Bagi saya, sensasi membeli tiket kereta api go show itu mirip seperti uji nyali. Ada adrenalin yang terpacu saat bersiap memburu tarif super murah tiga jam sebelum keberangkatan demi menghemat isi dompet yang kian menipis.
Namun, kalau salah langkah sedikit saja, bersiaplah menghadapi kenyataan pahit. Rencana perjalanan bisa langsung berantakan total akibat kehabisan tiket, dan saya harus pasrah berujung terlantar di emperan stasiun meratapi nasib.
Berdasarkan pengalaman jatuh bangun menjadi pejuang peron yang sering kali nekat, saya merangkum tiga kiat mujarab agar perjalanan mendadak tetap aman tanpa drama nestapa yang memalukan.
Jinakkan aplikasi KAI
Langkah pertama yang selalu saya lakukan adalah membuang jauh-jauh pikiran kuno bahwa tiket go show hanya bisa dibeli lewat loket fisik stasiun. Sistem PT KAI sudah jauh lebih modern. Mereka membuka penjualan tarif khusus ini tepat 3 jam sebelum kereta api diberangkatkan melalui aplikasi resmi KAI Access.
Strategi andalan saya adalah bersiap menetapkan alarm ponsel sekitar 15 menit sebelum waktu pembelian resmi dibuka. Begitu waktu menunjukkan tepat tiga jam sebelum keberangkatan kereta yang sedang diincar, jari-jari saya langsung bergerak secepat kilat melakukan refresh berkali-kali pada layar aplikasi.
Langkah ini krusial demi mengamankan kursi kosong yang tersisa sebelum keduluan oleh para pemburu tak kasatmata lainnya di luar sana. Menatap layar ponsel di ruang tunggu tentu jauh lebih elegan dan minim stres. Tentu, daripada harus berdiri lelah mengantre di depan kaca loket stasiun.
Turunkan ego, yang penting dapat tiket go show
Kunci utama agar selamat dari zonk saat berburu tiket go show adalah keberanian untuk menurunkan ego dan bersikap sefleksibel mungkin. Saya tidak pernah mau menjebak diri sendiri dengan terpaku pada satu kelas kereta tertentu saja sepanjang perjalanan.
Jika niat awal saya ingin naik kelas eksekutif demi kenyamanan kaki dan sandaran kepala tetapi kuotanya ternyata sudah ludes, saya akan langsung membidik kelas bisnis atau bahkan kelas ekonomi tanpa berpikir dua kali.
Selain harus fleksibel soal urusan kelas kereta, saya juga selalu membiasakan diri menyiapkan Plan B yang matang. Cadangan ini berupa daftar nama kereta api alternatif yang memiliki rute searah dengan jam keberangkatan yang jaraknya berdekatan.
Jika kereta utama yang sangat saya harapkan ternyata penuh total tanpa sisa, saya bisa langsung mengalihkan buruan ke kereta berikutnya dalam hitungan detik.
Hindari jam krusial biar nggak apes
Kiat terakhir ini adalah hukum alam yang tidak tertulis namun wajib dipatuhi, saya harus selalu sadar diri dengan kalender. Saya sebisa mungkin mengharamkan spekulasi membeli tiket go show saat akhir pekan panjang, musim mudik lebaran, atau momen libur nasional. Memaksakan diri membeli tiket mendadak di waktu-waktu padat seperti itu sama saja dengan bunuh diri karena tiket pasti sudah habis sejak berbulan-bulan lalu.
Selain jeli melihat hari, saya juga rajin mempelajari jam keberangkatan kereta favorit. Jika terpaksa harus pergi di hari yang cukup padat, saya sengaja memilih jadwal kereta yang berangkat di jam-jam tidak populer. Seperti tengah malam atau subuh sekalian. Pada jam-jam keramat tersebut, peluang menyisakan kursi kosong yang tidak ditebus penumpang lain jauh lebih besar untuk saya amankan.
Jadi, membeli tiket go show memang menjadi trik terbaik bagi saya. Sudah menghemat anggaran transportasi, plus menikmati sensasi perjalanan yang spontan. Namun, tanpa adanya perhitungan yang matang, ketenangan membaca situasi, dan kecepatan eksekusi jari, strategi nekat ini bisa berbalik menjadi bumerang tajam yang siap merusak seluruh rencana perjalanan yang sudah disusun.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Tiket Tarsus, Tiket Kereta Api dengan Harga Super Duper Murah
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
