MOJOK.COManchester United dan AC Milan pernah diberkahi oleh dua seniman lapangan hijau dengan imajinasi mematikan: Ruud van Nistelrooy dan Filippo Inzaghi!

Rambut sebahu berwarna hitam legam itu tersibak-sibak ketika dia berlari. Setelah menerima bola di sekitar lapangan tengah, pemain yang terngah berada di puncak kariernya bersama Manchester United itu menyambut tantangan dengan senyum tersembunyi. Dia berlari menerobos lapangan tengah Fulham. Mencetak salah satu gol terbaik yang pernah disaksikan Liga Inggris.

Saya, di belahan bumi lain, mengagumi Ruud van Nistelrooy dari jauh. Ingatan saya, untuk sepersekian detik, dilempar ke sebuah ingatan tentang keajaiban. Ketika Thierry Henry menerobos lapangan tengah sebuah klub paling hina di London lalu melakukan selebrasi ikonik sepanjang masa. Atau, ketika Henry membuat Jamie Carragher terjengkang suatu kali.

Ingatan saya akan Ruud van Nistelrooy diwarnai serpihan kekaguman yang bertahan sampai sekarang. Kekaguman yang sama ketika kita sedang membicarakan kecerdikan Filippo Inzaghi mengakali jebakan offiside, mencetak gol paling mudah sepanjang kompetisi, dan merayakannya seperti baru saja manaklukkan dunia.

…dan, pada titik tertentu, mereka tidak mendapatkan apresiasi yang layak. Terutama dari sesama praktisi lapangan hijau.

Johan Cruyff yang dianggap dewa di Barcelona itu pernah bilang kalau Ruud van Nistelrooy bukan pesepak bola yang baik. Ruud cuma sebatas “pencetak gol”. Pernyataan ini, sebetulnya, sedikit kabur. Ada yang bilang racauan Johan justru ditujukan kepada Inzaghi, striker yang menyambut dunia bersama AC Milan. Tidak ada literatur yang secara akurat menjelaskan kalimat Johan tersebut.

Ron de Ryk, jurnalis kenamaan dari Belanda tidak pernah mengganggap Ruud van Nistelrooy sebagai pesepak bola yang bagus. Menurut Ron, Patrick Kluivert adalah pesepak bola yang lebih baik. Ruud, kembali ditegaskan, cuma bagus di soal bikin gol saja. “Menurut saya, Patrick Kluivert itu pesepak bola yang lebih bagus, cuma kalah di soal mencetak gol. Kluivert bermain dengan cara-cara yang lebih mutakhir…van Nistelrooy cuma peduli dengan bola yang masuk ke gawang,” kata Ron.

Baca juga:  Francesco Totti dan Kesetiaan Sang Pangeran Anumerta

Narasi yang sama dilemparkan untuk menggambarkan sosok Filippo Inzaghi, legenda AC Milan. Kembali, Johan Cruyff yang menjadi titik tolak. “Lihatlah Inzaghi, dia benar-benar tidak bisa bermain sepak bola sama sekali. Dia hanya selalu berada di posisi yang tepat,” kata legenda timnas Belanda tersebut. Sebentar, itu kritikan, atau sebetulnya malah pujian?

Penekanan kata “hanya” seakan-akan menggambarkan kekuatan Inzaghi itu sebagai aspek kecil dalam sepak bola. Berada di posisi yang tepat adalah segalanya bagi striker, terlebih bagi mereka yang bermain sebagaimana layaknya poacher. Butuh seni tingkat tinggi untuk memanipulasi ruang dan waktu, untuk membebaskan diri dari kerumunan bek-bek Serie A yang tak main-main buasnya.

“Saya ingat pertama kali Pippo (panggilan Inzaghi) dipanggil untuk tim nasional Italia,” jurnalis kenamaan asal Inggris yang pernah jadi presenter Football Italia, James Richardson, buka suara, “dalam latihan, kami semua (jurnalis) berdiri tertegun karena tekniknya adalah yang terburuk yang pernah kami lihat.”

Kekhawatiran James itu dijawab oleh Roberto Carlos. “Setiap AC Milan berada dalam kesulitan, tampaknya mereka mendapatkan jalan keluar darinya.” Gol, di sepak bola, entah bagaimana caranya dibuat, punya daya menghentak. Daya untuk mengubah situasi. Dsri sebuah klub yang tertekan menjadi dominan dalam sekejap mata.

Gol-gol Inzaghi bersama AC Milan boleh kamu sebut sebagai gol pesepak bola amatir. Tap in, bola memantul, gol offside yang gagal dibaca wasit. Namun, gol-gol itu yang membuat banyak pelatih enggan melawan AC Milan, terutama ketika Inzaghi bermain dan dalam performa terbaiknya.

Ketika gol-gol remeh itu menjadi penentu, kita tidak bisa membantah kalau Inzaghi adalah seorang seniman. Dia, yang menipu banyak mata, untuk mendorong bola denga begitu sederhana melewati selangkangan kiper. Kata seniman yang mengandung makna sangat luhur itu, juga pantas disematkan ke sosok Ruud van Nistelrooy.

Saya menghormati Johan Cruyff sebagai pionir sepak bola modern. Namun, saya tidak setuju ketika Ruud van Nistelrooy tidak dia anggap sebagai pesepak bola yang bagus. Makna kata “bagus” terlalu luas untuk dikotak-kotakkan dan ditandai menggunakan istilah “selera orang”. Bagi saya, Ruud adalah salah satu striker paling komplet di sejarah Liga Inggris.

Baca juga:  Serie A di RCTI: Cinta dan Nostalgia Planet Football, AC Milan, Hingga Tabloid BOLA

Fans Manchester United seharusnya yang paling paham. Ruud van Nistelrooy bukan saja dominan jika mengukurnya dari kekuatan fisik. Keseimbangan tubuh, keahlian menggiring bola, dan bisa menggunakan dua kaki mendukung daya jelajahnya yang tinggi. Dan kontrol bolanya, sangat underrated.

Belanda memuja Dennis Bergkamp sebagai pesepak bola dengan kontrol bola paling presisi. Jika diukur dengan angka, kontrol bola Bergkamp adalah 10, sempurna. Sementara itu, kontrol bola Ruud ada di sekitar 9. Kecerdasannya menghentikan bola memberinya jeda waktu beberapa detik yang berharga. Sebuah jeda yang membuat aksi finishing di depan gawang sulit dikejar bek lawan.

Bersama Manchester United, Ruud van Nistelrooy mencatatkan rata-rata 0,68 gol per laga. Sebuah catatan yang membuatnya bisa dikatakan membuat satu gol tiap satu laga. Catatan yang membuatnya bisa membuat 44 gol di 52 laga bersama Manchester United di musim 2002/2003. Saya kira, musim 2002/2003 adalah masa emas Ruud bersama Manchester United, sebelum Cristiano Ronaldo dan Wayne Rooney menjadi rekan satu hati.

Masa emas Ruud dirasa oleh banyak orang belum maksimal. Di usianya yang baru 26 tahun kala itu, Ruud seharusnya bisa “lebih hebat lagi”. Sebuah tuntutan yang terkadang tidak masuk akal lahir di lapangan hijau. Namun, di sisi lain, bukankah itu menjadi sebuah pengakuan kalau Ruud van Nistelrooy bersama Manchester United memang pesepak bola yang bagus?

Bagi saya, pesepak bola seperti Ruud van Nistelrooy atau Filippo Inzaghi adalah seniman. Mereka menggambar kariernya di atas kanvas dengan imajinasi yang mereka punya. Dengan segala daya yang mereka miliki. Sebuah kekuatan yang sudah cukup membuat mereka sebagai pesepak bola hebat pada zamannya.

BACA JUGA Valentino Rossi, Inzaghi, dan Musim Mati Lampu di Jambi atau tulisan sepal bola lainnya dari Yamadipati Seno di rubrik BALBALAN.