MOJOK – Perekrutan Lichtsteiner sendiri melahirkan perasaan yang campur aduk di tengah basis fans Arsenal. Tidak sedikit yang merasa pembelian pemain ini tidak mencerminkan ambisi klub. benarkah demikian?

Era baru di dalam tubuh Arsenal dimulai dengan cepat. Tidak sampai satu bulan setelah Unai Emery resmi menjadi pelatih The Gunners, manajemen bekerja dengan cepat untuk urusan perekrutan pemain baru. Nama pertama yang datang adalah mantan bek kanan Juventus asal Swiss, Stephan Lichtsteiner.

Kontrak Lichtsteiner bersama Si Nyonya Tua habis di bulan Juni 2018 ini. Artinya, Arsenal tak perlu mengeluarkan biaya transfer untuk memboyong pemain berusia 34 tahun tersebut. Kontrak pemain yang akan mengenakan jersey dengan nomor punggung 12 tersebut adalah satu tahun dengan opsi perpanjangan satu tahun lagi.

Perekrutan Lichtsteiner sendiri melahirkan perasaan yang campur aduk di tengah basis fans Arsenal. Tidak sedikit yang merasa pembelian pemain ini tidak mencerminkan ambisi klub. Alasannya, si pemain sudah terlalu tua dan sudah dianggap tidak berada dalam level tertinggi untuk mengangkat kualitas tim.

Oleh sebab itu, tulisan ini berusaha untuk memberikan sedikit gambaran alasan Arsenal merekrut pemain senior. Boleh dikata, inilah model pemain baru yang akan “terus dicoba” didatangkan manajemen untuk menyambut musim baru.

Lichtsteiner model pemain profesional

Lewat kanal arsenal.com, Unai Emery memberi sedikit alasan perekrutan Lichtsteiner. “Stephan akan membawa pengalaman dan kepemimpinan untuk skuat kita. Ia adalah pemain berkualitas dengan sikap tunggang hati yang sangat positif. Stephan akan membuat kita semakin kuat, baik di dalam maupun di luar lapangan.”

Melihat kedatangan pemain ini, jika pembaca adalah fans Arsenal, pastilah langsung terbayang sosok Hector Bellerin. Tak hanya Bellerin, jika dipikirkan lebih jauh, pengaruh Lichtsteiner juga bisa dirasakan oleh Ainsley Maitland-Niles, pemain muda Arsenal yang bisa bermain di beberapa posisi, salah satunya bek sayap kanan.

Baca juga:  Real Madrid, Gareth Bale, dan Cara Cantik ‘Mengerjai’ Klub Tak Berdaya Bernama Tottenham Hotspur

Baik Bellerin maupun Ainsley tidak pernah mendapatkan tuntunan secara langsung dari pemain senior yang berposisi sebagai bek kanan. Dua musim ke belakang, ada nama Mathieu Debuchy, pemain senior yang berposisi sebagai bek kanan. Sayang, performa Debuhcy jauh dari kata memuaskan karena manajemen cedera yang buruk.

Bahkan, kualitas Bellerin sempat jauh meninggalkan Debuchy. Posisi bek kanan di tim utama praktis tidak lagi bisa dinikmati Debuchy dengan bebas. Selepas kepergian Debuchy, tidak ada lagi pemain senior yang bisa mendampingi pemain muda Arsenal yang berposisi sama. Oleh sebab itu, keberadaan Lichtsteiner akan sangat bermanfaat.

Memang, belajar dari pemain lain tidak selalu soal usia (yang lebih tua). Belajar juga bisa kepada rekan satu tim, yang berposisi sama, dengan usia dan kualitas yang tidak terlalu berbeda. Namun, ada satu yang tidak bisa diajarkan dari jenis pemain ini, yaitu pengalaman dan mental juara. Setidaknya Lichtsteiner punya dua aspek tersebut.

Pemain asal Swiss ini selalu menjadi pilihan pertama skuat Juventus ketika masih berada dalam performa terbaik. Ia merasakan tujuh kali menjadi Scudetto berturut-turut. Lichtsteiner punya pengalaman menjadi juara. Sebuah pengalaman yang tidak bisa ditukar dengan hanya sekadar “belajar” dan mengamati pemain lain.

Ia adalah pemain yang vokal, berani untuk mengingatkan rekan satu timnya apabila berbuat kesalahan. Proses belajar paling cepat adalah dari mengingat kembali kesalahan-kesalahan yang dibuat. Pada titik ini, keberadaan Lichtsteiner akan sangat penting untuk pemain muda lainnya selain Bellerin dan Ainsley.

Baca juga:  Kai Havertz Jodoh Bayern Munchen, Sudah Betul Menolak Manchester United, Liverpool, Apalagi Arsenal

Lichtsteiner model pemain baru

Jika kita amati secara teliti, pemain-pemain yang ingin didatangkan Emery adalah model pemain senior. Selai Lichtsteiner yang sudah resmi, manajemen Arsenal juga sedang mengusahakan kedatangan bek Borussia Dortmund, Sokratis Papastathopoulos. Kok yang kebetulan, dua pemain ini punya nama yang sulit untuk diucapkan dan ditulis.

Sokratis akan berusia 30 tahun pada tanggal 9 Juni 2018 nanti. Usia yang (seharusnya) sudah cukup matang untuk pesepakbola. Mengapa The Gunners mendatangkan pemain senior lebih dari satu di jendela transfer musim panas kali ini?

Memang, faktor mental dan kepemimpinan adalah aspek yang hilang dari skuat Arsenal. Apalagi dengan pensiunnya Per Mertesacker, menurunnya performa Laurent Koscielny, dan Shkodran Mustafi yang sangat tidak konsisten. Lalu di lapangan tengah, Arsenal juga kehilangan Santi Cazorla yang hengkang ke Villareal.

Arsenal butuh pemain senior untuk mau berteriak selama pertandingan untuk mengingatkan rekan-rekannya yang malas. Dan kebetulan kedua selain soal nama pemain yang sulit ditulis, Papastathopoulos dan Lichtsteiner berposisi sebagai bek. Kualitas teknis keduanya di atas lapangan mungkin mulai menurun. Namun dari sisi mental, keduanya bisa memberi pengaruh besar.

Sudah dapat gambaran, bukan? Kedua pemain ini diharapkan menghadirkan aspek penting ke dalam skuat Arsenal, untuk membantu semua pemain tetap berada dalam level terbaik. Bukankah itu juga disebut sebagai ambisi?

Baik Lichtsteiner maupun Papastathopoulos tidak akan mendapatkan kontrak jangka panjang. Hal ini penting untuk dicatat karena misi Emery di masa transisi yang krusial ini adalah meletakkan pondasi yang kuat demi kariernya bersama Arsenal. Pada akhirnya, beri pemain-pemain baru ini waktu untuk bekerja. Karena dari kerja, kualitas seseorang bisa dinilai.