3 Hal yang Bikin Saya Nggak Nyaman Saat Naik Mobil Travel

3 Hal yang Bikin Saya Nggak Nyaman Saat Naik Mobil Travel

3 Hal yang Bikin Saya Nggak Nyaman Saat Naik Mobil Travel (Unsplash.com)

Mobil travel menjadi satu-satunya moda transportasi darat yang saya andalkan jika hendak bepergian keluar Kota Bukittinggi, tempat tinggal saya saat ini. Sebenarnya selain travel juga tersedia bus atau mobil sewaan, sih.

Bus biasanya menjadi pilihan jika saya harus menghabiskan minimal 12 jam perjalanan darat, misalnya dari Bukittinggi menuju Medan. Sementara untuk perjalanan darat yang memerlukan waktu sekitar 3 jam seperti dari Bukittinggi ke Padang, atau 5 jam perjalanan seperti dari Bukittinggi ke Pekanbaru, menurut saya paling cocok ya naik mobil travel. Lumayan worth it dengan harga tiketnya.

Sebenarnya travel bukan armada yang “asing” bagi saya. Waktu masih tinggal di Pulau Jawa, beberapa kali saya sempat pulang ke Cilacap, kampung halaman ibu saya, menggunakan mobil travel. Travel juga sempat membawa saya menikmati perjalanan dari Jakarta ke Lampung. Dan 10 tahun terakhir, saya kembali bersahabat dengan moda transportasi satu ini, terutama jika harus bepergian ke Padang.

Jadi ketika saya pindah ke Bukittinggi, saya sudah bisa mengira-ngira bagaimana rasanya jika harus bepergian naik travel. Saya pun sudah paham apa saja yang perlu saya siapkan supaya perjalanan jadi nyaman dan menyenangkan.

“Halah, tinggal duduk, terus tidur, ngapain persiapan, sih? Repot bener!” mungkin itu yang ada di pikiran kalian.

Akan tetapi, apa kalian bisa “tinggal” tidur kalau tiba-tiba kebelet buang air misalnya, sementara perjalanan masih beberapa jam lagi? Saya pernah mengalami hal itu dan sumpah, rasanya nggak enak banget. Sementara saat itu nggak mungkin saya meminta sopir untuk mampir pom bensin supaya bisa buat hajat. Kok kayaknya egois banget.

Pipis dulu sebelum berangkat akhirnya menjadi salah satu persiapan wajib saya supaya perjalanan dengan mobil travel jadi lebih nyaman. Walaupun sudah pipis dan sangu air mineral, permen, serta obat antimabok, tetap saja biasanya ada hal-hal di luar kuasa saya yang mengganggu kenyamanan saat naik travel.

#1 Mobil travel berhenti terlalu lama di pool

Salah satu keunggulan travel dibandingkan moda transportasi lain adalah fasilitas antar jemput penumpang. Biasanya, penumpang tinggal menunggu klakson mobil travel yang telah tiba di rumah, dan travel akan mengantar penumpang sampai alamat tujuan.

Namun sebelum berangkat ke kota tujuan, ada beberapa travel yang membawa para penumpang yang telah dijemputnya itu ke kantor (pool) travel. Di pool inilah para penumpang akan menyelesaikan adminstrasi terkait pembayaran tiket travel. Setelah itu, biasanya travel akan menunggu beberapa penumpang yang datang langsung ke pool, baru kemudian berangkat.

Saya pernah beberapa kali merasakan proses menunggu di pool yang benar-benar menguji kesabaran. Ada tiga kondisi yang pernah saya alami. Pertama, calon penumpang yang ditunggu nggak datang-datang. Kedua, menunggu sang sopir selesai sarapan dan merokok. Dan yang ketiga, menunggu di pool tanpa alasan.

Iya bener, saya pernah menunggu di pool tapi nggak menemukan alasan mengapa saat itu bisa menunggu begitu lama. Bahkan sampai lewat 30 menit dari jadwal keberangkatan. Padahal mobil telah penuh. Saya dan penumpang lain telah masuk, berdempetan pantat, beradu lutut dengan jok depan. Tapi kok nggak berangkat-berangkat juga.

Kelamaan menunggu itu bikin saya dan penumpang lain capek duluan. Mobil travel baru berangkat setelah salah seorang staf yang dari tadi asyik mengobrol dengan rekannya di pool berdiri dan menuju ke arah kami. Astaga, ternyata blio sopir kami!

#2 Bangku diserobot penumpang lain

Seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, saya termasuk penumpang yang sebenarnya nggak bisa asal duduk di travel. Ada beberapa posisi bangku yang menjadi favorit saya karena terbukti nggak membuat saya mual selama di perjalanan. Jadi setiap memesan travel saya selalu memastikan bahwa saya mendapatkan salah satu posisi favorit itu.

Konsekuensinya, saya harus melakukan reservasi dari jauh-jauh hari sebelum tanggal keberangkatan, berharap masih bisa memilih bangku yang saya inginkan. Saya lebih baik mengganti travel jika bangku yang saya inginkan di jam keberangkatan itu telah terisi penuh. Bagi saya, posisi bangku di mobil travel menjadi prioritas utama, walaupun travel yang akan saya naiki itu nggak senyaman travel langganan.

Walaupun sudah memilih bangku idaman, yang biasanya berpotensi untuk jadi masalah selanjutnya adalah bangku tersebut tiba-tiba ditempati penumpang lain. Perkara ini, saya cukup sering mengalaminya dengan berbagai perusahaan travel.

Berdasarkan pengalaman saya, ada dua pihak yang bisa jadi tersangkanya. Pertama adalah sang penumpang yang menyerobot bangku saya dan pura-pura bego. Nggak mungkin dia nggak tahu nomor bangkunya karena pada saat reservasi biasanya staf travel akan memberi tahu bangku mana yang masih tersedia.

Biasanya, yang menyerobot ini memang coba-coba saja, pasang tampang jutek. Mungkin dia pikir bisa “mengintimidasi” pemilik bangku yang sebenarnya.

Pihak kedua yang punya andil memperkeruh masalah ini dari pengalaman saya adalah pihak travel sendiri. Bisa jadi “gertakan” yang menyerobot nggak berpengaruh ke saya, tapi justru ke sopir atau staf travelnya. Akhirnya, pemilik bangku asli yang harus mengalah. “Sudah, duduk di belakang saja. Sama saja.” Hah?

Karena sudah beberapa kali bangku pesanan saya diserobot, terutama bangku depan samping sopir yang biasanya jadi favorit penumpang, saya biasanya sudah menyiapkan mental untuk berdebat sejak mobil travel datang menjemput. Siap-siap tarik urat saraf sudah lama jadi salah satu persiapan wajib saya sebelum naik travel.

#3 Sopir ngebut kesetanan

Saya bukan penumpang yang anti ngebut. Saya juga stres kalau sang sopir membawa mobilnya terlalu pelan dan nggak berani-berani nyalip. Lha, kalau kayak gitu kapan sampainya? Silakan ngebut, tapi jangan seperti kesetanan.

Ada beberapa hal yang saya definisikan sebagai “ngebut kesetanan”. Pertama, sopir “memaksa” jarum speedometer selalu mendekati angka 100 kilometer per jam. Batas kecepatan mobil itu sudah ada aturannya, hoi!

Dari laman Dephub.go.id, saya mengetahui bahwa dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kecepatan, penetapan batas kecepatan ditetapkan secara nasional dan dinyatakan dengan rambu lalu lintas, yaitu paling rendah 60 kilometer per jam dalam kondisi arus bebas, dan paling tinggi 80 kilometer per jam untuk jalan antar kota.

Suka nggak suka, peraturannya seperti itu. Kalau mau memacu melewati angka 80, bukan berarti 4 jam perjalanan kudu konsisten di atas 80 terus, kan? Kalau sopir sudah ngebut nggak karuan gitu, biasanya saya sebagai penumpang suka refleks menegangkan telapak kaki, berasa lagi nginjek pedal rem.

“Ngebut kesetanan” bagi saya juga berlaku jika sang sopir membawa mobil tanpa berpikir panjang kalau ia sedang bersama banyak nyawa selain nyawanya sendiri. Cara dan kebiasaan sang sopir mengemudi, punya andil yang besar dalam hal ini.

Saya pernah mendapat sopir travel yang seperti ogah menjaga jarak aman dengan mobil di depannya. Nempel-pel. Apalagi kalau mobil travelnya Mitsubishi L300 atau Toyota Hiace, yang di beberapa tipenya ada yang nggak punya “hidung”.

Dalam kondisi menempel rapat itu, bisa saja mobil tiba-tiba langsung “membuang” setir ke kanan dan menyalip tanpa ancang-ancang sebelumnya. Sukses menyadarkan saya dan para penumpang lainnya kalau setiap saat, malaikat maut bisa datang mendekat.

Beberapa kali saya dapat sopir travel yang cara mengemudinya seperti itu. Mau tidur, nggak bisa. Yang ada saya malah kagetan karena sang sopir sering mengerem mendadak. Mau menegur, saya khawatir sang sopir kesal, nanti saya malah diturunin di pinggir jalan. Kan repot.

Kalau jantung kita dipaksa untuk berdetak sedemikian cepat selama berjam-jam, apa iya kita bisa menikmati perjalanan? Naik roller coaster saja deg-degannya cuma beberapa menit, kok. Plis jangan membelanya dengan pernyataan bodoh seperti, “Kalau mau nyaman ya sewa mobil saja sana!”

***

Walaupun berisiko mengalami ketiga hal tersebut yang bikin nggak nyaman, saya tetap saja ber-travel ria sampai sekarang. Lha, nggak ada pilihan lain soalnya.

Penulis: Dessy Liestiyani
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mobil Travel, Moda Transportasi Terbaik yang Selalu Bisa Memuaskan.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version