MOJOK.COKritik untuk Pak Anies Baswedan jadi bengkok substansinya ketika Faizal Assegaf membawanya ke ranah agama. Bikin hawa menjadi gerah dan kecurigaan muncul.

Hidup di Indonesia ini butuh “stok heran” sebanyak mungkin. Dan saya bersyukur punya. Saya doakan kamu semua menemukan cara untuk mengumpulkan “stok heran”. Bukan apa-apa. Ini demi kesehatan mentalmu saja. Saya sayang kalian semua. Terutama bagi kalian yang mengikuti berita-berita politik.

Salah satu instrumen di dalam dunia politik adalah kritik. Sebuah istilah yang bisa membuat orang menarik napas panjang ketika tahu dirinya akan jadi objek kritikan. Begitu banyak orang yang nggak nyaman dengan kritik. Padahal, dan seharusnya, semua orang butuh kritik demi perbaikan dirinya sendiri. Nggak mungkin ada kritik kalau semuanya sempurna. Kecuali ketika orang mengkritik secara sengaja for the sake of benci saja.

Pada titik ini, saya menghabiskan sekitar satu galon dari stok heran ketika ada orang yang gagal melihat kritik secara proporsional. Semakin parah dan mengherankan ketika kritikan itu seperti sengaja dibengkokkan. Tujuannya, supaya orang nggak lagi memahami substansi kritik. Orang lalu teralihkan ke isu lain yang dijadikan cover. Ketika netizen ramai, substansi kritik tidak lagi menjadi top of mind.

Adalah Faizal Assegaf yang bikin saya heran betul. Anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menghabiskan lima kolom twit untuk menyemburkan sesuatu yang sangat tidak berguna.

Kritik kepada pemimpin suatu daerah seperti Anies Baswedan sudah lumrah. Apalagi kalau si kepala daerah itu “lucu”. Kebijakan yang dia buat dan kelakuannya di depan publik sangat unik. Bikin orang pasti gatal untuk mengkritik.

Baca juga:  Kamu Yakin Bahagia dengan Datangnya Bulan Ramadan?

Lantas, kenapa Faizal Assegaf perlu membelokkan kritikan masuk ke isu agama? Apakah Pak Anies Baswedan sendiri risih dengan kritik? Saya nggak tahu keaslian hati nurani Faizal Assegaf itu bagaimana. Apakah beliau pendukung Pak Anies Baswedan? Kalau betul, keputusannya menyemburkan pembengkokkan kritik justru semakin nggak masuk akal.

Kritik, jelas berasal dari manusia. Mana ada pohon sengon berteriak-teriak mengkritik kebijakan Pak Anies Baswedan ketika menggunduli Monas, misalnya. Kritik, seharusnya dinilai dari substansinya, bukan dari orang yang membawanya. Ada masalah apa Faizal Assegaf sama orang Nasrani yang berniat bersuara?

Apalagi sampai menggunakan istilah “kehilangan kesantunan”. Seakan-akan, semua orang Nasrani pasti brangasan ketika menyampaikan kritik ke Pak Anies Baswedan. Dear Faizal Assegaf, yang justru terjadi adalah orang Nasrani paham kok posisi mereka sebagai minoritas. Lebih damai ketika memilih diam dan nrimo ing pandum ketimbang mengritik dan malah dianggap mau melawan mayoritas. Faktanya begitu, bos. Tanpa peduli kritikan itu logically correct atau nggak.

“Andai Baginda Jesus dibangkitan: Menangis, ajaran kasihnya berubah jd produsen kebencian,” kata Faizal.

FYI saja, Faizal, Yesus sudah bangkit, kok. Dia ada di dalam hati “anak-anaknya”. Beliau tidak akan menangis karena dosa “anak-anaknya” sudah diampuni. Kami mengamalkan kasih sebaik mungkin. Tenang saja. Lha wong mau renovasi gereja malah dipersekusi tuh.

“Pdhal, mrk jauh lebih unggul dari Anies, tp hawa nafsu membuat mrk kehilangan keseimbangan,” kata Faizal lagi.

Baca juga:  5 Pohon yang Perlu Ditanam Anies Baswedan di Monas

Maaf-maaf saja, kami tidak merasa lebih baik dari siapa pun, termasuk Pak Anies Baswedan. Apakah dengan mengkritik lantas kami unggul atas mereka yang kena kritikan? Ya nggak. Logika macam apa itu? Dengan bilang begitu, Faizal seperti menggeser substansi kritik dan membenturkan Nasrani dan pemeluk agama lain.

Pak Anies Baswedan, seseorang yang pernah Faizal sebut sebagai “keturunan Arab” jelas identik dengan kaum muslim. Jadi, Faizal malah sudah membenturkan dua hal: agama dan keturunan. Bukankah itu bukan hal yang elok?

Gini ya Faizal. Kalau misalnya ada orang yang mengkritik Pak Anies Baswedan secara brangasan, atau meminjam istilah kamu, “kehilangan kesantunan”, ya cukup tegur orangnya. Nggak perlu dan nggak ada faedahnya dengan membawa agama orang itu. Ambil substansi kritiknya, buang atribut yang tidak berguna. Bukankah begitu?

Faizal tahu sendiri kalau orang sekarang gampang panas. Ketika banyak orang baik berusaha sangat keras untuk memperkokoh tiang toleransi, twit kamu ini malah bikin suasana jadi makin gerah.

Untung saja, Faizal menutup kuliahnya dengan mengajak Pak Anies Baswedan menjalin dialog dengan pihak gereja supaya “politik prasangka” bisa dihilangkan. Bukankah itu inti dari ajakan kamu? Kalau bisa langsung ke intinya, kenapa perlu menyusun sampiran yang bersayap dan bikin hawa terasa sumpek?

Sekali lagi, sikap seperti itu malah membengkokkan substansi kritik. Membuat orang menjadi fokus ke isu agama, ketimbang kejernihan kritik untuk Pak Anies Baswedan. Ini kritik saya buat Faisal Assegaf dan saya nggak tahu apa agama beliau.

BACA JUGA Soal Ormas Persekusi Gereja di Riau, Menteri Agama Nyatakan itu Bukan Kasus Intoleransi atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.