MOJOK.COSaya tidak mempersoalkan permintaan maaf Gus Dur dianggap tidak tulus. Soal tulus atau tidak, terkait isi hati, biar Tuhan yang menilai. Siapa saya ini berani-beraninya menilai kualitas diri orang lain.

Beberapa tahun yang lalu, permintaan maaf Gus Dur kepada korban kekerasan 1965 pernah dianggap tidak tulus. Sudah dianggap tidak tulus, permintaan maaf mantan Presiden Indonesia itu juga ditolak banyak pihak. Sayangnya, tidak ada jejak digital yang bisa menjadi bukti permintaan maaf dari Gus Dur.

Benarkah permintaan maaf Gus Dur tidak tulus? Saya sendiri tidak berani menilai begitu. Isi hati orang siapa yang tahu, bukan? Namun, jika boleh sedikit merenungkan kualitas sifat dan konsistensi seseorang, saya meyakinkan diri kalau permintaan maaf Gus Dur kepada korban 1965 adalah tulus.

Kalau misalnya kamu dan banyak pembaca lain tidak setuju tentu tiada mengapa. Namanya beropini, sangat mungkin terjadi perbedaan. Saya pribadi ingin melihatnya dari sisi yang berbeda. Bagaimana kalau kita posisikan permintaan maaf Gus Dur itu sebagai ungkapan hati yang tulus untuk para korban salah eksekusi?

Faktanya, banyak rakyat Indonesia menjadi tertuduh dan dieksekusi padahal tidak tahu apa yang terjadi. Kalau permintaan maaf Gus Dur sulit dialamatkan kepada korban 1965 secara general, mari coba kita tempatkan ungkapan hati itu untuk para korban tidak bersalah. Setelah itu, mari berdoa tragedi seperti itu tidak terulang.

Saya ingin mohon maaf lagi kalau terkesan “mengerdilkan” permintaan maaf Gus Dur. Saya tidak sedang melakukannya. Saya hanya berusaha meletakkan ungkapan hati itu ke dalam konteks yang lebih sederhana, ke dalam sebuah pemahaman yang nampaknya semakin penting untuk terus diresapi.

Kebetulan, bertepatan tulisan ini tayang, kita sedang memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Kamu tentu sudah hafal di luar kepala bunyi sila ketiga, bukan? Bagi generasi lulusan “Penataran P4”, agak kebangetan kalau tidak hafal lima pasal Pancasila. Kalau nggak hafal butir-butir Pancasila, sih, masih bisa dipahami.

Baca juga:  Ridwan Kamil, Jangan Terlalu Serius dengan Habib Rizieq

Lewat tulisan ini saya ingin mengajak pembaca menyandingkan permintaan maaf Gus Dur dengan sila ketiga. Soal tulus atau tidak, kita singkirkan dulu. Dari sebuah proses meminta maaf, bagian mana yang paling sulit dilakukan? Bagi saya, bagian yang paling sulit adalah menumbuhkan niat dan menjadikannya sebagai sebuah budaya.

Kalau minta maaf ketika tidak sengaja menyinggung perasaan teman karena ucapan saja susah sekali, seberapa berat bobot permintaan maaf Gus Dur untuk korban 1965? Beratnya tidak bisa ditimbang dan dibandingkan. Oleh sebab itu, ada niat untuk minta maaf saja sudah disyukuri.

“Maaf juga diyakini sebagai salah satu penanda kebudayaan. Komunitas yang warganya mentradisikan kata maaf jika melakukan kesalahan dipersepsi memiliki tingkat berbudaya yang lebih tinggi dibanding yang tidak,” tulis Aan Anshori, aktivis Gusdurian dalam artikelnya yang berjudul “Masihkah Meragukan Maaf Gus Dur?”.

Oleh sebab itu, niat meminta maaf juga bisa menjadi pembuka jalan damai. Bukankah keberanian meminta maaf terlebih dahulu meskipun tidak bersalah adalah wujud orang besar? saya rasa, makin ke sini, Indonesia kehilangan sifat istimewa itu. Menyakiti hati menjadi sebuah kebiasaan. Ambyar.

Bagaimana bisa mewujudkan isi sila ketiga Pancasila kalau tidak mau membuka jalan damai? Saya sudah merasakannya sejak dulu ketika masih aktif “memikirkan” sepak bola Indonesia dan drama yang tersaji di antara suporter. Enggan meminta maaf membuat api permusuhan masih terjaga sampai sekarang. Jalan damai menjadi sekadar angan yang cuma asyik dibahas sambil cangkrukan.

Saya mendapat pelajaran soal meminta maaf dari tempat yang tidak terduga. Saya tidak mendapatkannya dari buku atau wejangan orang bijak. Saya belajar kata maaf justru dari sebuah grup band hardcore, Slipknot. Betul, kamu tidak salah baca.

Menyukai sebuah band membawa rasa penasaran saya ke lirik dan kehidupan pribadi setiap personelnya. Salah satunya Corey Taylor, vokalis Slipknot. Masa kecil Corey begitu suram. Ketika usianya masih 13 tahun, Corey mengalami pelecehan dan kekerasan di rumahnya. Menginjak usia 15 tahun, Corey sudah dua kali OD.

Baca juga:  Ngobrol Bareng Kiai Yahya Cholil Staquf Sepulang dari Israel

Penderitaan yang dia rasakan sejak kecil menjadi semacam trigger dari sifat-sifat destruktif ketika dewasa. Salah satunya kecanduan alkohol dan kecenderungan melakukan kekerasan. Corey menyadari berbagai kelemahan dirinya. Tidak tidak berusaha lari dari situasi, tetapi menghadapinya.

Corey Taylor menganggap di dalam dirinya ada sesosok setan yang bersemayam. Dia tidak menampik kelemahan itu, tetapi membuka hati untuk menerima keadaan lalu berjuang untuk bangkit kembali. Penerimaan itu dia tumpahkan ke lagu “The Devil in I” di album We Are Not Your Kind.

“Lagu “The Devil in I” bercerita tentang peperangan yang terjadi di dalam diri manusia. Sebuah usaha untuk tidak menyerah kepada kekalahan, mencoba tidak terjebak dalam hal-hal negatif, pada dasarnya adalah usaha untuk tidak menyerah. Lagu ini soal perjuangan. Salah satu hal paling sulit dilakukan adalah memahami sisi terkelam di dalam dirimu,” ungkap Taylor kepada pulseofradio.com.

Ketika terjebak di dalam amarah, penyangkalan, dan dendam, manusia menjadi sulit melihat sisi positif dari segala sesuatu. Mohon maaf, salah satunya ketika curiga kalau permintaan maaf Gus Dur kepada korban 1965 tidak tulus. Hebat sekali manusia bisa tahu isi hati manusia lainnya. Padahal memahami isi hatinya sendiri tidak bisa.

Pada akhirnya, saya tidak mempersoalkan, bahkan tidak peduli, kalau permintaan maaf Gus Dur itu tidak tulus. Soal tulus atau tidak, terkait isi hati, biar Tuhan yang menilai. Siapa saya ini berani-beraninya menilai kualitas diri orang lain.

Namun, ketika beliau sudah meniatkan diri untuk mengucap maaf, saya menghormati beliau sebagai manusia yang punya rasa dan karsa. Orang besar tidak akan pernah risih untuk meminta maaf. Bahkan ketika pada kenyataannya dia tidak bersalah.

BACA JUGA Kebenaran Gus Dur yang Serbakebetulan dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.