• 86
    Shares

MOJOK.COHoaks dan penyebaran kabar bohong mewarnai kontestasi Jokowi dan Prabowo. Melihat situasi itu, mana yang lebih penting: akhlak atau otak?

Konon, tidak ada kontestasi politik yang tidak panas. Pemilu di Amerika Serikat misalnya, ketika topik rasial sangat kental. Atau tak perlu jauh-jauh, Pemilu 2014 di Indonesia, ketika kata “hoaks” mulai ramai gunakan. tidak hanya digunakan menjadi bagian narasi, tetapi sebagai alat untuk menyerang salah satu pasangan calon.

Kita semua pastinya masih ingat dengan tabloid Obor Rakyat, yang narasi di dalamnya sangat sengit kepada Jokowi. Saat itu, Jokowi, yang berpasangan dengan Jusuf Kalla, disebut sebagai keturunan PKI, hingga bapak-ibunya orang China. Kabar bohong menjadi senjata. Untuk babagan politik, sejak zaman dulu, seperti mendapat tempat untuk berkembang.

Jangan salah, bukan hanya Jokowi yang diserang dengan kabar bohong. Serangan tidak etis itu juga ditujukan kepada Prabowo dan Hatta Rajasa. Pasangan yang kala itu didukung enam partai diserang hal-hal pribadinya. Mulai dari soal pernikahan yang gagal, kemampuannya sebagai “laki-laki”, dan lain sebagainya.

Semakin runyam, ketika tahun 2019 nanti, kedua sosok ini akan kembali berhadap-hadapan di pemilihan umum. Pasangan keduanya sudah berganti. Namun, cara “berkampanye” anggota tim masing-masing sangat tidak menyenangkan. Sungguh sukses membuat orang yang netral menjadi muak dengan tema Pilpres 2019.

Jokowi, Prabowo, dan orang-orang yang mendukung mereka adalah sosok unggulan. Kamu boleh menggunakan kata “pintar” untuk menyebut mereka. Bagaimana tidak, ada yang lulusan universitas ternama, universitas di luar negeri, menyandang gelar yang tidak mudah didapat, dan mendapat paparan pendidikan yang luas.

Lantas mengapa, manusia dengan bekal pendidikan yang dalam seperti itu, bisa dengan mudah menyebarkan hoaks untuk menyerang orang lain? Sebetulnya bukan hanya hoaks, tetapi cara mereka menyerang sudah tidak menyenangkan untuk dibaca dan dipahami.

Mulai dari menggubah lagu anak-anak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, menyerang masa lalu seseorang, pokoknya justru hal-hal personal yang mendapat porsi banyak untuk dirundung. Pertarungan gagasan seperti menjadi pemanis belaka ketika diadakan acara debat calon presiden dan wakil presiden oleh stasiun televisi. Mengapa orang-orang pintar itu seperti menepikan akhlak?

Baca juga:  Amien Rais Siap Maju Sebagai Capres 2019 Melawan Jokowi

Supaya lebih mudah, saya akan memberikan gambaran dari sisi agama saja. Saya mendapatkan masukan yang sangat baik dari Ahmad Khadafi, redaktur Mojok yang beragama Islam. Saya sendiri Katolik dan saya akan berusaha memadukan dua pandangan dalam masing-masing agama kami.

Di dalam perspektif Islam, terutama para santri yang baru saja masuk pesantren, yang pertama dipelajari bukan kitab-kitab rumit seperti fikih, nahwu, sorof, balaghoh, ushul fiqh, sampai bab-bab faroid yang katanya sensitif. Para santri muda memulai pendidikan mereka di pesantren dengan mempelajari dua kitab, yaitu Akhlaqul lilbanin dan Ta’lim muta’alim.

Menurut kesimpulan Ahmad Khadafi, seorang santri diutamakan jadi orang baik lebih dulu, bukan jadi orang pintar dulu. Bukan santri tidak boleh pintar, tetapi tujuan pembalajaran ini adalah mengajarkan kepada seseorang bahwa belajar agama diutamakan agar dirinya terbiasa berperilaku baik.

Ya simple-simpel saja, misalnya menolong orang lain, bersabar ketika dihina, membantu nenek-nenek menyeberang jalan, dan lain sebagainya.

“Harapannya, saat kemudian si santri diisi dengan pelajaran-pelajaran agama yang lebih rumit, penerapan ilmu di masyarakat nantinya tidak hanya soal konsep benar atau salah saja, namun juga soal cara penanganan yang baik atau buruk juga. Sebabnya tentu saja didasarkan karena agama berisi mengenai ajaran kebaikan,” tulis Ahmad Khadafi di Mojok.

“Pemahaman agama begitu. Gak bisa ujug-ujug pinter. Santri-santri jaman dulu malah biasa ternak sapi atau bersawah dulu sebelum bisa ngaji. Mereka kenal dulu dengan lingkungan baru. Belajar beradaptasi dan belajar ber-adab lebih dulu. Setelah cukup matang, akhlak sudah baik, unggah-ungguh sudah jadi, ilmu yang rumit pun masuk,” lanjutnya.

Intinya adalah, landasan akhlak (seharusnya) sudah tertanam dengan baik ketika belajar agama. Jadi idealnya, tidak seharusnya kita memberi tempat kepada hoaks, penyebaran kabar bohong, menyerang menggunakan hal-hal negatif, dan menepikan pertarungan gagasan di tengah kontestasi Jokowi dan Prabowo.

Kalau di dalam Islam sudah digambarkan dengan gamblang seperti itu, di Katolik pun tak kalah jelas. Kami, umat Katolik, dikenalkan sejak kecil tentang Hukum Cinta Kasih. Ini hukum paling tinggi di antara semua ajaran dasar yang diberikan ketika Sekolah Minggu atau pelajaran-pelajaran agama selanjutnya.

Baca juga:  Usai Jurus Bangau Sandiaga Uno, Terbitlah Master of Kungfu SBY

Yang paling utama, diajarkan sejak kecil supaya menjadi dasar ketika belajar ilmu agama yang lebih rumit dan yang paling penting: ketika hidup di tengah orang banyak.

Hukum Cinta Kasih, kurang-lebih berbunyi: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Tolong cermati bagian “yang sama dengan itu”. Bagian ini menegaskan bahwa meski ada dikotomi “pertama” dan “kedua”, hukum tersebut sebetulnya sejajar, beratnya sama. Mengasihi sesama, tidak terbatas kepada mereka yang satu golongan, ras, agama, atau keturunan. Mengasihi sesama adalah “sama rata”, semua manusia, terutama musuh dan mereka-mereka yang kamu benci.

Berat? Ya tentu saja. Oleh sebab itu, mempelajari dan mempraktikkan Hukum Cinta Kasih adalah kerja seumur hidup. Tidak ada manusia yang bisa dengan sempurna melakukannya. Namun, paling tidak, hukum itu menjadi dasar, menjadi alasan Katolik itu devosi dan (seharusnya) penuh kasih.

Hukum ini menyentil kami, umat Katolik, untuk menjadi manusia yang hidup dengan batasan. Membatasi diri untuk tidak mencelakakan sesama, melukai hati sesama, berkontes secara fair, dan meminta maaf ketika berbuat salah. Akhlak, pada akhirnya adalah dasar.

Kamu boleh pintar, punya gelar ndakikndakik, lulusan luar negeri. Tetapi kepintaran kamu itu tiada ada gunanya ketika tidak punya dasar akhlak. Islam, Katolik, dan saya yakin semua agama dan kepercayaan menekankan kepada hal yang sama. Kalau kamu belajar agama, seharusnya tidak ada hoaks di tengah panasnya babagan Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019.

Kalau gamblang seperti ini, kita jadi bisa melihat dengan jelas: siapa yang tidak punya akhlak, atau mereka yang mematikan akhlak demi mengejar jabatan dan keuntungan sesaat.

Pada akhirnya, pertarungan akhlak dan otak di kontestasi Jokowi dan Prabowo adalah usaha untuk berlutut kepada kejernihan hati dan niat untuk bertarung secara sportif.