[MOJOK.CO] “Apa sih manfaat yang benar-benar kita rasakan dari suka membaca? Jangan-jangan nggak ada?”

Menikmati sore ditemani segelas teh hangat, Naya dan Nermi berdiskusi ringan seputar buku yang baru selesai mereka baca, Golok Naga dan Pedang Langit, jilid pertama serial silat karya Jin Yong.

Ada beberapa hal yang muncul dalam cerita, yang menurut pengetahuan Nermi, faktual: tokoh Zhang Sanfeng, juga sebuah tempat bernama Gunung Wudang. Sayangnya, Naya tidak serta-merta memercayai kata Nermi. Ia meyakini, hal-hal yang ia temui di dalam serial cerita silat fiktif belaka.

Nermi berusaha meyakinkan Naya dengan merujuk beberapa informasi digital. Tapi, Naya justru membalas dengan bilang,

“Ah, masak sih?”

Diskusi itu berubah menjadi perseteruan antara keduanya, anak perempuan 8 tahun dan lelaki berumur 30 tahun. Saya hanya geleng-geleng kepala, apalagi ketika melihat wajah Nermi sedikit dongkol karena ia seakan menjadi sosok yang gemar memanipulasi kenyataan.

Kejadian itu membuat saya teringat peristiwa lain. Suatu kali Naya bertanya, mengapa J.R.R. Tolkien menggunakan istilah “buku satu” dan “buku dua” pada satu bundel buku The Lord of the Ring. Seorang sahabat yang saat itu sedang bersama kami, Cipto, mencoba menjelaskan bahwa kronologi peristiwa yang jadi alasan pembagian tersebut.

Naya tidak langsung percaya. Ia masih melontarkan kalimat “Masak begitu sih?” Pada akhirnya ia menemukan sendiri jawabannya, langsung dari teks yang ia baca.

Akhir-akhir ini Naya sering mempertanyakan banyak hal, termasuk mempertanyakan informasi yang datang dari saya dan Nermi, dua orang yang selama ini menjadi sumber segala “kebenaran” bagi Naya. Ia jadi cenderung skeptis dan bercuriga pada banyak informasi yang masuk.

Perilaku Naya membuat kami bertanya-tanya, apa ketidakpercayaan Naya pada berbagai informasi yang kami sampaikan disebabkan oleh aktivitas membacanya? Jika iya, apakah kami perlu mengkaji ulang kebiasaan membaca Naya? Jika sekarang saja dia sudah bisa protes dan tidak percaya, bagaimana nanti? Apa benar membaca itu baik?

Membaca itu baik dan bermanfaat kalau konsisten dilakukan adalah kredo pemuliaan buku yang diamini dari generasi ke generasi, termasuk di Indonesia. Semakin intens seseorang membaca buku, akan semakin cerdas orang tersebut.

BACA JUGA:  Susahnya Jadi Emak-Emak Jaman Sekarang: Mulai Dari Operasi Sesar Sampai Buka Hape Suami

Bagi saya, cerdas adalah kata yang sangat abstrak dan sering kali kondisional.

***

Dari mata awam saya, doktrin “membaca itu mencerdaskan” membuat program membaca cenderung ditujukan untuk meningkatkan jumlah orang yang membaca. Akibatnya, rumah baca dan taman baca sebagai perpustakaan alternatif menjamur. Termasuk kegiatan yang bertujuan mendekatkan masyarakat dengan sumber bacaan melalui berbagai sarana yang berasal dari lingkungan masing-masing. Tujuannya seragam, untuk meningkatkan kuantitas masyarakat Indonesia yang membaca, selain itu juga kuantitas bahan bacaan yang dapat dikonsumsi masyarakat.

Kecerdasan dalam pemahaman praktik membaca semacam ini membuat membaca semata diinterpretasikan sebagai kegiatan memasukkan informasi dari luar ke pikiran manusia. Kecerdasan menjadi sesuatu yang pasif, berasal dari luar individu, dan perkara kognitif belaka. Untuk menjadi cerdas, ya cukup dengan banyak baca. Sesimpel itu. Hal-hal lain di luarnya jadi diabaikan, seperti tentang apa yang dibaca, motif membaca, tingkat intelegensi, gender, kondisi sosial budaya, dan aktivasi dalam proses membaca.

Membaca sangat dipengaruhi faktor eksternal dan internal individu. Selama ini, berbagai kegiatan seputar aktivitas membaca lebih melihat membaca dan persoalannya dari faktor eksternal semata. Hal-hal yang berkaitan dengan individu itu sendiri sering diabaikan. Padahal, jangan-jangan, selama ini orang tidak suka membaca bukan karena tidak ada bacaan, tapi karena bacaan yang ada dinilai tidak bermanfaat.

***

Puisi karya Naya berjudul “Di Kebun Binatang” seingat saya ia tulis setelah merampungkan beberapa seri ensiklopedia.

Di kebun binatang, para hewan

menunggu dengan kesepian,

bertahan untuk tidak lari,

mereka seperti penjahat, terpenjara.

Kura-kura berlumut seperti rumput laut

tumbuh di tempurungnya,

leher panjangnya muncul,

kura-kura itu berenang dengan bebas

tapi tidak sebebas saat mereka di laut.

Aku gembira, tapi para binatang

tak seperti perasaanku, gembira.

Mereka hanya menatap para pengunjung

yang melihat para tawanan berwajah sedih

meninggalkan keluarga dan

kuda nil kesepian di sebuah ruang tunggu.

Aku tidak tahu mereka hidup nyaman

atau tidak, aku juga tidak tahu mengapa

para manusia menangkap dan mengurung

mereka hanya untuk kesenangan.

Puisi itu bukan semata hasil membaca ensiklopedia. Pengalaman Naya ketika berkunjung ke kebun binatang atau diskusi-diskusi ringan yang kami lakukan sepanjang proses membaca tersebut turut punya andil.

BACA JUGA:  Mengasihani Orang yang Tidak Tahu bahwa Dia Tidak Tahu

Saya mencoba pendekatan teknik teater dalam kegiatan literasi anak. Seperti halnya berteater, membaca pun mewakili tiga hal: olah raga, olah rasa, dan olah intelektual. Saya pikir, literasi, yang terlalu disempitkan pada membaca, bukan pada yang lebih fundamental, yakni intelektualitas, membuat kecerdasan jadi pasif. Membaca adalah aktivitas dan pengalaman yang meramu ketiga hal tersebut. Jadi, tidak semata mendistribusikan buku, memberikannya pada pembaca, meminta mereka membaca, dan horeee, kegiatan kita sukses besar.

Saya sendiri mulai merasa khawatir pada perkembangan sosial dan motorik Naya akibat aktivitas membaca. Dia bisa duduk berjam-jam ketika asyik dengan satu bacaan. Mungkin sebagian orang akan memuji atau terpesona, tapi tidak buat saya. Membaca bisa merenggut masa kanak-kanak Naya yang semestinya diisi dengan bermain, bercerita, atau aktivitas seru lainnya. Bukan duduk diam dan cukup membaca.

Kami harus menyediakan alternatif lain yang menjembatani kesukaannya dengan kegiatan membaca dan ingatannya kelak pada masa kecil yang gembira. Diskusi dan permainan-permainan seputar materi yang sedang ia baca saya dan Nermi coba hadirkan. Inginnya, Naya tidak semata jadi seorang pembaca dengan individualisme yang mulai tumbuh. Membaca menjadi disertai pemahaman, tidak hanya pada materi yang dibaca, tetapi aplikasinya terhadap lingkungan.

Jadi, apakah membaca itu benar-benar bermanfaat dan membuat cerdas? Apa indikator kebermanfaatannya? Jangan-jangan kita terlalu sibuk mendorong orang lain untuk membaca sehingga tidak memiliki waktu untuk menikmati aktivitas membaca dan jadi bingung ketika ditanya, “Apa manfaat membaca?”

Akhirnya, sejenak, saya memilih untuk menutup tulisan ini dan berdiskusi kecil dengan Naya tentang hal-hal yang saya risaukan. Barangkali, sudut pandang Naya sebagai pembaca dan kanak-kanak akan memberikan saya sebuah tawaran baru.

Selamat membaca, Indonesia!

Catatan Redaksi: Naya adalah penyair cilik yang menulis buku puisi pertamanya, Resep Membuat Jagat Raya (2017), di usia 7 tahun. Resep Membuat Jagat Raya masuk dalam 10 besar buku puisi terbaik Khatulistiwa Literary Award 2017 dan buku puisi terfavorit Anugerah Pembaca Indonesia 2017. Jadi, kapan nulis di Mojok, Nay?

Komentar
Add Friend
No more articles