• 75
    Shares

MOJOK.COkata “hijrah” identik dengan Islam atau muslim. Padahal, seperti yang tersirat dari kata Jokowi, hijrah juga bisa bermakna universal, bukan soal agama saja.

Saya pernah berada pada sebuah fase yang genting. Satu langkah lagi, saya menjadi orang yang bakal kesulitan mengendalikan emosi. Kecurigaan, kecemasan, dan perasaan ingin marah itu bercampur baur. Tak bisa hilang bahkan setelah merapal berbagai macam doa dan pengharapan kepada Tuhan.

Hingga sebuah peristiwa yang mengubah diri saya terjadi. Saya menyakit orang yang saya sayangi. Saya sadar bahwa sudah menyakiti hatinya. Dan kesadaran itu semakin membesar ketika saya “hampir” kehilangan dia untuk selamanya. Pada titik itu, saya perlu mencari bantuan. Saya harus bertemu dengan seseorang yang bisa menampar hati dan logika saya.

Pencarian itu diberkahi Tuhan ketika saya bertemu dengan seorang suster. Ia berasal dari Ende, Nusa Tenggara Timur. Saya menceritakan masalah dan semua beban itu kepada beliau. Orang tua dan keluarga saya bahkan tidak tahu. Semuanya menumpuk di dada dan membuatnya sesak. Dan di sinilah, perubahan itu saya rasakan.

Ia bernama Suster Paulina. Usianya mungkin menjelang 40 tahun. Parasnya nampak selalu teduh, tidak ada gelombang masalah di sana. Suster Paulina mendengarkan keluh kesah saya dengan sabar. Di tengah sesi pertemuan kami yang singkat, Suster Paulina justru tak sekali pun menyuruh saya berdoa untuk mencari jalan keluar dari masalah.

Ada satu kata Suster Paulina yang sampai saat ini selalu saya ingat. Sebuah kata yang menjadi sangat keramat bagi saya. Kata itu adalah “hijrah”. Suster Paulina menegaskan bahwa doa tak bisa membantumu mengubah dirimu sendiri. Doa adalah perantara, semacam penguatan, sedangkan “wadah” itu yang perlu diperbaiki. Gunakan logika, gunakan pikiranmu.

Sebuah perumpamaan beliau gunakan: “Apa rasanya hatimu disakiti? Sakit. Apa rasanya hatimu dijaga dan dibahagiakan? Tentu senang.” Sudah. Itu saja. Tak ada doa-doa ala Katolik yang bisa sangat panjang. Tak ada renungan-renungan Kitab Suci yang bahkan tak kamu pahami maknanya. Tak ada nasihat-nasihat agama yang jelimet. Patokannya satu kata saja: hijrah.

Baca juga:  Jusuf Kalla Bela Prabowo Terkait Penguasaan Lahan Ratusan Ribu Hektar

Yang membuat saya tersentak saat itu adalah kata “hijrah” identik dengan Islam dan muslim. Bahkan menurut KBBI, arti nomor satu dari kata “hijrah” adalah “Perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama sebagian pengikutnya dari Mekah ke Medinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraish Mekah.”

Sementara itu, arti kedua menurut KBBI adalah “Berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya)”. Jadi, arti pertama dan kedua ini masih berkaitan dengan perpindahan manusia secara fisik.

Tunggu dulu. Hijrah masih punya satu arti lagi. Dan arti nomor tiga ini begitu mengusik hati saya kala itu. Bunyinya: “Perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik.” Begitu sederhana, namun sangat kuat menggoncang logika. Saking sederhananya, saya mengambil kesimpulan awal: “Ternyata berubah menjadi orang yang lebih baik itu mudah. Meski butuh waktu.”

Perhatikan. Tidak ada unsur agama di sana. Tidak ada identifikasi suatu kata terhadap agama dan kaum tertentu. Hijrah adalah universal, milik semua manusia. Tentu saja, manusia yang ingin berubah ke arah yang lebih baik.

Saya begitu tertarik ketika dalam sebuah pidatonya, Jokowi mengajak pengusaha muda untuk “hijrah”; dari perilaku konsumtif menuju produktif. Merespons ajakan Jokowi, Sekjen PPP, Arsul Sani berkata bahwa Jokowi sedang mengukuti teladan Rasulullah. Di bagian ini, nuansa Islam sangat terasa. Dan ini tentu saja sangat baik.

Nah, yang menarik selanjutnya adalah komentar Arsul Sani secara utuh: “Ketika Jokowi menggunakan kata “hijrah” untuk para pengusaha muda tersebut, ia sedang mengajak para pengusaha untuk mengambil teladan Rasulullah.” Bagian ini menegaskan nuansa islami.

Baca juga:  Dari Kencing Onta sampai PKI

“Ketika menghadapai kesulitan, yakni bukan terus mengeluhkan, meratapi atau bahkan menyalah-nyalahkan keadaan, tetapi berpindah baik fisik maupun pikirannya untuk menanggulangi kesulitan tersebut.” menurut saya, bagian ini sangat dahsyat.

Tanpa memedulikan kisruh copras-capres, kita semua tahu kalau rupiah masih bergulat dengan sengit melawan dolar. Beberapa harga bahan pangan naik dan tidak terjangkau masyarakat. Kekeringan terjadi di banyak tempat ketika hujan tak kunjung datang. Kesenjangan miskin dan kaya terus bertambah. Intoleransi di mana-mana.

Memang, perlu diakui di sini. Politik sangat berpengaruh terhadap kesulitan-kesulitan tersebut. namun, pada akhirnya, “hanya politik” saja tak akan mengubah keadaan. Pada akhirnya, nasib baik atau buruk ada di tangan dan kaki kamu sendiri. Ini menembus semua batas. Ya agama, ya suku, ras, dan batasan-batasan lain yang justru diciptakan oleh panasnya hawa politik.

Hijrah menuju manusia yang lebih baik adalah jalan satu-satunya untuk memperbaiki hidupmu sendiri. Bukan siapa yang menjadi presiden dan wakil presiden.

Nelson Mandela pernah berkata, “No one is born hating another person because of the color of his skin, or his background, or his religion. People must learn to hate, and if they can learn to hate, they can be taught to love, for love comes more naturally to the human heart than its opposite.”

Manusia belajar akan segala sesuatu, termasuk kebencian. Oleh sebab itu, manusia juga bisa diajarkan untuk “hijrah” menjadi manusia yang lebih baik. Ya soal pekerjaan, ya soal sesama. Pada dasarnya, hanya ada kasih seiring kelahiran manusia. Mari “hijrah” menjadi manusia yang lebih manusiawi.