12 tahun. Sebegitu lamanya penantian Juventus untuk kembali nampang di final Liga Champions. Lebih dari satu dasawarsa lamanya, tim yang konon merupakan tim terbaik di semenanjung Italia ini harus memendam perasaan nelangsa karena diece dua musuh bebuyutannya, AC Milan dan Inter Milan, yang mampu menjadi jawara Eropa sebanyak tiga kali dalam kurun waktu tersebut. Lebih nggaplekinya lagi, pas Juve masuk final 12 tahun lalu itu, mereka kalahnya pun lawan Milan. Duh!

Keajaiban itu datang juga. Kenapa dibilang keajaiban? Lha gimana bukan keajaiban, wong  Juve ini nggak punya DNA Eropa, kok bisa-bisanya masuk final?

Menurut Bang Edo Kennedy, DNA Eropa ini adalah sebuah zat–atau embuh apa lah–yang memungkinkan sebuah klub untuk bisa main bagus di kancah Liga Champions hingga akhirnya jadi jawara. Kalau cuma bagus di level Liga Europa, ya nuwun sewu, itu pasti bukan karena DNA ini. Itu karena ndilalah musuh-musuhnya bosok saja. Nah, sebagai tim yang lebih sering jadi pesakitan kalau sudah main di Liga Champions, banyak yang bilang kalau Juve itu jago kandang dan nggak punya DNA Eropa.

Kalau tahun ini dihitung, Juventus berarti sudah delapan kali masuk final Liga Champions. Dari tujuh penampilan sebelumnya, tim kesayangan Mas Domi ini cuma bisa juara dua kali. Terlalu sering kalah di final ini lho yang bikin orang-orang bilang Juve nggak punya DNA Eropa, padahal kan masih banyak klub-klub lain yang lebih nelangsa. AS Roma, misalnya, atau Arsenal.

Nah, biar nggak terus-terusan dieceni Milan sama Inter, Juve harus jadi juara tahun ini. Mumpung kayaknya duo Milan itu belum bakal balik ke Liga Champions mungkin sampai lima (atau sepuluh?) tahun ke depan, Juve punya kesempatan besar buat menunjukkan ke dua klub itu kalau mereka bukan cuma jago kandang. Kasihan juga Mas Domi terus-terusan diece Bang Edo Kennedy kalau pas ngomongin bal-balan.

Alasan kedua, biar tambah kaya. Buat orang yang sensian, alasan ini bakal terdengar egois, padahal aslinya ya enggak. Jadi, menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber tepercaya, pemasukan Juve dari Liga Champions musim ini sudah mencapai angka kurang lebih 100 juta euro. Ini belum termasuk uang hadiah yang bakal didapat apapun hasilnya di final nanti. Jumlah ini betul-betul luar biasa, apalagi juara musim lalu, Real Madrid tahun lalu cuma dapat sekitar 57 juta euro.

BACA JUGA:  Lima Peristiwa yang Terlewat Gara-Gara Pilkada

Nah, dengan pemasukan dengan jumlah nggilani seperti itu, Juve bisa berkiprah lagi pas bursa transfer dibuka. Paling nggak, kalau nawari pemain bintang buat gabung, angka yang disodorkan itu nggak ngisin-ngisini. Dari sini, pemain-pemain kelas wahid insya Allah bakal mau main lagi di Italia. Tim lain pun mau nggak mau bakal terpacu buat setidaknya memberi perlawanan untuk Juve. Mereka bakal berbenah dan pelan-pelan, pamor Liga Italia bakal terangkat lagi. Tim-tim macam AS Roma, AC Milan, sama Inter bakal terkenal lagi. Subhanallah sekali, bukan? Juve juara, tim lain ikut ngerasain enaknya. Kalau Milan atau Inter yang jadi juara, jangankan bisa ikut nunut penak, tim-tim lain pasti cuma diece karena dianggap nggak punya DNA Eropa.

Yang ketiga, nostalgia Berlin 2006 dan semakin senjanya usia tiga pemain veteran, Gigi Buffon, Andrea Barzagli, dan Andrea Pirlo. Kebetulan, tiga pemain ini, zman Italia juara dunia dulu, masuk ke skuat yang dibawa Mister Lippi ke Jerman. Waktu lawan Prancis di final waktu itu, Buffon sama Pirlo ikut main dan kotos-kotos di lapangan sampai adu penalti, sementara Barzagli zaman segitu levelnya baru nunut payu dan nunut ngisruh dari pinggir lapangan.

Sekarang, umur Buffon sudah 37 tahun, Pirlo 36 tahun, dan Barzagli 34 tahun. Ketiga orang ini, bareng Patrice Evra yang juga sudah 34 tahun, sudah mulai sering kelihatan mondar-mandir di Taspen sama Bank BTPN. Kata pegawai sana, orang-orang ini sudah mulai nanya-nanya soal jatah pensiun. Pirlo bahkan katanya sudah mulai penasaran soal plafon kredit buat ngembangin usaha kebun anggurnya.

Dari keempat orang itu, konon Pirlo dan Evra sering juga mbedani Buffon gara-gara si kiper yang jadi idola banyak kiper muda itu belum pernah juara Liga Champions. Ya paling sebenarnya mereka juga cuma bercanda, tapi kan kadang-kadang nyesek juga kalau jadi Buffon. Dia itu ngganteng, setia, kaya raya, juara dunia, tapi belum pernah juara Liga Champions.

BACA JUGA:  Menjadi Milanisti itu Baik

Nah, ini jadi alasan keempat kenapa Juve harus jadi juara Liga Champions tahun ini. Buffon, sebagai orang yang nggak ikut-ikutan pergi waktu Juve (dituduh) korupsi dan didegradasi, rasanya pantes kalo dapat gelar juara ini bareng Juve. Selain itu, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhir Buffon buat dapat gelar Eropa.

Alasan terakhir adalah supaya teori Max Allegri, pelatih Juve sekarang, terbukti. Waktu itu, dalam sebuah talkshow di Radio PTPN, Allegri pernah ditanya si pembawa acara.

“Mas Ale ini filosofi hidupnya apa ya, Mas?”

“Wah, kalau saya ini filosofinya simpel kok, Mbak,” jawab Allegri sambil cengar-cengir.

“Lha simpel pripun tho, Mas?”

Kados prinsip ekonomi, Mbak. Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, dapat untung sebesar-besarnya. Misalnya, saya harus bisa makan di restoran 100 euro dengan cuma bawa uang 10 euro.”

“Wah, pripun niku, Mas? Mosok ya mau dharmaji, dhahar lima ngakune siji, Mas?

Njih mboten tho, mbak. Kan nanti bisa diakali, Mbak. Pokoknya modal saya 10 euro, tujuan saya makan makanan 100 euro. MPC. Mbuh piye carane, kudu isa. Entah saya beli es teh thok, njuk kenalan sama orang kaya di sana terus dijajakne kan ya bisa, Mbak. Kan saya ya nggak jelek-jelek amat. Pasti ada yang mau. Begitu, Mbak. Simpel, tho?”

Hmm, begitu ya, mas. Jadi selama ini Mas Conte salah ya, Mas?”

Nuwun sewu, Conte sinten, nggih?”

Nah, begitulah kira-kira isi wawancara di PTPN waktu itu. Jadi, Juve ini memang belum bisa jor-joran seperti zaman masa jaya liga Italia dulu. Dari empat tim yang masuk semifinal (Juventus, Real Madrid, Barcelona, Bayern), dana transfer dan gaji para pemain Juventus ini yang paling kecil. Tapi, Allegri nggak keder. Maju terus. Nek meh mangan enak kudu gelem rekasa. Dia pun bekerja ekstra keras. Utak-atik strategi lah, rotasi pemain lah, seperti itu. Hasilnya pun sekarang kelihatan.

Nah, itulah alasan-alasan objektif kenapa Juventus harus jadi juara Liga Champions musim ini. Kalau alasan subjektifnya, ya supaya saya bisa sedikit sombong kalau Bang Edo mulai bawa-bawa sejarah pencapaian AC Milan di Liga Champions.

No more articles