• 967
    Shares

MOJOK.CO Saya mendukung dwi fungsi hansip; sebagai pelindung warga dan penjaga konser dangdut. Tugas yang bikin mereka lebih friendly ketimbang tentara dan polisi.

Dahulu, beberapa teman seangkatan saya di SMP punya cita-cita diterima polisi. Beberapa mengidamkan menjadi bagian dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Saya? Saya hanya memikirkan bermain sepak bola sesering mungkin dan membaca komik sebanyak mungkin. Cita-cita? Persetan dengan cita-cita.

Toh menjadi pemain sepak bola profesional agak ditentang bapak saya. Waktu itu, pesepak bola Indonesia belum “seprofesional” sekarang. Maksudnya, para pesepak bola yang dekat dengan bapak saya tidak bertingkang seperti layaknya atlet. Mereka makan seenaknya, mabuk ketika ada kesempatan, dan begadang juga hampir tiap hari.

Justru yang saya tertarik adalah ketika memperhatikan kakung saya. Setiap mau coblosan, atau ada hajatan di kampung, kakung selalu menjadi rujukan keamanan. Ia selalu siap ketika dimintai tolong menjadi keamanan kampung. Pagi hari menjelang acara, beliau akan mengeluarkan seragam kebesaran, berwarna hijau pupus; kemeja, celana dan topi, dipadukan sepatu lars khas tentara, dan pentungan berwarna hitam. Kakung saya adalah hansip.

Setelah menyiapkan ubarampe tersebut, kakung akan menyiapkan setrika klasik, dengan tenaga arang yang membara. Sementara menunggu arang cukup panas untuk dimasukkan ke dalam setrikaan, kakung akan menyiapkan alas setrika berupa potongan daun pisang dan semangkuk air. Air? Betul, zaman dulu belum ada pewangi yang disemprot ketika setrika. Air dipercikkan sebelum kain dilindas dengan setrika supaya liciiiin.

Begitu khusyuk, kakung menyetrika seragam hansip miliknya. Kalau belum sampai licin, beliau belum akan berhenti menyetrika. Hanya satu seragam saja, proses menyetrika yang begitu luhur itu bisa berlangsung hingga 30 menit. Menjadi hansip seperti menjadi cita-citanya yang mulia, yang terwujud di usia menjelang senja.

Baca juga:  86, Adlun Fikri!

Sedikit takjub, tapi lebih sering saya dibikin heran dengan prosesi luhur nan panjang itu. Sebagai anak ingusan, saya belum memahami bahwa hansip itu begitu dekat dengan warga. Kakung selalu berusaha tampil dengan performa yang prima, rapi, dan tidak lupa, selalu dengan senyum menyembul dari balik topi hansip yang beliau kenakan dengan bangga.

Hari-hari ini, nostalgia melihat sosok almarhum kakung mengenakan seragam hansip kembali terbayang. Apalagi ketika polisi dan tentara cuma bikin takut. Para Pak dan Bu Polisi, alih-alih menunjukkan sikap yang melindungi dan melayani, justru bikin saya takut dekat-dekat. Apalagi ketika spion motor saya cuma sebelah dan lampu belakang mati. Hehe…

Sosok tentara juga menimbulkan aura yang sama. Teman bapak saya adalah tentara aktif. Beliau banyak bercerita soal pengalamannya di Aceh, di tengah kombatan GAM. Ngeri saya membayangkan. Namun, saya memahaminya sebagai tugas negara. Para tentara tentu pelayanan negara yang setia. Mereka hanya melaksanakan tugas, dari para “pemberi tugas” yang punya kepentingan dan wewenang.

Rasa takut dan sungkan kepada tentara semakin terasa ketika membaca berita penangkapan Robertus Robet, seorang dosen cum aktivis. Robertus Robet ditangkap setelah dianggap menghina ABRI (TNI) ketika berorasi di acara Kamisan. Saat itu, Robertus Robet menyanyikan salah “lagu perjuangan” di masa 98.

Nyanyian yang dipermasalahkan adalah gubahan dari lagu Mars ABRI (sekarang TNI) yang populer di kalangan aktivis reformasi 1998. Liriknya begini: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia / tidak berguna / bubarkan saja / diganti Menwa (Resimen Mahasiswa) / kalau perlu diganti Pramuka.

Sebelum bernyanyi itu, Robet terlebih dulu bilang: “Untuk hari ini saya mengajak semua teman-teman muda di sini untuk mengingat satu lagu tahun 1998, ketika reformasi digulirkan.”

Baca juga:  Masyarakat Main Hakim Sendiri karena Tak Percaya Kepolisian

Jika menonton orasinya secara penuh, bukan potongan di bagian lagu Mars ABRI saja, kamu akan mendapati bahwa niat Robertus Robet sangat jauh dari niat menghina tentara atau penegak hukum lainnya seperti polisi.

Robertus Robet mengingatkan kita akan bahayanya dwi fungsi tentara; sebagai penjaga keamanan negara dan bekerja di lingkungan sipil. Ketakutan akan lahirnya lagi otoritarianisme. Sebuah situasi yang ditentang begitu hebat oleh masa reformasi 1998.

Robertus Robet dianggap menghina tentara, dan ia ditangkap oleh polisi. Tentara, dan polisi, ketika bentrok bisa menunjukkan situasi yang mengerikan. Namun, ternyata lebih mengerikan ketika mereka bersatu untuk membungkam kebebasan berpendapat. Apalagi ketika pembungkaman itu tidak didasarkan oleh akal sehat untuk “membaca” konteks secara utuh.

Sampai pada titik ini, nostalgia akan keberadaan hansip muncul dengan hebat. Posisi hansip lebih dekat dengan warga, ketimbang tentara dan polisi. Hansip tidak ada yang korupsi. Pegang uang saja tidak. Hansip tidak mungkin minta jabatan sipil karena kelebihan personel. Mereka yang mau menjadi hansip, biasanya dilandasi dengan semangat mengabdi yang murni.

Oleh sebab itu, saya akan sangat mendukung program dwi fungsi hansip, yaitu sebagai pelindung warga dan penjaga konser dangdut. Dua tugas mulia yang menggambarkan kerja mereka untuk melindungi, mengayomi, dan melayani warga (penyuka dangdut koplo). Untuk alasan inilah, sosok bersahaja ini lebih mudah diajak bercanda ketimbang polisi seperti bapak saya. Ehh…