Kemajuan dan kecanggihan teknologi memang memberikan banyak kemudahan bagi umat manusia. Termasuk dalam urusan membaca buku. Ya, membaca buku di zaman modern seperti sekarang ini sudah sangat praktis. Tidak melulu beli atau pinjam buku fisik, meminjam buku digital pun kini memungkinkan. Salah satunya melalui aplikasi perpustakaan digital nasional milik pemerintah, iPusnas.
Jujur, saya baru mengunduh aplikasi iPusnas di Play Store seminggu lalu. Ketika baru pertama kali menggunakanya, saya langsung jatuh cinta karena melihat begitu melimpahnya koleksi buku yang ada di perpustakaan digital ini.
Berdasarkan informasi yang saya dapat di website resmi iPusnas disebutkan perpustakaan digital yang dikelola oleh Perpustakaan Nasional Indonesia ini memiliki koleksi 73.302 judul buku dan koleksi salinan e-book sebanyak 891.397.
Menariknya lagi, dari puluhan ribu koleksi judul buku tersebut semuanya bisa diakses secara cuma-cuma alias gratis. Jadi, jika ada buku yang begitu didambakan untuk dibeli namun belum kesampaian juga karena belum ada budget, iPusnas bisa menjadi jawabannya. Seperti saya yang akhirnya bisa juga menikmati buku Laut Bercerita karya Leila S. Chudori tanpa harus mengeluarkan uang sepersen pun duit berkat perpustakaan digital iPusnas ini.
Walau bisa mengakses buku iPusnas gratis, semakin ke sini saya cenderung memilih membeli buku fisik. Ada beberapa alasannya:
#1 Waktu pinjam buku iPusnas sangat singkat
Pertama, batas waktu pinjam buku di iPusnas sangat singkat. Saya tuh sebenarnya tipe orang yang tidak bisa betah berlama-lama ketika membaca buku. Selain karena gampang terdistraksi, membaca buku juga membuat saya cepat mengantuk. Baru satu dua halaman yang dibaca, eh, tiba-tiba saja rasa kantuk datang menyerang tanpa aba-aba. Akhirnya, membaca buku pun terpaksa terhenti.
Hal itulah yang membuat saya jadi lama menyelesaikan satu buku yang saya baca. Itu mengapa, saya langsung merasa tidak cocok dengan iPusnas saat melihat aturan batasan hari meminjam buku di aplikasi ini. Satu buku tidak lebih dari 5 hari.
Sementara, untuk menambah masa pinjaman buku di iPusnas itu juga tidak bisa langsung dan bukunya akan dikembalikan secara otomatis oleh sistem. Terlebih lagi jika buku yang dipinjam waiting list-nya sampai ribuan orang. Dan, kalaupun bisa langsung memperpanjang masa pinjam, tetap saja hal ini belum bisa menjadi solusi jitu bagi saya yang orangnya tidak enakan.
Saya tidak tega melihat orang lain di daftar antrean lama menunggu giliran untuk meminjam buku yang sedang saya pinjam. Saya tidak ingin dituduh sebagai pengguna (baca: pembaca) yang tidak memiliki rasa empati kepada orang lain hanya gara-gara saya memperpanjang masa pinjam buku yang sedang saya baca.
Itu mengapa, biar lebih nyaman dan leluasa, mendingan saya langsung beli buku fisiknya aja sekalian. Tidak apa-apa kalau harus menabung dulu. Paling tidak, dengan memiliki bukunya langsung saya tidak merasa sedang diburu waktu dan tidak perlu memikirkan perasaan orang lain ketika membacanya.
#2 iPusnas sering eror
iPusnas sering eror. Januari lalu, ada tulisan yang terbit di Terminal Mojok yang ditulis oleh Mbak Butet RSM terkait keresahannya terhadap iPusnas yang sering eror. Apa yang dialami oleh Mbak Butet juga saya rasakan. Bahkan, sistem yang eror itu sudah terjadi saat saya baru bikin akun. Untungnya tidak lama setelah itu iPusnas pulih dan akun saya berhasil dibuat.
Akan tetapi, baru dua hari saya gunakan aplikasinya, iPusnas kembali eror. Saat masuk ke aplikasi tidak ada satu pun gambar sampul buku yang terlihat selain lingkaran biru yang berputar-putar. Itu pertanda aplikasi sedang tidak baik-baik saja.
Saya kemudian mematikan koneksi internet dan mengaktifkan mode pesawat, lalu mematikan mode pesawat dan mengaktifkan kembali koneksi internet. Mungkin sinyal di HP saya yang tidak bagus, sehingga aplikasi iPusnas tidak bisa saya buka. Begitu pikir saya.
Akan tetapi, setelah melakukan cara tersebut dan melihat aplikasi lainnya lancar-lancar saja, di titik itulah saya menyadari bahwa bukan sinyalnya perkaranya. Perpustakaan digital yang memang sedang eror. Dan, kalian tahu? Sampai tulisan ini selesai iPusnas belum juga bisa saya buka karena masih eror.
Pemerintah sebagai penyedia aplikasi ini tampaknya tidak benar-benar tulus untuk memberikan bacaan gratis kepada warganya. Melihat iPusnas yang sering eror saya semakin yakin untuk membeli buku fisik saja. Kalau buku fisik paling yang eror adalah orangnya yang memang malas baca.
#3 Boros kuota internet
Sebagai aplikasi daring, iPusnas tentu memerlukan kuota internet untuk bisa menggunakannya. Apalagi kalau mau meminjam buku terlebih dahulu harus diunduh dulu. Bahkan, buku yang dipinjam dan sudah diunduh itu harus diunduh ulang ketika masuk kembali ke aplikasi.
Saya kurang tahu ya apakah ada pengguna lain yang cuma sekali saja mengunduh buku yang ia pinjam. Yang jelas setiap kali masuk ke aplikasi iPusnas, buku yang sudah saya pinjam dan saya unduh sebelumnya harus saya unduh ulang lagi. Hal ini tentu akan menjadi beban tersendiri terutama bagi mereka yang kuota internetnya lagi sekarat di akhir bulan. Walaupun kuota internet yang diperlukan untuk bisa meminjam buku di iPusnas hanya sedikit, tapi, ya, lama-lama, kan, jadi banyak juga. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
Nah, beda halnya jika yang dibeli buku fisik. Biaya yang dikeluarkan hanya sekali doang, yakni pada saat proses transaksi beli bukunya. Setelah itu, bukunya bebas mau kita apakan. Apakah langsung membacanya atau malah melupakannya dan membiarkannya tergeletak di atas meja entah sampai kapan dalam keadaan masih terbungkus plastik.
#4 Beli buku agar bisa punya perpustakaan sendiri
Terakhir, setelah dipikir-pikir lagi, saya mending membeli buku fisik hitung-hitung bisa nyicil mimpi saya memiliki perpustakaan. Kecil juga tidak apa-apa, yang penting koleksi bukunya selalu update. Itu mengapa sejak bekerja dan punya pendapatan sendiri, saya mulai mengupayakan untuk membeli minimal 2 buku dalam sebulan.
Itulah kira-kira alasan saya mengapa lebih memilih membeli buku fisik daripada meminjam buku di iPusnas. Btw, kalian sedang baca buku karya siapa nih di iPusnas? Oh, iya, lupa. Aplikasinya masih eror, ya? Hiks~
Penulis: Riad
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Perpustakaan di Indonesia Memang Nggak Bisa Buka Sampai Malam, apalagi Sampai 24 Jam.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
