MOJOK.COArsenal dan MOJOK itu sama. Keduanya mengajarkan tentang makna kesabaran dan pengorbanan, di samping kejenakaan dan kelucuan dengan balutan kenakalan tentu saja.

Suatu kali di pertengahan 2014, MOJOK buka lowongan redaktur. Mas Sirajudin Hasbi, CEO fandom.id dan salah satu founder Mojok Store menyuruh saya mengirim lamaran. Beberapa menit kemudian, Mas Aditya “Kak Lurah” Rizki, webmaster MOJOK, juga menyarankan hal yang sama. Saat itu, saya sedang mengasuh rubrik-rubrik sepak bola di fandom.id.

Namun saya jeri, nggak berani….

Selain nonton rekaman pertandingan Arsenal, MOJOK itu pendamping saya makan siang. Artikel mereka boleh tayang pagi hari. Tapi, saya sengaja menunggu hingga siang untuk membacanya. Sayang sekali kalau artikel-artikel out of the box itu sekali habis dibaca di pagi hari. Makan siang sambil baca MOJOK sudah seperti “ritual”.

Membaca tulisan yang betul-betul menyentak dari Eddward S. Kennedy, Agus Mulyadi, Puthut EA, Cepi Sabre, Iqbal Aji Daryono, hingga almarhum Cak Rusdi Mathari–guru menulis anak-anak KBEA–itu semacam kemewahan. Bergabung dengan redaksi MOJOK bakal jadi pengalaman yang luar biasa, tapi saya nggak berani. Saya merasa nggak mampu mendekati level mereka.

Beberapa tahun kemudian, saya bekerja di sebuah situsweb sepak bola sebagai redaktur yang cukup banyak menulis soal Arsenal. Saya menikmatinya. Salah satu pencapaian yang nggak bakal terlupakan adalah ketika artikel saya diterjemahkan ke lima bahasa karena dianggap “menghadirkan kebaruan”. Saya pikir, saat itu, karier di situsweb yang berkantor di Jakarta itu bakal langgeng.

Hingga suatu ketika, beberapa tahun kemudian, Mas Puthut EA menelepon. Beliau mengajak saya gabung MOJOK untuk mengasuh rubrik yang diberi nama Balbalan. Rasa jeri yang dulu ada seperti terpanggil kembali. Apalagi kalau mengingat gaya menulis saya sangat berbeda dengan nafas MOJOK.

Apalagi, sebelum Mas Puthut EA menelepon, saya sudah hampir memberi jawaban “Iya” untuk Arlian Buana. Saat itu, Kak Arlian mengajak saya gabung Tirto.id. Kak Bana, saya sebut nama nggak papa, ya…hehehe….

Pilihan saya ada tiga: menjadi redaktur senior di situsweb sepak bola di Jakarta, tetap di Jakarta dan bergabung dengan Tirto untuk juga mengasuh rubrik sepak bola, atau pulang ke Jogja dan menerima tawaran yang dulu bakal saya anggap sebagai sebuah lelucon belaka: menjadi redaktur MOJOK.

“Di MOJOK nggak harus lucu, kok, Sen,” kata Mas Puthut lewat telepon. Setelah obrolan singkat itu berakhir, beberapa menit kemudian, beliau mengirim wasap: “Tak tunggu jawabannya besok pagi, ya.” Begitulah Bapak Puthut, yang sering excited sendiri sama pilihannya, padahal yang “dikasih pilihan” lagi bingung setengah mati. Mirip kayak Arsene Wenger, pelatih Arsenal.

Baca juga:  Peringatan untuk Buruh dari Kelas Menengah yang Bijak

Singkat kata saya memutuskan untuk pulang ke Jogja. Pagi hari, di dalam kereta, saya mengirim wasap ke Bapak Puthut: “Mas, saya mau masuk MOJOK. Ini udah di kereta pulang Jogja.”

Kamu tahu apa jawaban beliau? Beliau cuma mengirim emoticon secangkir kopi. Padahal saya sudah membayangkan jawaban seperti “Oke” atau “Siap”. Untung saya sudah lama mengenal beliau jadi tahun kalau emoticon secangkir kopi adalah ekspresi berkenan dari Bapak Puthut.

Saya sudah membayangkan keseruan bekerja di sebuah kantor media digital. Di sebuah kantor yang sebetulnya sudah saya kenal betul. Lha wong ketika jadi manajer Mojok Store kantornya di situ juga, di sebuah kampung bernama Besi.

Namun, yang saya hadapi nggak jauh berbeda ketika mendukung kesebelasan favorit saya, Arsenal. Sama-sama butuh kesabaran dan penderitaan. MOJOK, kamu kok nyebelin banget, sih.

Bertahun-tahun mendukung Arsenal artinya bertahun-tahun pula akrab dengan kesabaran. Harus sabar menghadapi kegagalan yang kayaknya sudah pasti terjadi setiap tahunnya setelah pindah stadion. Bahkan saya pernah stres mendukung Arsenal.

Gimana nggak stres. Coba bayangkan sebuah tim yang memimpin klasemen sampai awal Maret, tetapi gagal juga di akhir musim. Cuma karena satu pemain cedera. Untungya, stres yang sudah tertempa itu sedikit membantu saya ketika mengasuh rubrik Balbalan di MOJOK.

Menyanggupi tawaran mengasuh rubrik Balbalan artinya siap membangun sesuatu dari nol. MOJOK nggak punya sejarah menayangkan tulisan-tulisan sepak bola. Bahkan, ketika rapat Mojok Store dan Mas Puthut hadir, beliau bilang kalau tulisan sepak bola itu akan sulit viral di Indonesia.

You know, tulisan sepak bola bakal tenggelam oleh tulisan politik, sosial, atau agama. Bahkan sama tulisan dengan tema seperti “apa yang harus kita lakukan ketemu genangan air” saja kalah. Padahal kalau ketemu genangan air itu ya menghindar to, Bambang! Ribet amat. Tapi itu fakta yang terjadi dan seperti kata Agus Mulyadi, MOJOK memang media yang nggak mencerdaskan kehidupan bangsa. Saya rasa, membaca LKS atau RPUL lebih berfaedah ketimbang membaca MOJOK.

Untungnya saya sudah ditempa oleh Arsenal. Kesabaran dan pengorbanan itu pasti bisa saya lakukan. Dan didukung oleh satu butir captopril setiap hari untuk menjaga tekanan darah saya nggak njumbul. Yang terjadi adalah, rubrik Balbalan selalu masuk 10 artikel terendah selama empat bulan, kalau tidak salah.

Baca juga:  Emery Pengecut dan Arsenal yang Dibuat Tak Berdaya oleh Pelatihnya Sendiri

…dan datanglah Piala Dunia.

Untuk Piala Dunia, MOJOK harus bertarung dengan media-media lainnya. Media raksasa yang punya dua kelebihan ketimbang MOJOK: punya lebih banyak kru. Tulisan bisa tayang lebih cepat. Sementara itu kantor nakal ini cuma punya satu kru: saya sendiri. Untungnya, saat itu, saya dibantu anak magang, Ikhwan “Awan” Hastanto, yang sekarang mapan sebagai seniman bareng Tashoora. Thank you, Awan!

Sudah sendirian, saya harus ngadmin pula. Untungnya, saya sudah ada pengalaman jadi admin di fandom.id. Setiap laga coba saya pandu sembari menulis. Apa yang saya dapat? Adalah cacian dan ledekan: “Kembalikan admin kangen!” dan “Admin yang ini nggak lucu, blas!” You know, yang dimaksud “admin kangen” adalah Mas Doni “Heihachi Mishima” Iswara itu.

Sudah harus nulis sendiri, ngedit tulisan sendiri, posting di web dan medsos sendiri, lalu ngadmin. Saya sudah merasa seperti “redaktur 5.0”. Redaktur Palugada. Redaktur Bapak lu suka mengada-ada!

Namun Piala Dunia mengubah peruntungan rubrik Balbalan MOJOK. Tulisan analisis yang tayang setelah laga selesai itu mengangkat performa rubrik yang masih balita ini. Hingga kini, rubrik performa rubrik Balbalan cukup stabil. Cukup sering masik 10 artikel terlaris setiap minggu. Ada rasa bangga dan haru di sana, persis ketika Arsenal juara Piala FA.

Seperti Arsenal, MOJOK juga “menyelamatkan” dapur saya. Situsweb di Jakarta yang saya anggap bakal lancar jaya ternyata hampir kukut. Kalau Mas Puthut nggak menelepon, mungkin saya sudah jadi peternak lele saat ini.

MOJOK nggak cuma mengajari menjadi redaktur yang lebih komplet. Seperti Arsenal, situsweb nakal ini menguatkan dan membentuk siapa pun redaktur yang berproses di sini menjadi lebih dewasa. Well, ukuran “dewasa” memang beragam. Bagi saya, nasib di sini memberi makna yang luar biasa sampai sekarang, baik dari sisi positif atau negatif.

Arsenal mengajari saya tentang kesetiaan dan kesabaran. Arsenal juga mengajari kita untuk berpikir secara cerdik. Ajaran-ajaran yang juga saya temukan di MOJOK. Baik ketika menulis untuk rubrik Balbalan, menulis tentang Pak Amien Rais yang saya idolakan–hehehe–sampai menulis soal agama.

Matur nuwun, Arsenal dan MOJOK. Kalian memang nakal dan menyenangkan.

BACA JUGA Mojok Adalah Media yang Sangat Tidak Mencerdaskan Kehidupan Bangsa atau tulisan nakal lainnya di rubrik POJOKAN.