• 174
    Shares

MOJOK.COBaju putih Jokowi vs baju safari Prabowo. Di mata saya, baju safari Prabowo unggul 0-1. Lebih fungsional dan lebih cocok dengan iklim tropis Indonesia.

Maaf, untuk kali ini saya setuju dengan Ferdinand Hutahaean. Politisi Partai Demokrat tersebut khawatir dengan instruksi Jokowi untuk mengenakan pakaianan berawarna putih ketika mencoblos di tanggal 17 April nanti. Ferdinand berpandangan kalau baju putih Jokowi bisa menimbulkan konflik.

Konflik bisa terjadi karena siapa yang memilih paslon 01 itu akan sangat terlihat.

“Kemudian nanti yang lain merasa pendukung Prabowo “Oh ini lawan saya”. Maka potensi konflik itu akan mudah sekali terjadi yang bukan baju putih akan merasa ini bukan kelompoknya. Ini bahaya bahwa Jokowi sedang menebarkan konflik di tengah masyarakat kita,” ucap Ferdinand kepada Tirto.

Ya, kamu boleh katakan kalau kalimat di atas cuma ketakutan Ferdinand saja. Orang-orang Indonesia, yang dewasa, yang sudah bisa memberikan suara untuk Pilpres 2019 adalah cerdas-cerdas. Saling serang goblok antara Cebong dan Kamprets itu kan cuma gimmick di media sosial saja. Aslinya damai dan saling menghormati.

Namun, meski itu cuma ketakutan Ferdinand, saya tetap setuju. Sekali-sekali nggap papa ada yang setuju dengan Ferdinand yang mobilnya kena tahi burung dan membentuk angka “2” itu. Ferdinand berkata bahwa instruksi baju putih Jokowi itu bisa merusak unsur rahasia di dalam sebuah pemilihan umum.

Lewat imbauan baju putih Jokowi, Ketua Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat itu menganggap paslon 01 tak memahami makna demokrasi yang sesungguhnya.

“Dengan identifikasi tertentu seperti menggunakan baju putih artinya menabrak asas pemilu yang tidak lagi rahasia karena kita sudah tahu bahwa yang datang ke TPS itu baju putih itu (pendukung) Jokowi,” ucap Ferdinand.

Sebelumnya, melalui tulisan tangan pada secarik kertas, Jokowi menuliskan pesan kepada pendukungnya untuk meramaikan TPS dengan mengenakan baju berwarna putih saat hari pencoblosan nanti.

Baca juga:  Di Pilpres 2019, Prabowo Tambah Kaya Tapi Bukan yang Terkaya

“Gunakan hak pilih kita pada tanggal 17 April 2019. Jangan lupa pilih yang bajunya putih. Karena putih adalah kita. Kita semua ke TPS berbondong-bondong berbaju putih.”

Selain bisa menimbulkan konflik, baju putih Jokowi sendiri menjadi konflik ketika menjadi rebutan. Rebutan antara BPN dan TKN. Rebutan antara siapa yang lebih dahulu menggunakan “identitas” baju putih.

Fadli Zon, misalnya, mengatakan kebiasaan untuk memakai baju putih dalam kondisi tertentu lebih dulu dilakukan oleh kubu Prabowo dan Sandiaga. “Saya kira kalau putih, kami dari dulu yang menyerukan putihkan Jakarta, putihkan Solo. Ya enggak apa-apa kalau orang pakai baju putih, lebih bagus, biasa aja. Saya kira dari para ulama juga biasa pakai baju putih ini gitu,” ujar Fadli.

Ketua Tim Cakra 19, organisasi relawan pendukung Jokowi, Andi Widjajanto, mengatakan selama ini, pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno atau tim sukses 02 ini tidak pernah menyatakan identitas putih sebagai warna mereka. Tidak pernah dinyatakan oleh Prabowo maupun Sandiaga, tidak pernah juga dinyatakan oleh BPN. Baru Pak Jokowi lah yang mengatakan putih itu kami.”

Andi menyebut selama ini justru mengetahui bahwa identitas yang coba dibangun oleh kubu 02 adalah baju biru dan celana cokelat. Sandiaga sendiri kerap mengenakan baju biru dan celana cokelat. Sementara itu, Pak Prabowo gemar pakai safari warna cokelat.

Mengapa semuanya berebut soal baju putih?

“Putih itu juga melambangkan kejujuran, orang yang bersih dan jujur,” kata Direktur Komunikasi Politik TKN, Usman Kansong. Jargon-jargon putih itu “suci” menjadi alasan. Padahal, di politik sendiri, tidak ada yang namanya murni putih atau murni hitam. Politik adalah soal ranah abu-abu, di mana orang baik ternyata jahat, sementara orang jahat ternyata jahat banget.

Baca juga:  Menghitung Kekayaan TGB a.k.a Tuan Guru Bajang

Rebutan baju putih Jokowi ini sebetulnya juga nggak produktif, terutama bagi kubu Prabowo. Mengapa begitu? Karena Prabowo sendiri sudah punya branding yang tak kalah oke. Kubu Prabowo tak perlu ngegas dengan bilang baju putih itu lebih dulu mereka proklamirkan. Prabowo sudah punya baju safari, warna cokelat, dengan banyak saku di dada. Itu sudah ikonik betul.

Baju safari juga nggak kalah jelek kok ketimbang baju putih Jokowi yang ada tulisannya “Kerja, kerja, kerja” itu. Ahh, maaf, maksud saya, nggak kalah artsy dan democrazy.

Baju safari itu kan punya banyak saku. Baju ini sangat fungsional. Kalau kamu datang ke kondangan, saku-saku di dada dan darah perut itu bisa dipakai sebagai lokasi menyembunyikan bungkusan makanan. Nggak perlu bingung mau menyimpan bungkusan nasi kebuli. Tas penuh? Masukkan saja ke saku di perut sebelah kiri. Sebelah kanan bisa buat tempat risol dan zuppa sup.

Baju safari juga cocok untuk daerah tropis dibandingkan baju putih Jokowi. Pertama, warna cokelat membuat kotor tidak mudah terlihat. Kedua, lengan panjang ampuh menangkal panas ketika siang-siang kampanye dan hangat ketika sore menjelang. Lha kalau baju putih Jokowi itu kok saya yakin bahannya dari “saringan tahu”. Ketiga, kalau baju safari penuh keringat itu dilepas, diputar-putar, lalu dilemparkan ke para hooligan kok lebih dramatis ketimbang kain warna putih saja. Kecutnya lebih berbekas dan khas.

Nah, berdasarkan penjelasan di atas, nggak perlu memperdebatkan baju putih Jokowi. Biarlah para pendukungnya pakai kemeja warna putih yang “itu”. Pendukung Prabowo pakai saja safari warna cokelat ketika nyoblos. Alhasil, aura-aura “cah lawas” dan “Orde Baru” bakal terasa. Pie, enak zamanku, to?