Tak banyak yang tahu bahwa tanggal 17 Oktober diperingati sebagai Hari Ulos Nasional. Peringatan ini didasarkan atas keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk meresmikan ulos sebagai warisan budaya tak benda nasional pada tanggal yang sama tahun lalu.

Kini, untuk kali pertama, Hari Ulos Nasional diperingati — baik di Jakarta maupun di berbagai wilayah di Sumatera Utara sebagai tuan rumah tenunan tradisional khas Batak ini — dengan berbagai rangkaian kegiatan meriah yang digelar di lokasi yang megah, seperti hotel dan gedung pemerintahan. Salah satunya adalah fashion show ulos–di mana kreasi ulos diperagakan oleh model-model cantik nan semampai.

Rangkaian acara peringatan Hari Ulos Nasional ini pertama-tama dibuka dengan sambutan dari para Ketua seperti pejabat, budayawan, maupun pengamat, serta pemerhati dan desainer busana. Dan, entah kenapa, sambutan mereka memiliki narasi yang isinya nyaris sama klisenya:

“Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keberagaman budaya… Ulos merupakan warisan nenek moyang kita… Sudah menjadi kewajiban kita untuk melestarikan budaya tersebut…”

Menyaksikan pembukaan itu, saya kemudian teringat pengalaman saat mendampingi salah seorang partonun (penenun ulos).

Kala itu, saya dan teman-teman lain berbincang ringan dengan Inang Sitorus, salah seorang partonun. Hingga kemudian salah seorang teman ikut menimpali. Ia menyinggung tentang warisan budaya Indonesia yang, lagi-lagi, terdengar amat klise seperti sambutan para Ketua di atas:

Inang kok mau jadi partonun? Untuk melestarikan budaya Batak, ya? Wah, hebat kali ya, nang?

“Gaya kali lah melestarikan budaya Batak. Aku pindah tahun 1998 ke Medan karena krisis ekonomi. Di saat anak-anakku butuh makan dan aku nggak punya modal serta keahlian apapun untuk bertahan hidup, aku memutuskan untuk mulai martonun (bertenun ulos). Aku pernah belajar martonun di kampung, ku coba-coba aja di Medan ini. Ternyata aku bisa hidup karena ulos.”

Baca juga:  Curhat Mamah untuk Pemerintah

“Jadi bukan ada niat Inang untuk melestarikan ulos sebagai warisan budaya Batak atau memperkenalkannya ke luar negeri?”

“Nggak muluk-muluk kalilah niatku, boru. Yang penting anakku bisa makan dan sekolah, itu aja udah cukup buat aku.”

Jawaban Inang Sitorus tersebut membuat saya termenung. Bagi beliau – yang tanpa ia sadari sendiri adalah pahlawan sebenarnya dalam urusan pelestarian ulos – narasi mengenai kain sakral tersebut jauh dari urusan perwujudan orasi budaya yang hebat-hebat dan membosankan itu.

Baginya, ulos adalah sesimpel cara untuk bertahan hidup.

Saya pernah punya pengalaman dengan partonun lainnya. Ia lebih mapan karena memiliki butik ulos sendiri. Ia kerap mengeluh:

“Susah, nang. Mau makan dari ulos. Sedangkan ulos (cetak) kini banyak diimpor dari luar negeri. Harganya jauh lebih murah daripada tenun ulos buatan kami (partonun Batak). Kami sendiri tidak mungkin menurunkan harga ulos, karena proses pembuatan yang rumit dan lama dengan pemilihan bahan yang tidak boleh sembarang.”

Ulos memang memiliki posisi yang sangat sentral dalam kehidupan orang Batak. Setiap peristiwa kehidupan selalu melibatkan ulos yang berbeda-beda jenis dan fungsi sesuai dengan peristiwa tersebut.

Banyak masyarakat kini lebih memilih ulos cetak yang jauh lebih murah karena tidak mampu membeli ulos mahal untuk dipakai di berbagai ritual adat Batak. Dan sebab ulos mahal – selain karena proses pembuatan dan bahan – terutama dikarenakan langkanya partonun untuk memproduksi ulos jika dibandingkan dengan permintaan ulos yang cukup tinggi.

Baca juga:  Pramoedya Ananta Toer: Tak Bisa Dikalahkan

Mengingat pengalaman itu ketika menyaksikan berbagai peringatan Hari Ulos Nasional sedang digelar kemarin ini rasanya ironis betul. Dengan orasi budaya yang ilmiah dan canggih, gunting pita peresmian sana sini, serta fashion show kreasi ulos mewah nan mahal, perayaan tersebut sejatinya hanya menunjukkan sensasi ketimbang memelihara esensi.

Esok hari, ketika perayaan gegap gempita itu selesai, ulos hampir pasti akan kembali dilupakan.

Ulos, yang sejatinya adalah simbol kehangatan bagi orang Batak, hanya akan diingat kembali untuk digunakan saat pesta. Ketika pesta usai, para partonun kembali melanjutkan hidup dengan bertenun ulos, dengan harapan bisa tetap memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah gempuran impor ulos yang jauh lebih murah dan diminati banyak orang.

Dan berbagai kreasi ulos yang sudah masuk rekor segala macam dan dipuji banyak budayawan itu hanya akan berakhir sebagai pajangan di galeri mewah dan rumah-rumah orang berduit. “Buat koleksi,” kata mereka. “Demi nasionalisme,” ujar yang lain. Entahlah mana yang benar dan berguna.

Apapun itu, selamat Hari Ulos Nasional. Semoga kain ini tetap lestari meski tak ada lagi perayaan banal di gedung mewah yang dingin dan angkuh.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles