MOJOK.CO AS Roma dan Liverpool sama-sama punya kesempatan untuk lolos ke final Liga Champions. Namun, tentu saja ada syaratnya. Ketik amin, like, lalu share? Ya tentu bukan.

Pada titik tertentu, justru AS Roma vs Liverpool adalah semifinal Liga Champions yang lebih dinantikan ketimbang Real Madrid vs Bayern Munchen. Serunya leg pertama yang berakhir dengan skor 5-2 untuk Liverpool menjadi sedikit gambaran akan seperti apa leg kedua nanti. Paling tidak harapannya seperti itu.

Terkadang, penonton sepak bola, apalagi yang netral, lebih menikmati banyaknya gol yang terjadi ketimbang seperti apa jalannya pertandingan itu sendiri. Oleh sebab itu, leg kedua antara AS Roma vs Liverpool punya ekspektasi tersendiri untuk minimal menghibur jutaan pasang mata di seluruh dunia. Mereka akan menantikan, apakah Roma bisa mem-Barcelona-kan Liverpool, atau justru Liverpool bisa lolos dari Stadion Olimpico yang terbukti magis itu.

Mojok Institute sendiri memuat dua plot besar bagi masing-masing tim, apabila ingin lolos ke babak final Liga Champions 2017/2018. Plot ini disusun berdasarkan kelebihan dan kekurangan masing-masing tim, ditambah kebiasaan yang terjadi di tengah situasi tertentu. Silakan disimak.

Syarat bagi AS Roma

Kerja utama AS Roma akan begitu berat. Mengejar agregat 5-2, dengan minimal mencetak tiga gol tanpa kebobolan bisa dibilang cukup mustahil dilakukan. Namun, tim asuhan Eusebio Di Francesco tersebut punya bekal untuk menghadapi situasi menyebalkan itu bernama kemenangan super atas Barcelona di leg kedua babak perempat final. Skornya identik dengan misi Roma kali ini, yaitu 3-0. Fakta inilah yang akan dijadikan pondasi bagi skuat il Lupi.

Baca juga:  7 Kekuatan Manchester United yang Bakal Sulitkan Liverpool

Namun, Romanisti jangan terlalu besar kepala dulu. Liverpool jelas bukan Barcelona. Tim tamu kali ini bukan jenis tim yang akan selalu berinisiatif menguasai permainan seperti Barcelona dan hanya akan menderita kebobolan oleh serangan balik. Liverpool itu seperti ular derik yang mengancam dengan getaran ekornya, lalu menyerang secara tiba-tiba tanpa disadari lawan.

Beruntung, Roma punya dua kelebihan yang bisa dimaksimalkan untuk menjinakkan ular derik dari Inggris itu. Pertama, Liverpool gagap dengan keunggulan. Tim asuhan Jürgen Klopp tersebut tidak ahli mempertahankan keunggulan. Leg pertama menjadi contohnya.

Contoh kedua adalah ketika mengalahkan Manchester City di ajang Liga Primer Inggris. Sudah unggul 4-1, Liverpool “membiarkan” City terlalu nyaman menguasai bola. Hasilnya, Liverpool tetap menang, namun dengan skor tipis, 4-3. Kegagapan inilah yang perlu dicecar AS Roma. Melihat sejarah Roma, tiga gol seharusnya bisa dikejar.

Kelebihan kedua yang bisa dimaksimalkan Roma adalah yang saya sebut sebagai “Rute Dzeko”. Liverpool memang membeli bek baru dalam diri Virgil van Dijk. Namun, penyakit kebobolan lewat bola-bola udara masih saja terjadi. Perlu diingat, bola-bola udara bukan berarti gol menggunkan sundulan kepala saja.

Gol Edin Dzeko di Anfield adalah salah satu peragaan “Rute Dzeko” yang paling pas. Bola vertikal langsung diarahkan kepada Dzeko. Striker asal Bosnia tersebut lebih superior ketimbang bek Liverpool untuk urusan menguasai bola yang berasal dari umpan lambung. Sebagai tembok, Dzeko mumpuni. Menguasai bola sendirian lalu mencetak gol juga bisa menjadi pilihan. Bebas saja, asalkan Roma mampu membuat gol.

Baca juga:  Luis Suarez Provokator! 5 Komentar Konyol Setelah Laga Barcelona vs Liverpool

Dua kelebihan tersebut bisa maksimal apabila Roma bermain super disiplin. Beberapa kesalahan dasar yang dilakukan Roma bisa dijadikan gol oleh Liverpool.

Syarat bagi Liverpool

Liverpool memang unggul agregat 5-2. Namun, alangkah bijaknya apabila The Reds tidak fokus untuk bertahan. Untungnya, Liverpool bukan tim asuhan Jose Mourinho yang itu, yang bertahan adalah sahabat. Klopp tentu tak akan mengizinkan pemain-pemainnya hanya fokus dengan pertahanan.

Kunci bagi Liverpool ada tiga, yaitu disiplin bertahan menjaga keunggulan, sabar menunggu momentum, dan efektif dengan serangan balik. Ingat, sekelas Mohamed Salah jika bisa tidak efektif seperti ketika Liverpool ditahan imbang oleh Stoke City.

Meski gagal mencetak gol, Liverpool tak kesulitan menciptakan peluang. Situasi inilah yang perlu dihindari. Efektif memanfaatkan peluang artinya sukses memperbesar agregat dan secara otomatis mengikis peluang AS Roma untuk comeback.

Nah, apakah dua syarat di atas benar-benar diperhatikan oleh masing-masing klub? Yang pasti, Liverpool ada di atas angin.