MOJOK.COYuni Shara diledek karena keriput. Perawat Siloam dihajar tanpa fafifu wasweswos. Orang Indonesia semakin jahat dan mudah menyakiti orang lain.

Orang Indonesia cuma ramah di depan mereka yang dianggap “superior”. Misalnya di depan orang asing. Mereka akan merendahkan diri dan memasang senyum lebar, tapi akan menggonggong kepada sesama. Itu dulu. Sekarang, ke semua orang, sifat mudah menyakiti sesama terjadi juga.

Dua bulan ini saja sudah cukup memberi bukti betapa banyak orang Indonesia semakin jahat. Perkara Aurel nggak sungkem sama Krisdayanti, misalnya. Banyak orang merasa punya hak untuk menghakimi bahwa Aurel itu nggak menghormati budaya Jawa. Aurel, seharusnya nggak sungkem ke Ashanty, tapi ke Krisdayanti.

Netizen ramai sekali menghujat Aurel, padahal Krisdayanti yang menolak secara halus dan mendorong anaknya untuk memberikan penghormatan kepada ibu sambung. Bukankah itu wujud kebesaran hati dari ibu kandung yang mungkin tidak dimiliki sebagian besar ibu-ibu di Indonesia?

Masih di sekitar circle keluarga Aurel, baru beberapa hari yang lalu, Yuni Shara kena ledekan ketika berfoto mengenakan ulos. Yuni Shara adalah kakak kandung dari krisdayanti. Ironisnya, yang meledek dan menasihati sok suci adalah sekumpulan emak-emak mengenakan gamis.

Yuni Shara diledek bahwa meski mukanya terlihat muda, keriput tetap saja ada di bagian badan dan tangan. Ada juga emak-emak yang meledek dada Yuni Shara seperti dada nenek-nenek. Lain lagi ada yang berprasangka bahwa setelah foto pakai ulos, Yuni Shara akan operasi di bagian dada. Bikin besar payudara seperti payudara almarhumah Jupe. Ya allah….

Perkara Aurel, banyak orang menjadi sok tahu. Ledekan ke Yuni Shara, seakan-akan semua orang itu selalu sempurna, terutama soal tampilan fisik. Dan yang terbaru, kekerasan fisik kepada perawat Siloam.

Kekerasan itu berawal dari ketika perawat Siloam hendak melepas infus dari tangan anak berusia 2 tahun. Karena si anak yang sangat aktif dan langsung digendong, darahnya merembes keluar. Ibu si anak panik, lalu memanggil ayah dari si anak.

Sesampainya di rumah sakit, tanpa fafifu wasweswos, si ayah ini menghajar perawat yang tadi melepas infus. Bahkan ketika si perawat sudah bersujud mohon ampun, si ayah tetap memukuli si perawat. Si ayah menendang, hingga menjambak rambut di perawat. Padahal, kalau mau dipikirkan dengan kepala jernih, peristiwa darah merembes ketika melepas infus adalah hal lumrah, bisa ditangani dengan mudah, dan tidak membahayakan pasien.

Rundungan dan kekerasan verbal kepada Aurel dan Yuni Shara terjadi di ranah digital. Untung saja, pihak Aurel tak mau ambil pusing dengan bacot netizen budiman. Sementara itu, Yuni Shara merespons ledekan digital itu dengan sangat elegan.

Yuni Shara tidak marah. Beliau memberikan nasihat sesuai porsinya. Yah, mungkin saja, emak-emak yang meledek keriput Yuni Shara, sebetulnya cuma iri saja. Keriput mereka lebih banyak dan terlihat jelas di jidat. Nggak seperti Yuni Shara yang awet muda meski sudah punya cucu. Duh, saya malah ikut-ikutan meledek emak-emak.

Rasa iri itu ditutupi dengan ledekan. Sebuah usaha dari mereka yang merasa insecure akan sesuatu dan berusaha membuat “insan sempurna” sebetulnya sejajar dengan mereka. Idih. Ogah. Dengan begitu, mereka tidak akan merasa “jelek sendirian” dan ternyata mereka yang sempurna juga punya kelemahan.

Yuni Shara boleh terlihat tua dan berkeriput. Namun semuanya cuma perkara fisik saja. Emak-emak dan semua netizen Indonesia yang bacot di media sosial boleh mulus di wajah, tapi berkeriput di hati dan akhlak. Pada ujungnya, ledekan itu berbalik menghantam wajah mereka yang semakin berdebu karena zaman.

Sementara itu, kekerasan fisik juga semakin sering, terutama jika kamu menyimak pemberitaan di media sosial setahun belakangan ini. Ketika pandemi mulai mengubah kehidupan. Minggu lalu ada pengemudi mobil mengeluarkan pistol ketika adu mulut dengan pengguna jalan lain. Kemarin, perawat dihajar tanpa pikir dua kali.

Dulu, kekerasan karena suatu perbedaan dianggap lumrah. Kini, kekerasan bisa terjadi karena semua alasan. Nggak lagi karena perbedaan sebagai masalah besar, tetapi masalah sepele pun jadi pemicu perkara. Orang Indonesia semakin kehilangan kontrol akan emosi. Makin asing dengan ajaran tenggang rasa, toleransi, dan rendah hati.

Aurel dan Yuni Shara akan selalu jadi “korban” karena mereka public figure. Aurel dan Yuni Shara akan selalu punya penggemar yang melindungi dan melawan balik. Bagaimana ketika orang awam yang jadi korban kekerasan digital?

Perawat Siloam punya entitas yang akan melindungi. Bahkan si ayah yang main hajar sudah digelandang ke kantor polisi. Bagaimana dengan orang awam di pelosok yang tidak mendapatkan rasa aman dari sebuah entitas dan jauh dari jangkauan perlindungan hukum?

Pada akhirnya, yang lemah pasti musnah. Jadi mangsa dari mereka yang merasa punya kuasa. Baik perlindungan jarak di dunia digital atau segepok uang yang bisa bikin kekuatan hukum jadi mental. Orang Indonesia makin jahat dan kita semua adalah calon korban yang menunggu giliran saja.

BACA JUGA Bukan Nuklir, Setelah Kasus Gay Thailand, Bacot Netizen Indonesia Bisa Jadi Penyebab Perang dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Pemerintah Diprotes Habis-Habisan Terkait Kebijakan Pemotongan Insentif Nakes Sebanyak 50 Persen