• 124
    Shares

MOJOK.CODulu, kubu Jokowi mengecam “Baratayuda”-nya Amien Rais, sekarang mereka pakai istilah “perang total”. Ya itu sama saja, Cuk! Kalau belum berubah, itu istilahnya munafikun.

Katanya ingatan politik itu sangat singkat. Pagi menyerang lawan, malamnya berubah menjadi kawan. Senin mengecam strategi atau istilah yang digunakan lawan, Sabtu justru menggunakan strategi atau istilah yang sama-sama kacaunya. Dan anggapan itu benar adanya. Pilpres 2019 dan panggung politik Jokowi vs Prabowo, seperti menciutkan lingkar otak manusia.

Satu lagi bukti betapa kacaunya manusia-manusia politik yang terlibat di sekitar Pilpres 2019 Jokowi vs Prabowo adalah penggunakan sebuah istilah. November 2018, Amien Rais bikin sensasi, seperti yang sudah-sudah, ketika menggunakan istilah Baratayuda atau Armageddon, untuk menggambarkan Pilpres 2019.

Tanggal 30 November 2018 yang lalu, Amien Rais kembali menciptakan istilah yang bikin perut ini sampai mulas ketawa. Acaranya adalah Muktamar Pemuda Muhammadiyah XVII di Yogyakarta ketika Mbah Amien Rais meramalkan akan terjadi Baratayuda dan Armageddon di 17 April 2019 atau ketika coblosan.

“Ini permainan memang tinggal empat setengah bulan lagi. 17 April itu adalah pertaruhan yang terakhir apakah unsur-unsur PKI akan menang ataukan sebaliknya. Ini pertarungan Baratayuda, Armageddon, sudah kurang dari empat setengah bulan. Jadi kita harus betul-betul konsolidasi,” kata Mbah Amien ketika Muktamar.

Sebentar, ini mau Baratayuda atau Armageddon duluan? Jangan sampai kebalik. Mbah Amin tahu, kan artinya Baratayuda dan Armageddon. Kan enggak lucu kalau Armageddon duluan. Mau perang di mana kalau dunia udah kiamat? Cebong dan kampret mau tweet war di pintu neraka? Kepada Hanum Rais, yang sabar ya.

Baca juga:  5 Kegiatan yang Cocok Dilakukan Setelah Nyoblos

Apa respons kubu Jokowi? Ya nggap perlu dijelaskan lagi. Seperti kentut menemukan lubang pembuangan, berdesis keluar menguar. Mereka ramai-ramai mengecam Amien Rais. Dasar nggak punya perasaan, mengganggu persiapan Mbah Amien yang mau menunaikan nazar jalan kaki dari Jogja menuju Jakarta. Kan jadi batal, dasar!

“Sedih saya, sekarang banyak tokoh, seperti Pak Amien, melihat pilpres itu sebagai perang, sebagai bencana yang akan menghancurkan bumi,” ungkap Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Abdul Kadir Karding, kepada wartawan.

Itu komentar Bapak Abdul Kadir Karding. Ace Hasan Syazdily, Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf lain lagi kalimatnya:

“Jangan ditarik-tarik ajang demokrasi ini seperti perang. Rileks saja. Justru kalau Pak Amien Rais selalu menyampaikan narasi peperangan dalam Pilpres membuat demokrasi kita nanti menakutkan,” kata Ace. Menurut Ace, Pilpres bukan perang yang saling menjatuhkan, melainkan mekanisme politik biasa dalam proses demokrasi untuk memilih presiden lima tahun sekali.

“Pilpres itu bukan Perang Baratayuda, bukan Armageddon, bukan ajang untuk saling jatuh menjatuhkan, melaikan adu program, gagasan, dan ide yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa,” tutur Ace, politisi Golkar.

Sekali lagi, Ace menggunakan kalimat “Jangan ditarik-tarik ajang demokrasi ini seperti perang. Rileks saja.”

Nah, masih ingat kaliat saya di paragraf pertama? Ingatan politik itu sangat singkat. Sangat singkat, sampai-sampai terdengar munafik di telinga.

Setelah dahulu mengecam habis-habisan kelucuan Amien Rais, sekarang kubu Jokowi menggunakan istilah “perang total”. Apa tujuan istilah itu?

Jadi, menurut Wakil Ketua TKN Arsul Sani, “perang total” adalah semua kekuatan tim di daerah-daerah dikerahkan secara menyeluruh untuk memenangkan Pilpres 2019. “Melakukan kegiatan-kegiatan infanteri [pasukan tempur darat] dalam bentuk micro targeting micro canvasing,” ujar Arsul di kompleks DPR RI, Senayan.

Baca juga:  Dendam Nyi Blorong Kaum Gemini

Arsul menuturkan, selama melakukan perang total TKN telah memetakan daerah-daerah agar targetnya jelas dan kerjasama yang benar-benar konkret. Ia mencontohkan, seperti melakukan pembagian tugas seorang anggota calon legislatif (caleg) bersama para relawan mengunjungi rumah-rumah warga yang ada di tingkat kecamatan sampai rukun terangga (RT).

Sungguh sangat militerisma. Dahulu mengecam penggunaan istilah “Baratayuda” sebuah kata yang merujuk kepada peperangan habis-habisa. Sekarang, TKN menggunakan istilah “perang total”. Katanya Pilpres 2019 itu rileks? Katanya Pilpres harus menyebarkan kesejukan? Dahulu benci, sekarang menggunakan. Apa istilahnya sikap mencla-mencle seperti itu? Dulu sih saya mengenalnya sebagai munafik. Mungkin kalau di politik sekarang disebut sebagai “strategi politis”. NGISING!

Baik “Baratayuda” maupun “perang total” itu sama saja. Sama-sama menyeramkan. Menjadikan seolah-olah panggung politik ini medan uji coba nuklir. Kacau, penuh kehancuran. Harus menghancurkan lawan, meniadakan ruang untuk diskusi secara sehat.

Kalau pada akhirnya bakal pakai istilah yang pernah digunakan lawan, mending nggak usah sok bijak dan paling benar. Jangan salah, “amnesia total” ini tidak terjadi di kubu Jokowi saja. Kubu Prabowo sama saja. Bikin gaduh semua. Ini dua-duanya kalah nggak bisa ya di Pilpres 2019?

Memang, pada akhirnya, Valentine memang bukan budaya kita. Budaya kita adalah militerisma, amnesia politik, dan menghamba kepada kejahatan. Sejarah sudah membuktikan.