2   +   1   =  

[MOJOK.CO] “Satu kesalahan dari bek Chelsea harus dibayar mahal setelah Lionel Messi mencetak gol. Bagaimana dengan peluang ekspedisi Roma di Eropa Timur?”

Salah satu pertandingan yang paling dinantikan di babak 16 besar Liga Champions adalah Chelsea melawan Barcelona. Sejarah panjang keduanya, didukung statistik Lionel Messi yang menarik ketika melawan Chelsea, membuat laga ini terasa seperti Real Madrid melawan Paris Saint-Germain: sebuah final yang kepagian.

Review Chelsea vs Barcelona (1-1)

Chelsea paham bahwa dirinya menghadapi salah satu tim paling seimbang musim ini. Semenjak Ernesto Valverde resmi melatih, Barcelona menjelma menjadi sebuah tim yang tak hanya tajam, namun juga tangguh mempertahankan gawangnya. Oleh sebab itu, untuk semua tim, kewaspadaan tinggi harus dimiliki ketika melawan Barcelona.

Dan Chelsea memang menunjukkan kewaspadaan yang dibutuhkan itu. Dua gelandang sentral mereka, Cesc Fabregas dan N’Golo Kante sukses meredam Lionel Messi, mencegahnya untuk melakukan penetrasi dari depan kotak penalti. Terutama di babak pertama, di mana Messi lebih banyak menyebar umpan ke sisi lapangan ketimbang terburu-buruk melakukan penetrasi.

Dibantu lini pertahanan yang cukup liat, Chelsea menjadi sanat cermat ketika melakukan serangan balik. Eden Hazard, yang bermain sebagai false 9, dan banyak bergerak ke sisi kiri, mendapatkan banyak kesempatan untuk melakukan penetrasi ke dalam kotak penalti menggunakan teknik giringan yang memang mumpuni.

Pergerakan ini menyulitkan Barcelona lantaran Paulinho yang sudah terlanjur naik, akan selalu terlamat untuk membantu Sergi Roberto yang menghadapi Hazard. Pun, di sisi kiri, Sergi Roberto hanya mendapatkan bantuan dari Gerard Pique. Sayang, beberapa kali peluang masuk dari sisi kiri tidak maksimal.

Chelsea sendiri cukup jeli memanfaatkan garis pertahanan Barcelona yang cukup dalam ketika bertahan, misalnya ketika sepakan pojok. Alhasil, di depan kotak penalti, selau ada pemain Chelsea yang berdiri tanpa pengawalan. Di salah satu kesempatan, Willian, mendapatkan ruang yang cukup lega di depan kotak penalti Barcelona.

Sergio Busquets, yang terlambat mengantisipasi, gagal mengikuti pergerakan Willian. Dengan sekali menggeser bola ke kanan, Willian mendapatkan ruang tembak. Sepakan menyusur tanah dari pemain Brasil tersebut masuk ke gawang dengan mulus.

Willian, bisa jadi, menjadi pemain yang paling menyesal malam tadi lantaran dua kali tembakannya membentur tiang. Jika dua tembakan yang membentur tiang tersebut menjadi gol, Chelsea bisa menyambut leg kedua di Camp Nou dengan lebih nyaman.

Baca juga:  Ketika AS Roma Mengalahkan Barcelona: Sebuah Pengakuan

Pemain kedua yang bakal merutuki kesalahannya adalah Andres Christensen. Perlu ditegaskan, Chelsea sendiri bermain solid. Namun, yang namanya manusia adalah tempatnya kesalahan. Satu kesilapan saja, Barcelona langsung menghukum Chelsea.

Berawal dari silap, salah umpan pemain Chelsea, Andres Iniesta berhasil mendapatkan bola di depan kotak penalti. Mendapatkan ruang yang lebar, Iniesta masuk ke kotak penalti sebelum menyodorkan umpan diagonal cantik untuk Lionel Messi. Tanpa ragu, Messi mendorong bola ke sisi kanan Thibaut Courtois yang tertipu dan melompat ke kiri. Gol! Skor menjadi 1-1.

Gol ini sukses menjadi momen “pecah telur”. Tak hanya soal keberhasilan Barcelona menyamakan kedudukan. Gol ini juga sungguh bermakna bagi Messi. Perlu Anda ketahui, sebelumnya, Messi belum pernah mencetak gol ke gawang Chelsea sepanjang kariernya yang gemilang. Dibutuhkan total 730 menit bagi Messi untuk mencetak gol ke gawang The Blues.

Sementara itu, Messi paling rajin mencetak gol ke gawang Arsenal. tim yang dahulu langganan tampil di (mentok sampai perempat final saja) Liga Champions dengan sembilan gol. Tim kedua yang rutin dibobol Messi? Adalah AC Milan dengan delapan gol.

Messi memang tak pilih-pilih lawan. Sebagai pemain terbaik di dunia, Messi tak hanya jago membobol gawang tim elite Eropa. Messi juga suka mencetak gol ke gawang tim semi-medioker.

Prediksi Shakhtar Donetsk vs AS Roma (Kamis 22 Februari 2018, 02.45 WIB)

AS Roma akan bertandang ke salah satu arena yang sulit untuk dijinakkan. Eropa Timur sering menjadi masalah untuk banyak klub besar, apalagi untuk Roma yang begitulah. Kamis dini hari, anak-anak asuh Eusebio Di Francesco, akan dijamu Shakhtar Donetsk, klub dari Ukraina.

Shkahtar akan menyambut babak 16 besar Liga Champions ini dengan kepercayaan diri yang tinggi. Laga terakhir mereka di Liga Champions berakhir dengan manis ketika sukses membungkam salah satu tim paling berbahaya musim ini, Manchester City, dengan skor 2-1. Sedikit banyak, hasil positif ini akan berdampak pada psikologis pemain. Ingat, tensi tinggi Liga Champions terkadang lebih menuntut ketebalan mental ketimbang kecanggihan taktik semata.

Musim ini, di tangan Paolo Fonseca, Shkahtar sendiri menyuguhkan cara bermain yang lebih modern. Shakhtar sangat jago mempertahankan penguasaan bola, terutama di wilayah sendiri, menggunakan bek tengah yang berteknik, dua pivot, dan penjaga gawang yang juga fasih menguasai bola.

Baca juga:  5 Alasan Argentina Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2018

Selain itu, Shakhtar juga cerdas mengatasi lawan yang menekan dengan garis pertahanan tinggi. Mereka jago memanfaatkan ruang di belakang pertahanan lawan sebagai akibat naiknya garis pertahanan.

Ditambah determinasi yang tinggi, terutama ketika bermain di rumah sendiri, Shakhtar menjadi unit yang sulit untuk ditundukkan oleh lawan-lawan yang melawat.

AS Roma di Liga Champions 2017/2018 sendiri menjadi salah satu kejutan, menjadi tim yang sulit untuk diraba seperti Tottenham Hotspur. Performa mereka di liga domestik tak selalu menyakinkan. Namun, ketika naik panggung di Liga Champions, Roma seperti menemukan pijakan yang tepat.

Jika Shakhtar mengalahkan City, skuat Roma berhasil menundukkan Chelsea. Namun, satu detail kecil menjadi pembeda, yaitu Shakhtar menang atas tim kedua City, sementara Roma bertanding dengan tim terkuat The Blues. Bahkan, ketika bermain di Stamford Bridge kandang Chelsea, Roma berhasil mencetak tiga gol.

Kecuali ketika melawan Atletico Madrid, Roma selalu bisa mencetak gol baik ketika kandang maupun tandang. Artinya, Roma selalu bisa membuat peluang, yang mana sangat penting untuk laga sistim gugur. Mencetak gol tandang harus bisa dipetik Roma.

Soal mencetak gol, lini depan Roma tengah moncer. Di dua pertandingan terakhir, Roma mencetak tujuh gol dan hanya kebobolan dua kali. Satu nama penting ada di tengah performa apik Roma ini, yaitu Cengiz Under.

Pemain berusia 20 tahun ini selalu terlibat di lima gol yang Roma bukukan, yaitu dengan catatan empat gol dari satu asis. Kemampuan individu Cengiz sangat cocok untuk menghadapi pressing yang diterapkan Shkahtar ketika bermain di kandang.

Cengiz sangat cakap mempertahankan bola ketika ditekan lawan di ruang sempit. Kemampuannya melepas tembakan diagonal dari jarak jauh juga sebuah opsi bagi Roma untuk membuat kesempatan.

Ketajaman Roma, beradu dengan determinasi dan modernitas Shakhtar. Laga yang akan menarik dibandingkan pertandingan di stadion sebelah yang mempertemukan tim papan atas Spanyol, Sevilla, melawan tim yang-sah-semenjana-kalah-sama-tim-zebra-laut dari Inggris itu.

Prediksi Mojok Institute: Shakhtar Donetsk 1-2 AS Roma (baca: Shakhtar Donetsk 2-1 AS Roma). *Lirik Kepala Suku. Ehhe~

 

Hasi Liga Champions Rabu (21/2) dini hari:

Chelsea 1-1 Barcelona

Bayern München 5-0 Besiktas (baca: Arsenal)

 

Jadwal Liga Champions Kamis (22/2) dini hari:

Sevilla vs Manchester United

Shakhtar Donetsk vs AS Roma