MOJOK.COMy love, kamu pernah kepikiran mau pindah agama? Bisa jadi, 10 alasan orang Indonesia pindah agama di bawah ini bisa jadi alternatifmu.

My love, kamu pernah kepikiran mau pindah agama? Mungkin kamu nggak nyaman dengan agama kamu sekarang, atau merasa keberadaanmu nggak “terwakili”. Atau, mungkin ada juga yang merasa agama itu nggak relevan banget. Nggak cuma pindah agama, ada juga yang memilih nggak punya agama.

Mereka dianggap sesat, melenceng dari sesuatu “yang sudah seharusnya”. Atau bahkan ada yang sampai dikucilkan karena sekarang berdoa dengan cara berbeda. Mereka nggak lagi diajak arisan, nggak lagi dikirimi undangan kerja bakti. Keberadaan mereka jadi kayak panu, yang bikin malu kalau kelihatan, dianggap aib yang perlu dibasmi.

Tapi ya gimana ya, pindah agama itu sesuatu yang personal. Kamu nggak bakal tahu neraka macam apa yang sudah mereka lewati ketika sampai pada kesimpulan itu. Pergulatan batin itu berat betul. Tapi ya ada sih, yang “terpaksa” pindah agama karena pernikahan. Sudah kadung cinta, from the bottom of their heart, katanya.

Well, tiap orang punya alasan masing-masing. Apa lagi ya yang bikin orang pindah agama?

1. Pindah agama karena menikah.

Well, ini yang paling klasik, sih. Daripada nggak jadi nikah, umur sudah semakin senja, takut jodoh hinggap di pucuk lain. Tapi ada yang anih-anih, ketika orang pindah agama “hanya” supaya bisa ijab kabul. Habis acara, beberapa hari kemudian, dia balik ke agamanya yang lama. Ada yang kayak gitu? Ada! Mantan saya.

2. Karena kemiskinan.

Spesialis ilmu kognitif agama dari Queen University Belfast, Thomas Swan, membuat daftar beberapa alasan orang memutuskan pindah agama. Salah satunya adalah kemiskinan.

Miskin, membuat orang menjadi lebih religius. Mereka lebih sering berdoa karena tekanan “takdir”, mencari rasa aman. Agama, menawarkan rasa tersebut. Oleh sebab itu, orang akan lebih mudah menerima agama baru itu.

3. Rasa takut yang muncul menjelang ajal.

Dulu banget, saya punya tetangga beragam Katolik. Renta dan sakit-sakitan, beliau sudah menerima sakramen minyak suci. Itu semacam pemberkatan untuk mereka yang hampir meninggal. Namun, si kakek ini bilang kalau dirinya takut doa-doa itu nggak diterima karena sangat tidak taat beragama.

Si kakek memutuskan untuk pindah agama, masuk Islam. Sebelum meninggal, dibimbing seorang ustaz, beliau mualaf. Ditemani keluarganya yang beragama Katolik, si kakek mengucapkan dua kalimat syahadat. Selama beberapa hari, bapak-bapak kampung yang biasa pengajian berkunjung untuk mendoakan dengan cara Islam. Tidak lama, si kakek meninggal dunia.

Baca juga:  Air adalah Salah Satu Alasan Islam Ada

Menyaksikan si kakek mengucapkan dua kalimat syahadat, dikelilingi dan turut didoakan anak cucu Katolik adalah pemandangan paling menyentuh yang pernah saya saksikan. Sampai saat ini pun, saya memandang pindah agama bukan hal aneh. Sama-sama berdoa “Kepada Yang Baik” tentu tidak ada “yang tidak baik”. Itu sih kalau saya, nggak tau kalau yang ngamukan itu.

4. Takut nggak bisa masuk surga.

Hmm…bisa dipahami, sih. Surga dan neraka bisa menjadi pertimbangan orang pindah agama. Pernah terjadi, di salah satu teman kampus saya. Sejak kecil, dia sudah ditinggal pergi bapaknya. Sejak kecil pula, dia nggak pernah diajari beragama yang benar oleh ibunya. Maka, ketika mencoba mendalami sendiri, dia tidak merasa nyaman.

Kegelisahan itu, dan rasa takut nggak bisa masuk surga kelak, bikin dia memutuskan pindah agama. Dia berharap bisa lebih rajin beribadah dan beramal setelah pindah agama. Dan nanti, ketika sudah waktunya, dia menemukan rasa damai di surga. Saya kasih amin panjang betul ketika dengar ceritanya.

5. Menemukan rasa nyaman setelah kekecewaan.

Sering terjadi orang menjadi terpuruk karena satu rasa kecewa. kekecewaan di dua hal yang pernah saya lihat, yaitu soal cinta dan masalah keluarga. Dua masalah ini, ketika menghantam berbarengan, bisa bikin K.O mereka yang mengaku jagoan. Stres, membuat mereka kehilangan orientasi, bahkan tujuan hidup.

Ketika ia mencoba berdoa dengan cara agama tertentu dan menemukan rasa nyaman, pindah agama terjadi. Nyaman itu nggak ada salahnya. Nggak usah terlalu manut sama Fourtwnty yang bilang, “Rasa bosan membukakan jalan mencari peran. Keluarlah dari zona nyaman.” Haeshh, prek.

6. Doa yang tak kunjung dikabulkan.

Kok secetek itu, sih mikirnya? Eits, jangan sampai kamu heran. Isi kepala manusia itu nggak bisa ditebak. Yang buat kita terdengar nggak masuk akal, buat orang seperti itu terasa kenyataan. Ya kayak ngakunya bukan demo politik, tapi gerakan agama itu.

Ada orang yang sudah capek berdoa. Sudah bertahun-tahun nggak dikabulkan. Mungkin ini ada hubungannya sama kemiskinan di atas. Kok ya ndilalah pas sudah pindah agama, doanya terkabul. Punya anak, misalnya. Memang, sering, agama itu bekerja secara misterius.

Baca juga:  Camkan Ini: MUI Melarang Penggunaan Ayat Al-Quran dan Hadis untuk Kepentingan Politik Praktis

7. Tertarik dengan sejarah agama tertentu.

Sejarah kamu bilang? Iya, jangan jadi orang gumunan begitu, lho. Ini salah satu kisah nyata favorit saya. Saya punya saudara jauh, yang ketika masih kelas 2 SMA, memutuskan untuk pindah agama, dari Katolik ke Islam. Ibunya yang ngamuk ketika tahu kabar itu, naik pitam, lalu membakar sertifikat pindah agama.

Butuh waktu 4 tahun buat ibunya untuk menerima keputusan itu. Ketika ditanya kok mau pindah agama, saudara saya menjawab dengan enteng, “Karena sangat seru ketika membaca literatur soal Islam.” Saudara saya ini memang suka membaca kisah-kisah Ahmad Wahib dan Rumi. Sejarah yang ditulis dengan cara story telling itu membuatnya jatuh cinta.

Meski mengaku tertarik dengan literatur Islam dan menjadi sebab pindah agama, saudara saya ini tetap menganggap, “Katolik itu tetap keren”. Well, soal hati, siapa yang bisa dan boleh menggugat? Ya Gusti Allah sendiri, saya rasa.

8. Karena asuhan nenek buyut.

Ini terjadi kepada ibu saya sendiri. Dulu, ketika masih kecil, karena punya banyak anak, nenek saya berbagi tugas dengan nenek buyut untuk mengasuh. Ibu saya, dapat jatah diasuh oleh nenek buyut, sementara bulik saya diasuh oleh nenek.

Hasilnya, karena nenek buyut saya beragama Katolik, ibu saya pun “disesuaikan”. Sementara itu, nenek saya beragama Islam. Maka jadilah, bulik saya beragama Islam. Jangan khawatir, keluarga tetap guyub dan dekat satu sama lain. Agama adalah diskusi sunyi masing-masing dengan Tuhan, yang terjadi di dalam kamar yang terkunci rapat.

9. Karena rasa penasaran.

Cara hidup seseorang memang misterius. Kamu tahu penyanyi namanya Marcell Siahaan? Beliau pernah beragama Kristen, lalu Buddha, terakhir Islam. Bukan, bukan karena hobi pindah agama. Beliau itu tipe orang pencari dan mencari. Itu beliau sendiri yang bilang, bukan saya.

“Saya tipe pencari dan mencari. Pencarian spiritual yang sendiri banget dan pencari yang personal hubungan antara saya dan yang maha kuasa. Saya tidak pernah kompromi dengan omongan orang,” katanya.

10. Pingin terkenal (lagi).

Isi hati, siapa yang tahu? Karena ketidaktahuan itu, maka banyak orang suka berspekulasi. Halah, pakai kata canggih, bilang saja bergunjing. Ketika ad aartis yang pindah agama, gunjingan seperti seperti “diwajarkan”. Pingin terkenal lagi, dengan mengendarai pemberitaan media. Apalagi kalau pindahnya dari minoritas ke mayoritas. Wah itu….hehehe…