pengendara jalur Pantura Jawa Tengah, nama Alas Roban bukan sekadar penunjuk lokasi di peta. Ia adalah jalan panjang yang sering dibicarakan dengan nada setengah berbisik, setengah waspada. Membentang di antara Batang dan Kendal, Alas Roban dikenal sebagai kawasan hutan yang sunyi, gelap, dan memiliki karakter jalan yang tidak ramah bagi pengendara yang lengah.
Sebagaimana tempat-tempat yang kerap dianggap bahaya, ada sejumlah larangan tak tertulis yang dipercaya dan dipatuhi banyak orang. Larangan ini bukan sekadar mitos, melainkan hasil akumulasi pengalaman panjang kecelakaan, kelelahan, hingga kejadian aneh yang sering kali berujung penyesalan.
Secara geografis, Alas Roban berada di kawasan perbukitan dengan kontur naik-turun yang panjang. Jalannya berkelok, tanjakan bisa memakan waktu lama, dan pada waktu tertentu kabut turun sangat tebal. Penerangan jalan tidak merata, sementara sinyal komunikasi sering kali menghilang.
Sejarah Alas Roban juga tidak ringan. Kawasan ini sudah dikenal sejak masa kolonial sebagai hutan lebat yang sulit ditembus. Jalan yang kini dilalui kendaraan bermotor dibangun dengan kerja keras dan pengorbanan besar. Jejak sejarah itulah yang membuat masyarakat sekitar memandang Alas Roban bukan hanya sebagai infrastruktur, tetapi juga ruang yang harus dihormati.
Dari situlah muncul berbagai larangan tak tertulis yang diwariskan secara lisan.
Sebisa mungkin, hindari melintasi Alas Roban saat tengah malam
Larangan pertama dan paling sering diingatkan adalah sebisa mungkin hindari melintasi Alas Roban pada tengah malam hingga dini hari. Di jam-jam tersebut, kondisi jalan berada di titik paling rawan.
Lampu jalan minim, lalu lintas sepi, dan cuaca sulit diprediksi. Kabut bisa turun tiba-tiba dan menutup jarak pandang hanya dalam hitungan menit. Jika kendaraan mogok atau terjadi kecelakaan, bantuan tidak mudah datang karena jarangnya pengguna jalan lain.
Dari sisi fisik pengendara, tengah malam adalah waktu paling rentan. Ngantuk, kelelahan, dan menurunnya refleks sering kali menjadi penyebab utama kecelakaan tunggal. Banyak sopir berpengalaman menyebut bahwa melintasi Alas Roban di siang atau sore hari jauh lebih aman dibanding memaksakan diri di malam buta.
Jangan mampir walaupun melihat warung di pinggir jalan
Larangan kedua sering dianggap paling “aneh”, tapi justru paling sering diceritakan: jangan mampir meskipun melihat warung di pinggir jalan, terutama saat malam hari.
Sebagian pengendara mengaku melihat warung kecil yang tampak buka, lengkap dengan lampu menyala. Tapi, warga sekitar menyebut bahwa pada jam larut, hampir tidak ada warung yang benar-benar beroperasi di tengah Alas Roban.
Jika ditarik ke logika keamanan, larangan ini sangat masuk akal. Berhenti di tempat sepi tanpa kejelasan pemilik, tanpa kendaraan lain, dan tanpa sinyal komunikasi adalah keputusan berisiko. Tak sedikit kasus kejahatan bermula dari pengendara yang berhenti di lokasi asing karena kelelahan atau lapar.
Karena itu, warga lokal selalu menyarankan untuk isi tenaga dan kebutuhan sebelum masuk Alas Roban, atau tunggu hingga keluar dari kawasan ini.
BACA JUGA: Buat Saya Jalur Pantura Itu Nggak Serem
Jangan berkata kasar, menantang, atau meremehkan jalan Alas Roban
Larangan ketiga berkaitan dengan sikap dan ucapan. Banyak orang tua di sekitar Alas Roban mengingatkan agar pengendara tidak berkata kasar, menantang, atau meremehkan kondisi jalan.
Cerita mistis sering melekat pada larangan ini, tetapi maknanya lebih dalam. Ucapan kasar biasanya muncul dari emosi, stres, atau rasa terlalu percaya diri. Padahal, jalan seperti Alas Roban membutuhkan ketenangan dan fokus penuh.
Pengendara yang emosional cenderung mengambil keputusan buruk untuk ngebut, menyalip sembarangan, atau memaksakan diri. Larangan ini sejatinya adalah pengingat agar pengendara menjaga pikiran tetap jernih.
Jangan ngebut atau ugal-ugalan
Alas Roban bukan tempat untuk menguji nyali atau kecepatan kendaraan. Tanjakan panjang, tikungan tajam, dan kondisi jalan yang bisa licin membuat ngebut menjadi kesalahan fatal.
Banyak kecelakaan di Alas Roban terjadi bukan karena hal-hal gaib, melainkan karena kesalahan manusia. Kecepatan berlebih, rem panas, atau kehilangan kendali di tikungan. Pengendara yang merasa “sudah hafal jalan” justru sering lengah.
Larangan ini menegaskan satu hal penting di Alas Roban, selamat jauh lebih penting daripada cepat.
BACA JUGA: Desa Penundan, Surga Dunia bagi Sopir Truk dan Bus yang Melewati Jalan Alas Roban
Jangan memaksakan diri saat tubuh sudah tidak prima di Alas Roban
Larangan terakhir berkaitan langsung dengan kondisi fisik pengendara. Jika merasa mengantuk berat, pusing, atau tidak enak badan, jangan memaksakan diri melintasi Alas Roban.
Namun, berhenti pun harus dilakukan dengan bijak. Menepi sembarangan di lokasi gelap justru berbahaya. Warga sekitar menyarankan agar pengendara beristirahat di rest area resmi, SPBU, atau permukiman sebelum memasuki Alas Roban. Banyak kejadian tragis berawal dari niat “sedikit lagi sampai” padahal tubuh sudah tidak mampu melanjutkan perjalanan dengan aman.
Kelima larangan tak tertulis ini sering dibungkus dengan cerita mistis. Namun jika dicermati, semuanya berujung pada pesan yang sama yaitu hati-hati, hormati jalan, dan kenali batas diri.
Masyarakat lokal menggunakan bahasa kepercayaan karena lebih mudah diingat dan ditaati. Di jalur panjang dan rawan seperti Alas ini, pendekatan ini justru menjadi bentuk perlindungan sosial.
Alas Roban bukan jalan yang harus ditakuti, tetapi juga bukan jalan yang bisa disepelekan. Larangan tak tertulis yang dipercaya banyak pengendara adalah hasil dari pengalaman panjang dan pelajaran mahal.
Entah percaya pada mitos atau tidak, mematuhi larangan-larangan ini tidak akan merugikan. Justru sebaliknya ia bisa menjadi pembeda antara perjalanan yang selamat dan kisah penyesalan yang tak perlu terjadi.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Alas Roban Batang dan Kisah Ganjil saat Hendak Menghadiri Pemakaman
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
