MOJOK.COLong distance marriage di masa pandemi itu beratnya dua kali lipat ketimbang LDR. Berat menahan rasa kangen, terutama rasa sange dan kebutuhan biologis lainnya.

“Tujuan menikah itu apa?”

Suatu kali, di kursus pernikahan, pembimbing bertanya kepada peserta. Banyak yang menjawab soal cinta, sudah lama pacaran, sudah usianya, sudah “diteror keluarga”. Pembimbing tidak menyalahkan. Dia hanya menambahkan. Yang pertama dari pernikahan adalah prokreasi.

Prokreasi itu, gampangnya, adalah usaha untuk melanjutkan keturunan. Punya anak. Tapi, gimana ceritanya kalau sebuah pasangan harus menghabiskan waktunya dengan berjauhan? Long distance marriage karena berbagai alasan. Salah satunya, yang sedang saya dan istri alami, karena urusan pekerjaan.

Long distance relationship (LDR) itu nggak enak banget. Risikonya sangat tinggi. Apalagi kalau komunikasi tidak lancar. Ya, you know the rest. Muncul rasa tidak percaya, curiga. Was-was kalau pasanganmu selingkuh. Tanpa mental dan komunikasi, LDR pasti ambyar. Bagaimana dengan Long distance marriage? Remuk, lur.

Dan pandemi corona pun datang….

Long distance marriage dan LDR, di zaman sekarang, bisa sedikit “diakali” dengan berbagai kemudahan. Jarak jauh bisa diakali dengan kunjungan sebulan sekali atau dua. Naik kereta, murah, nyaman. Tinggal nunggu 6 sampai 8 jam, bisa ketemu. Namun, pandemi corona menghentikan itu semua. Pertemuan virtual satu-satunya opsi.

Tema ini sering jadi bahan bercanda kru Mojok. Kebetulan, beberapa kru sudah menikah. Ada yang sudah punya anak dan harus Long distance marriage. Untungnya, kampung halaman salah satu kru masih mengizinkan orang masuk. Sialnya, istri saya kerja di Surabaya, di mana Jawa Timur menjadi daerah dengan keprihatinan corona tertinggi saat ini.

“Wah, kudu ngampet sange, nih. Kuat berapa lama?”

Adalah bentuk bercandaan yang, terdengar lucu, tapi bikin sesak juga. Kata “sange” itu, bagi kamu yang sudah menikah dan lagi Long distance marriage, bisa memantik bayangan-bayangan berbahaya yang pada ujungnya bikin jiwa ini merana. Ya karena nggak ada “pelampiasan” dari kata sange itu tadi. Sebagai manusia yang sudah menikah, kata sange sebetulnya nggak tabu atau vulgar, dong.

Gimana mau dilampiaskan? Gesekkan ke lubang pintu? Sabetkan ke batang pisang? Perih, dong. Mau nggak mau, long distance marriage dan sange berujung kembali ke haribaan pacar jiwa dan raga para lelaki, yaitu “tangan kanan”. Hehehe….

Baca juga:  Di Jogja Apa-apa Memang Murah, Dari UMR, Wisata, Sampai Biaya Kuliah

Tapi, apa ya long distance marriage itu sama kayak LDR dan sebatas menahan kangen (baca: sange) saja? Pada titik ini, saya bersyukur diwajibkan kursus pernikahan oleh gereja. Satu pandangan penting yang perlu selalu diingat bunyinya seperti ini:

“Menikah itu tidak pernah soal menyatukan laki-laki dan perempuan saja. Menikah adalah menyatukan dua manusia berbeda untuk bersepakat hidup dalam satu napas, untuk terus berkompromi menentukan satu arah.”

Ada kata “sepakat” dan “berkompromi” di sana, yang oleh gereja diikat oleh janji pernikahan. Apa yang sudah disatukan oleh Tuhan, yaitu laki-laki dan perempuan lewat janji pernikahan, tidak boleh diceraikan oleh manusia. Jadi, ketika sudah menikah, seharusnya, cara berpikirnya berbeda dengan LDR atau perkara menahan sange.

Mudahnya, menikah itu levelnya lebih tinggi ketimbang LDR. Karena levelnya sudah lebih tinggi, saling pengertiannya juga, dong. Saya dan istri sudah 4 bulan tidak bertemu. Jangan bilang “baru juga 4 bulan”, dong. Saya tahu TKW itu lebih berat, bisa ketemuan paling cuma satu kali dalam setahun. Namun, buat yang baru nikah, 4 bulan itu rasanya lama banget.

Tips long distance marriage biar nggak kayak selevel LDR

Satu, karena sedang berada dalam masa pandemi, jangan sampai pasanganmu merasa “sendirian”. Misalnya, istri kamu bakal seharian penuh di kos selama beberapa bulan. Bosannya minta ampun. Yang di Jogja masih mendingan bisa pergi-pergi asal patuh sama protokol kesehatan. Yang di Surabaya, keluar rumah, artinya waspada penuh karena di sana masuk zona merah.

Teorinya sama, kok, kayak LDR, menyempatkan video call itu sebaiknya dilakukan. Kamu tahu apa yang “ajaib” bagi pasangan long distance marriage? Ucapan sederhana seperti “selamat pagi” itu rasanya beda sekali. Ada rasa “nyes” di dada. Sebuah perhatian kecil, tetapi maknanya besar bagi pejuang jarak jauh.

Dua, jangan sering-sering bilang: “Kamu ke sininya kapan? Ke sini dong.” Sudah menikah, pastinya tahu kalau pasangan itu saling membutuhkan. Namun, di masa pandemi, nekat nyamperin itu risikonya tinggi. Bagaimana kalau saya nekat naik motor? Tidak menutup kemungkinan saya tertular corona di jalan dan menulari istri.

Baca juga:  Ricuh Deklarasi #2019GantiPresiden di Surabaya, dari Hotel Ahmad Dhani Hingga Masjid

Bisa juga, istri nekat pulang ke Jogja. Namun, risikonya luar biasa tinggi. Istri saya nggak cuma menulari saya, tetapi orang tua dan saudara. Situasi ini membuat kita harus menekan rasa kangen dan sange begitu rupa. Sedihnya sampai bikin kebas. Jadi, sebaiknya jangan sering-sering dibahas. Bilang kangen saja sudah cukup. Sudah cukup untuk mendeskripsikan cinta yang tertahan jarak dan pandemi. Corona, kamu asuogg….

Tiga, jangan sering ngambek. Saya bersyukur punya istri yang sabarnya sundul langit. Nggak gampang ngambek lalu menghilang nggak bisa dikontak. Kalau marah, dia cukup tidur saja. Marahnya hilang. Marah yang murah meriah, nggak perlu “disuap” pakai beliin tas atau skincare mahal.

Kami sudah lupa kapan terakhir kali marahan. Dan keberkahan itu saya syukuri sekali di saat pandemi. Kalau LDR, marahan lalu menghilang, kemudian putus adalah hal “biasa”. Kalau menikah, lalu mau putus? Repot banget. Ketika long distance marriage, marahan bikin usaha menekan kangen dan sange menjadi dua kali lipat.

Apalagi, kan, kalau marahan, enaknya disamperin. Dipeluk untuk minta maaf. Lha kalau pandemi? Setelah minta maaf, bisa mati bareng malahan karena tertular corona. Berjiwa besar dan menjadi lebih dewasa adalah pilihan yang tidak bisa dihindari. Kesadaran enak kalau nggak marahan itu harus dijaga.

Itulah kondisi long distance marriage di masa pandemi yang saya rasakan. Yang bisa kita lakukan hanya bersabar dan berdoa. Terutama berdoa biar orang lain nggak goblok amat untuk bepergian tanpa patuh protap kesehatan dan menulari pasangan kita.

Salam saya untuk para pejuang long distance marriage di masa pandemi. Pada titik tertentu, mental kita ditempa oleh jarak dan status. Saya yakin setelah pandemi, kita jadi persona yang lebih baik, menjadi kepala keluarga yang lebih bakoh dan tahan banting.

BACA JUGA Jangan Menikah Kalau Maunya Cuma Cari Bahagia atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.