4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang “Kalah” dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar Mojok.co

4 Alasan Drama Korea Zaman Sekarang "Kalah" dengan Zaman Dahulu Menurut Saya yang Sudah 15 Tahun Jadi Penggemar (unsplash.com)

Drama korea atau drakor sekarang banyak yang kurang greget, kalian merasakan hal yang sama?  

Sebagai penikmat drama Korea (Drakor) sejak 2010-an, sudah ratusan judul drakor saya tonton. Mulai dari drama di Indosiar, sampai streaming di berbagai situs. Tidak cuma nonton judul yang melegenda seperti Boys Over Flowers dan Reply 1988, saya juga nonton Drakor yang jarang dibahas seperti Dear My Friends dan Be Melodramatic.

Berkebalikan dengan kebanyak orang yang mulai mendalami Drakor, saya malah sudah mulai jarang menontonnya. Beda ketika sebelum 2020, akhir-akhir ini saya cuma nonton 2-5 judul saja. Bahkan, beberapa judul adalah drakor lawas yang tonton ulang. 

Saya lumayan selektif dengan judul-judul drakor baru karena banyak yang kurang greget. Tidak ada jiwanya. Seru sih seru, tapi tak semenarik judul-judul lawas. 

#1 Kini banyak Drama Korea hadir bermusim-musim dan ceritanya terkesan dipanjang-panjangin

Lima tahun belakangan, episode drakor sering kali lebih sedikit. Dari yang umumnya 16 episode sudah paling sedikit, sekarang bisa hanya 6 episode saja. Sedikit sih, tapi banyak musimnya. Selama ada peminatnya dan rating penayangan oke, season lanjutannya muncul. Sudah seperti sinetron Indonesia saja. 

Banyak yang season lanjutannya terkesan seperti cerita yang dipanjang-panjangin. Kalau boleh ambil istilah populer di anime, ibarat kebanyakan filler. Tidak semua film, Drakor, atau sejenisnya perlu cerita lanjutan kalau seru. Bisa saja akan lebih masterpiece kalau berhenti di musim satu. Kalau dari awal diumumkan akan tayang lebih dari satu musim, oke lah. Berarti alurnya memang sudah ada. Hospital Playlist contoh drama korea yang sedari awal sudah mengumumkan akan tayang 3 season, meski pada akhirnya hanya 2 season saja.

Salah satu Drakor yang saya rasa tidak perlu ada season lanjutan adalah Voice. Voice pertama itu penjahat utamanya ikonik banget, berhasil membuat merinding. Jang Hyuk sebagai pemeran utamanya pun sulit sekali tergantikan. Ketika dilanjut dengan aktor utama yang berubah dan cerita yang dilanjutkan sampai 4 seri, nilai keseluruhannya menjadi biasa saja di mata saya. Sedangkan, Drakor yang saya tunggu-tunggu lanjutannya, seperti Signal, Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo, dan Move to Heaven, masih abu-abu apakah dilanjut atau tidak.

#2 Ceritanya variatif, tapi terasa tidak murni

Macamnya memang banyak, tapi drama Korea belakangan ini punya alur yang rasanya tidak seorisinal dulu. Banyak Drakor yang ketika menontonnya seperti dejavu, seperti pernah menontonnya entah di mana. Harus diakui, Drakor sekarang lebih keren-keren dari segi tampilan. Namun dalam segi cerita, sudah pernah ada yang serupa di masa lalu. Meski detailnya beda, tapi mirip-mirip dan inti sari ceritanya sama. Drakor genre kriminal, selalu enggak jauh-jauh dari kisah detektif dan psikopat. Sementara drakor tentang cinta beda kasta, lagi-lagi ceweknya yang biasa saja, sedangkan cowoknya tajir melintir. Drakor sci-fi, kadang ceritanya terlalu di luar nalar, sehingga terlalu sulit dipahami.

Drakor dulu ceritanya banyak yang simpel, eksekusinya lebih sederhana karena keterbatasan teknologi, tapi meninggalkan kesan dalam. Enggak bosan buat ditonton ulang meski sudah berkali-kali. Setidaknya, Drakor-Drakor yang tayang 2020 ke bawah masih worth banget untuk ditonton ulang. Drakor yang rilisnya sudah lebih dari sedekade lalu juga banyak yang lebih menarik. Makanya enggak heran, “Reply 1988” yang notabene sudah 5 tahun lebih rilis pada waktu itu, bisa meledak di Indonesia saat masa pandemik COVID-19.

#3 Banyak aktor yang akting terasa nggak ada perkembangan, bahkan jelek

Banyak Drama Korea sekarang ini yang menggaet idol sebagai pemeran utamanya agar menyita perhatian. memang, tidak semua akting idol buruk, tapi lumayan banyak yang hanya oke visualnya. Sedangkan kemampuan aktingnya, duh masih perlu banyak belajar dan jam terbang. Herannya, ada lumayan banyak idol dengan kemampuan akting yang datar, sudah sering dikritik, tapi masih saja dipakai sebagai peran utama. 

Biasanya idol yang aktingnya bagus, sudah melalui banyak proses. Mereka tidak malu untuk mulai dari peran-peran kecil. Nama-nama idol yang aktingnya bagus ada Do Kyung-soo, Lee Jun-young, Im Si-wan. Banyak juga aktor-aktris yang aktingnya tidak jelek, tapi terasa kosong. Nangis bisa, marah bisa, tapi emosinya tidak berhasil sampai ke penonton. Ironinya, malah pemeran pendukungnya yang aktingnya lebih ciamik dan berkesan. Lagi-lagi karena alasan visual, pemeran pendukung tersebut susah dapat peran utama atau susah sekadar dapat sorotan.

Banyak aktor-aktris yang sudah terkenal pun pemilihan perannya monoton. Mending kalau filmografinya terasa stagnan, ada beberapa yang malah terasa turun kualitasnya. Entah karena tawarannya tidak ada, atau takut ambil risiko. Peran mereka terkesan itu-itu saja. 

Nama yang belakangan sering diperbincangkan soal ini ada Park Min-young. No hate, peran-peran dia sebelum What’s Wrong With Secretary Kim” lebih variatif. Dia pernah memerankan cewek menyamar jadi cowok di Sungkyunkwan Scandal. Pernah berperan menjadi bodyguard perempuan di City Hunter. Dia pernah pula memerankan reporter trauma kekerasan di Healer. Saya masih berharap sekali, Park Min-young bisa comeback Drakor dengan peran yang lebih berani. Bukan melulu peran perempuan karir feminin seperti beberapa judul Drakor terakhirnya.

#4 Banyak drakor yang berujung bikin stres

Banyak drakor sekarang ini macam film horor yang setannya tidak benar-benar tuntas. Banyak yang premis ceritanya bagus, tapi eksekusinya amburadul. Terlalu dipaksakan untuk memuat banyak filosofi. Terlalu ingin terlihat wah, padahal alur ceritanya kurang nyambung. Drama jadi banyak plot hole. Beberapa Drakor juga peran utamanya kelewat polos, bodoh, dan toxic. Bikin gemes dan bawaannya mau maki-maki saja.

Sebagai orang yang lebih suka happy ending, semakin banyak Drakor yang tidak sesuai dengan saya. Kalau ending sedihnya apik dan masih terasa rasional, saya mau nonton dan terima. Bahkan, bisa jadi Drakor yang berkesan untuk saya. Tapi, banyak yang endingnya seperti membuat penonton buang-buang waktu sudah menonton sampai episode terakhir. 

Sebal sekali rasanya kalau harus lihat sebuah perjuangan, eh ujung-ujungnya tetap gagal. Tak hanya itu, di dunia per-Drakor-an sekarang juga mulai banyak yang menerapkan open ending. Penonton jadi nggak bebas menginterpretasikan ending sesuai dengan pemahaman sendiri terkait jalan ceritanya. Masalahnya, banyak open ending yang rasanya terlalu open. Terlalu banyak kemungkinan. Niat hati mau menonton sesuatu biar terhibur, ini malah disuruh mikir lagi.

Terlepas dari alasan-alasan saya, drakor masih menjadi sesuatu yang saya nikmati. Masih ada kok Drakor yang saya rasa bagus, meskipun tidak sebanyak tahun 2020 ke bawah. Yah mungkin hanya saya saja yang menjadi terlalu pemilih. Nyatanya, banyak juga orang yang hampir semua Drakor keluaran baru ditonton.

Penulis: Arsyindah Farhan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA 3 Drama Korea Terbaru yang Sebaiknya Jangan Ditonton demi Kesehatan Mental  

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version