• 91
    Shares

MOJOK.CO – Mengenang permainan masa kecil yang dijajakan oleh abang-abang depan sekolah zaman SD. Ternyata permainan abang-abang ini juga mendidik kita sebagai anak-anak lho. Nggak percaya?

Guru sekolah tidak bisa kita jatuhi tanggung jawab untuk mendidik anak begitu saja. Hanya karena mentang-mentang sudah dibayar, bukan berarti semua tanggung jawab ada di guru. Tentu ada pihak-pihak lain yang mesti dilibatkan. Mulai dari orangtua yang menjadi sumber inspirasi anak di rumah, tetangga yang menjadi lahan bersosialisasi, sampai abang-abang di depan SD yang menjual aneka permainan.

Lho, kok bisa abang-abang pedagang di depan SD ikut bertanggung jawab? Ya iya dong, harus.

Jadi begini. Sebelum masuk era Tik Tok, anak SD jaman baheula mengandalkan abang-abang penjual jajanan sebagai pusat informasi tren yang sedang berkembang di daerah mereka. Baik dari tren jajanan yang lagi hype sampai tren mainan terbaru.

Beda kalau anak yang bapaknya jendral atau lurah. Biasanya sih anak yang begini sudah punya akses internet di rumahnya, atau minimal hapenya BB Gemini-lah, jadi anak yang begini bisa mengikuti portal diskusi mengenai mainan yang sedang tren di luar negeri sana. Ditambah karena bapaknya banyak uang, tamiya, tamagochi, dan kartu Yu-Gi-Oh! bisa mereka dapatkan dengan kualitas original.

Tapi bagi anak SD dengan kelas ekonomi menengah ke bawah, hanya abang-abang yang berjualan di depan sekolah saja yang dapat menyediakan barang tersebut dengan harga miring. Lalu di mana letak kontribusi pendidikannya untuk anak? Oke mari kita simak.

1. Tukang Cabutan

Kalau kalian ingat, abang-abang yang satu ini biasanya akan mulai nangkring di depan SD kita maksimal setengah jam sebelum masuk jam sekolah. Selanjutnya si abang akan mencari tepat terbaik untuk meletakan barang bawaannya, yaitu gumpalan tali yang terikat dengan berbagai macam mainan.

Baca juga:  Gelisah Karena Terus-Menerus Dipaksa Orangtua Ikut Seleksi CPNS

Permainan ini menawarkan hadiah yang menarik. Seperti pistol mainan, robot, Tamiya, sampai dengan grand price mainan Monopoli. Tapi ya itu kalau beruntung, kalau buntung ya paling-paling kita hanya akan menatap tali kosong, yang artinya, 500 rupiah kita akan leyap begitu saja.

Marah? Tentu, tapi yang namanya untung-untungan kan memang gak enak kalo kalah. Kalau kalah penasaran, kalo menang ya nagih.

Di tengah perkembangan zaman yang dituntut serba cepat, sebuah ketangkasan, dan kesabaran dalam merasakan kegagalan berkali-kali menjadi kemampuan yang wajib dimiliki. Untungnya tukang cabutan depan SD sudah menyediakan wadah untuk melatihnya. Jadi kalau sekarang kita merasakan gagal tes CPNS berkali-kali itu rasanya sudah biasa saja, bisa jadi ada andil juga dari permainan cabutan saat kita SD dulu.

2. Ayam berwarna

Penjual yang satu ini biasanya mulai hadir di depan SD ketika jam istirahat. Bukannya karena bangunnya kesiangan seperti anak jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) yang selalu begadang, bukan, tapi memang prime time si abang ada di jam istirahat dan pulang sekolah.

Ayam berwarna-warni pelangi dengan warna mencolok yang dihadirkan si abang akan menjadi godaan tersendiri. Seketika itu pula, orang tua yang menunggu sang anak pulang sekolah menjadi sasaran empuk rengekan anak-anaknya.

Dengan membeli ayam hasil mutasi genetis cat tekstil tersebut, para bocah ini harus menjaga sang ayam dengan memberi makan, minum, dan menjaga bulu anak-anak ayam itu. Dari hal ini, maka diharapkan akan muncul generasi muda yang dapat menjaga satwa kita di tengah pembasmian habitat satwa Indonesia. Luwar biyasa bukan?

Baca juga:  Snack Bikini, Remas Aku: Kemasan Kreatif dan Strategi Pasar

3. Tukang tempelan

Nah kalau sebagian dari kalian masih bingung apa yang dimaksud dengan tempelan ini, akan saya jelaskan sedikit.

Secara sederhana, si abang penjual mainan akan menjual buku berisi banyak kolom kosong. Di bawah kolom tersebut sudah tertera nama karakter yang menjadi tema dari buku itu. Temanya sih bisa apa saja, tergantung topik yang sedang hangat di dalam dunia anak-anak saat itu. Entah digimon, beyblade, atau edisi sepak bola kalau sedang ramai event bola seperti Piala Dunia.

Nah, tugas kita adalah melengkapi kolom tersebut dengan tempelan yang sudah disediakan oleh si abang. Tidak gratis tentunya, harus bayar 500 rupiah untuk mendapat tiga tempelan. Kalau tempelan kita sudah komplet, maka hadiah dari si abang akan menanti. Sama seperti tukang cabutan, hadiahnya cukup keren-keren dan bikin ngiler anak SD.

Terlihat mudah? Siapa bilang.

Dari sekian banyak tempelan yang tersedia, biasanya akan ada satu sampai lima kolom yang masuk kategori langka, jika sudah begini berbagai ide kreatif menjadi langkah jitu dan di sinilah letak pendidikannya.

Para bocah-bocah yang biasanya saling ledek nama bapak ini akan saling bekerja sama melengkapi bukunya masing-masing. Ada yang saling tukar tempelan antar teman, bekerja sama dengan adik yang menyebabkan hadiahnya harus dibagi dua, atau bagi mereka yang mempunyai jiwa entrepreneur sejak kecil, gambar langka yang sudah mereka dapatkan namun kebetulan dapat lagi, akan dilelang dengan harga yang lebih tinggi ke teman-temannya. Benar-benar sukses melatih jiwa-jiwa kapitalis anak-anak.

Maka pendidikan dari tukang mainan mana yang kamu dustakan coba?