Nyari-nyari Kesalahan Awkarin Emang Lebih Enak

awkarin budiman sudjatmiko poltak hotradero twitter pamer sedekah giveaway driver ojek yang kehilangan motornya

awkarin budiman sudjatmiko poltak hotradero twitter pamer sedekah giveaway driver ojek yang kehilangan motornya

MOJOK.COAwkarin bikin banyak kebaikan dan diunggah ke media sosial. Ngapin sih kebaikan-kebaikan Karin Novilda itu diperbandingkan dan dibuat ribet?

Bersama Young Lex dan Atta Halilintar, nama Awkarin masuk dalam daftar influencer paling dibenci. Well, kata dibenci mungkin terlalu jahat. Kamu bisa menggantinya menjadi: tidak disukai. Alasan-alasan mencari sensasi dan ad-sense Youtube dipakai untuk membenci ketiganya.

Namun, meski katanya dibenci, ketiganya tetap diikuti banyak orang. Nia Lavinia pernah menulis alasan bad influencer tetap disukai. Dia menulis begini:

“Ternyata eh ternyata alasan kenapa banyak orang ngasih panggung dan suka sama konten Bad Influencer itu karena kita pada dasarnya memang suka ngelihat kebodohan dan keributan.”

“Nyatanya dengan menonton kebodohan dan perilaku menyebalkan orang lain, kita jadi merasa punya pencapaian karena merasa lebih pintar, lebih bermoral, dan lebih superior dari mereka. Jadi kita senang deh.”

“Dan inilah yang dibaca sempurna oleh para Bad Influencer ini. Karena mereka udah tahu ‘pasar’ bahwa manusia suka keributan dan kebodohan, makanya mereka dengan sengaja bikin konten sampah yang bully-able supaya bikin yang nonton ngerasa lebih baik dari mereka. Kalau kata Awkarin, nggak apa-apa kalian yang suci dan aku yang penuh dosa—yang penting aku lebih kaya dari kalian semua HAHAHAHA.”

Dari kenyataan itu lahir yang namanya sensasi. Sebuah kata yang digunakan oleh seorang politikus untuk mengkritik Awkarin.

Ceritanya, Awkarin sedang rajin-rajinnya berbuat kebaikan. Mulai dari menyumbang ribuan nasi bungkus untuk demonstran, bersih-bersih sampah di lokasi demo, ikut memadamkan api di lokasi-lokasi kebakaran lahan dan hutan, membelikan motor buat driver ojol yang motornya hilang, dan lain sebagainya.

Dan tentu saja dia mengunggah “peristiwa-persitiwa” itu di media sosial. Lagi pula salah satu kebaikan yang dilakukan Awkarin adalah hasil mainan medsos. Dia jadi tahu ada driver ojol yang kehilangan motor karena unggahan orang lain di Twitter. Masuk akal dong kalau Awkarin lalu cari info si driver untuk dikirimi motor atau uang tunai.

Apa yang salah dari kebaikan-kebaikan yang dilakukan Awkarin? Kalau dilihat dengan hati yang jernih, tanpa menyematkan embel-embel influencer, perbuatan Awkarin adalah perbuatan selayaknya manusia dengan rezeki lebih. Perbuatan mulia yang seharusnya dilakukan siapa saja ketika ada sesama tertimpa musibah.

Namun, banyak orang yang kayaknya gagal melihat sosok Awkarin sebagai insan tunggal. Yang bisa berbuat baik tanpa tujuan lain. Yang iklas melakukan itu semua.

Banyak orang yang enggan menanggalkan citra bad influencer pencari viewers di YouTube ketika “menilai” kebaikan Awkarin. Akun Poltak Hotradero misalnya, yang menyarankan Awkarin untuk ingat menabung dan kalau bikin kebaikan nggak usah “seheroik” itu.

Dan,

Hati saya geli melihatnya. Petuah bijak Pak Poltak nggak salah. Namun, kebijaksanaannya terasa kurang lengkap. Gini, lho, Pak. Bagaimana jika Awkarin memang sudah punya tabungan untuk hari tua? Bagaimana jika dia sudah berpikir sejauh itu? Bagaimana kalau ternyata uang untuk kebaikan Awkarin memang “uang berlebih” yang dia dapat dari profesi sebagai influencer dan model?

Saya sih takutnya Bapak dianggap menggurui. Padahal saya juga tahu Pak Poltak memang punya ilmu ekonomi yang sangat baik dan pengalaman hidup yang panjang. Satu hal lagi, Pak. Salah satu keresahan saya adalah tidak bisakah kita melihat kebaikan manusia sebagai perbuatan yang tunggal dan murni tanpa kita perlu menyertakan kecurigaan di dalamnya?

Karena kecurigaan itu, seorang politikus yang saya yakin pintar sundul langit menyebut perbuatan Awkarin sebagai “sensasi”, bukan “esensi”. Seorang politikus memperbandingkan kebaikan orang lain untuk menunjukkan bahwa dirinya pandai merangkai kata dan terlihat bijak.

Adalah Budiman Sudjatmiko yang membandingkan kebaikan Awkarin (sebagai “sensasi”) dengan perjuangan Tri Mumpuni (sebagai “esensi”). Tri Mumpuni adalah seorang pemberdaya listrik di lebih dari 60 lokasi terpencil di Indonesia. Untuk perjuangan dan kebaikannya, Tri Mumpuni diganjar penghargaan Ashden Award 2012.

Lagi-lagi, seperti yang dilakukan Pak Poltak, cuitan Budiman mungkin tidak bertujuan jahat. Namun, penggunaan kata “sensasi” tidak tepat digunakan dalam konteks ini. Apalagi ketika ada dua entitas yang digunakan dalam satu konteks, yang terjadi adalah pembandingan. Masak kebaikan mau diperbandingkan?

Menurut KBBI, kata “sensasi” punya tiga arti. Salah satunya berbunyi demikian: “Sesuatu yang merusuhkan (menggemparkan); kegemparan, keonaran.”

Kata “sensasi” memang bisa berkonotasi negatif, apalagi ketika disematkan di depan nama seorang influencer misalnya menjadi: “sensasi Awkarin”. Apalagi diperbandingkan dengan Tri Mumpuni.

Banyak orang yang berpikiran terlalu sempit, Pak Budiman, dan hanya akan berkesimpulan bahwa Bapak sedang membuat perbandingan. Apalagi dibandingkan dengan heroiknya Tri Mumpuni, sosok pejuang pengadaan listrik di 60 daerah terpencil, kebaikan yang seharusnya dilakukan oleh Bapak dan teman-teman Bapak di pemerintahan.

Lagian, kalau misalnya Awkarin sedang melakukan rebranding, apa salahnya? Apa salahnya dia mencoba mengubah citra bad influencer dengan melakukan kebaikan dan diunggah ke media sosial? Toh lebih adem lihat kebaikan Karin Novilda di Twitter ketimbang setiap hari mengonsumsi bentakan-bentakan dan kebodohan anggota DPR, teman-teman Pak Budiman itu.

Btw, Pak Budiman diajak berbuat kebaikan, nih:

BACA JUGA Awkarin dan Pesona Remontada: Dari Barcelona, As Roma, Hingga Liverpool atau artikel Yamadipati Seno lainnya.

Exit mobile version