MOJOK.COReza Smash nikah beda agama. Dia dan anaknya, Killian, “dihakimi” oleh filsuf dan pertapa online. Apakah akhlak kita sedemikian buram?

Reza Smash kena batunya. Rasakan kamu, anggota boy band cilik. Berani-beraninya nikah beda agama. Sudah tahu kalau soal iman dan agama itu masalah paling besar bangsa ini, masih nekat kawin dengan yang tidak satu agama. Ya jangan gregetan kalau anakmu pun ikut jadi korban arus kebenaran paling deras di Indonesia: prasangka!

Banyak orang di Indonesia ini lebih suka sibuk mengotak-atik kepercayaan orang. Sering mereka menyuruh orang lain untuk pindah agama. Narasi soal akhir zaman, jalan terang, hidayah, berkah yang besar di surga, keselamatan, dan lain sebagainya jadi gula-gula pemikat. Namun, ketika mereka diminta balik untuk pindah agama, orang-orang itu marah. Katanya itu usaha “-isasi” yang sungguh jahat dan perlu untuk dilawan.

Kita malah diomeli, dibilang memeluk kepercayaan yang salah. Sementara itu, agama mereka adalah yang paling betul, paling menuju kehidupan kekal dan kenikmatan di surga. Nah, hal-hal separah itu, kombinasikan dengan pernikahan. Wah, ketemu sudah, masalah paling besar bangsa ini: pernikahan dengan membawa masalah agama di dalamnya.

Nikah satu agama saja ribetnya minta ampun, apalagi nikah beda agama. Kawin itu bakal selalu sederhana, tapi nikah itu maha ribet. Niatnya mau kayak nikahnya Suhay Salim, yang sederhana saja, ke KUA pakai kemeja, tapi jatuhnya dikucilkan dari keluarga. Dianggap tidak lagi menghormati budaya, adat, dan kebiasaan. Segala narasi ndakik-ndakik padahal ujungnya ya sama saja: gengsi!

Sementara itu, nikah beda agama seperti Reza Smash bakal menghadirkan nyinyiran yang lebih dahsyat. Salah satu sebabnya adalah anggapan bahwa di Indonesia nikah beda agama itu dilarang. Padahal, pada kenyataannya, banyak kok pasangan beda agama yang bisa menikah. Reza Smash ketibang pulung saja karena beliau artis.

Baca juga:  5 Kode Ampuh ke Pacar Agar Kalian Cepat Nikah

Undang-Undang Perkawinan No.1 tahun 1974 sendiri tidak menyatakan secara eksplisit mengenai pernikahan campuran (agama). Undang-Undang tersebut penjelasan soal pernikahan campuran kewarganegaraan. Nikah beda agama ditentang dengan merujuk pada penafsiran Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan yang berbunyi, “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.”

Ahmad Nurcholish, aktivis LSM Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), memberikan penjelasan sepeti dikutip oleh Vice. Begini penjelasan beliau: “Secara konstitusi sangat memungkinkan. Misalnya dalam UU Perkawinan No.1 tahun 1974, itu kan tidak ada pelarangan soal pernikahan beda agama. Di sana hanya diatur soal bagaimana pernikahan itu dilaksanakan, yakni harus sesuai dengan hukum agamanya masing-masing.”

Selain UU Perkawinan, dasar hukum soal nikah beda agama seperti Reza Smash juga mengacu pada UU Hak Asasi Manusia No.39 tahun 1999. Disebutkan kira-kira ada 60 hak sipil yang tidak boleh diintervensi atau dikurangi oleh siapa saja. Termasuk di dalamnya memilih pasangan, menikah, berkeluarga, dan memiliki keturunan.

Menurut Ahmad, pasangan beda agama seperti Reza Smash, bisa menikah di Indonesia. Namun, praktik di lapangan yang yang membuatnya jadi sesuatu yang sulit dilakukan sebab yang terjadi di lapangan tak selalu sesuai dengan konstitusi.

Reza Smash dan anaknya yang “dihakimi”

Seharusnya sudah jelas ya, kalau nikah beda agama itu bisa saja terjadi. Dan seharusnya pula tidak ada masalah lanjutan. Tapi ya namanya “masyarakat” yang berbudi luhur dan berakhlak tanpa cela. Reza Smash yang menikahi Fabiola, yang beda agama, jadi masalah banyak orang.

Seakan-akan, kalau tidak dikomentari, hidup Reza Smash belum sempurna, belum komplet. Menikah itu tidak pernah soal menyatukan dua agama. Menikah adalah menyatukan dua manusia berbeda untuk bersepakat hidup dalam satu napas, untuk terus berkompromi menentukan satu arah.

Baca juga:  Pulang Kampung ke Sipirok, Keluh Kesah Rumah Tangga, dan Bisik-Bisik Tetangga

Saya punya om dan tante yang sudah menikah puluhan tahun. Keduanya beda agama. Om saya pemeluk Katolik, sementara tante saya Islam. Keduanya berkompromi, menentukan segala sesuatu dengan pikiran yang jernih. Anak-anak mereka memeluk Islam pun tidak pernah jadi masalah karena yang terpenting baik dengan sesama.

Sampai saat ini, saya selalu percaya kita masuk surga bukan karena agama, melainkan sikap kita di tengah orang lain, orang yang berbeda. Agama itu seperti penunjuk jalan, tapi bukan penentu masa depan setelah kita tutup usia.

Reza Smash memberi nama Killian Adam Anugrah untu anaknya. Nama itu diambil dari Bahasa Irlandia yang bermakna ‘perdamaian’, menjadi cermin damai di antara Reza Smash dan istrinya yang nikah beda agama.

Bukankah kedamaian itu ujung dari semua agama? Bukankah kedamaian itu kompromi paling paripurna dari semua masalah kita, terutama soal agama?

Reza Smash, saya yakin menyadari kalau pernikahannya akan menimbulkan komentar-komentar “super bijak dan tanpa cela” dari orang lain. Maka, ia memberi nama Killian untuk anaknya. Sebuah pesan paling jernih kepada kamu semua, filsuf dan pertapa online, bahwa mereka sudah menemukan kedamaian. Sudah, jangan ganggu mereka.

Seakan-akan, dengan nyinyir kepada Reza, kemiskinan kalian akan lenyap, tiba-tiba menjadi super bahagia, dan masuk surga. Untungnya, Killian beragam Islam, bagaimana kalau bocah tanpa dosa ini memeluk agama lain? Atau tak “memilih” agama sampai dia dewasa dan memahami konsep agama? Sekarang ini, banyak orang yang beragam tapi sesat sementara yang ateis justru menunjukkan kasih sayang kepada sesama selayaknya “orang beragama”.

Kalau sudah begitu, apakah kalian bisa berlaku adil sejak dalam pikiran? Apakah kita bisa berlaku adil, berbuat baik, kepada semua orang dengan melepaskan atribut kelembagaan bernama agama?



Loading...



No more articles