10   +   5   =  

MOJOK.COKesederhanaan cara bermain yang disajikan Bentancur perlu ditiru oleh Juventus untuk menghadirkan hidangan yang nikmat dan berkesan di Liga Champions.

Ketika nama Emre Can tidak ditemukan di dalam daftar pemain Juventus untuk Liga Champions 2019/2020, kegelisahan yang terasa tidak bertahan lama. Juventini yang saya temui cuma heran mengapa Sami Khedira ada di dalam “daftar suci” tersebut. Maklum, musim panas yang lalu, banyak Juventini yang ingin klub melepas Khedira.

Saya sebut sebagai “daftar suci” karena kepada 22 pemain ini manajemen Juventus memasrahkan misi besar mereka: memenangi Liga Champions. Misi yang sudah lama gagal diselesaikan, bahkan sebelum Cristiano Ronaldo bergabung. Menengok ke dalam daftar tersebut, harapan saya melihat kejutan sedikit naik.

Tidak ada Emre Can dan Marko Pjaca membuat potensi Rodrigo Bentancur untuk bermain sesering mungkin akan semakin besar. Musim lalu, Bentancur masuk starting 11 di 21 laga. Paparan pengalaman yang baik untuk gelandang berusia 22 tahun itu. Ditambah jam terbang di Liga Champions musim ini, potensi besar gelandang asal Uruguay itu akan semakin bisa ditarik keluar.

Pengalaman 21 laga musim lalu seharusnya cukup untuk meyakinkan Maurizio Sarri kalau Bentancur layak diserahi tanggung jawab lebih besar. Selama masa adaptasi Aaron Ramsey dan Adrien Rabiot belum selesai, kesempatan mendampingi Miralem Pjanic dan Blaise Matuidi akan sangat besar. Dia, yang pernah menyandang status wonderkid, memang akan dibutuhkan Juventus.

Baca juga:  111 Hari Ronaldo Mandul dan Aaron Ramsey yang Masuk Daftar Jual Juventus

Kesederhanaan Bentancur di atas lapangan

Saya menengok kembali laga Liga Champions musim lalu antara Juventus vs Manchester United. Sepanjang babak pertama, Bentancur mencatatkan 52 percobaan umpan dengan 50 kali sukses. Sekilas tidak istimewa, umpan yang dia lepaskan adalah sirkulasi dari tengah ke sisi lapangan. Namun, kesederhanaan yang tercatat itu justru sangat penting.

Statistik ini menjadi lebih hidup ketika kita memasukkan konteks di dalamnya. Selama jalannya pertandingan, teknik off the ball Bentancur sangat bagus. Dia hampir selalu bisa menyediakan diri sebagai opsi umpan bagi Leonardo Bonucci dan Pjanic. Artinya, progresi Juventus tetap bersih dan penguasaan bola terjaga.

Pembacaan ruang yang cukup baik juga terlihat ketika Joao Cancelo, bek kanan Juventus yang kini berseragam Manchester City, bisa naik menyerang. Bentancur pandai memosisikan diri untuk menutup ruang di sisi kanan. Cover seperti ini sangat penting bagi sebuah tim yang menggunakan dua bek sayap agresif seperti Juventus.

Cover yang dia sediakan juga bermanfaat ketika Juventus kehilangan bola di sepertiga akhir lapangan. Selain pressing ke ruang-ruang tertentu, mantan pemain Boca Junior ini juga pandai memanfaatkan keunggulan fisik di duel satu lawan satu. Terutama kakinya yang panjang, membuat Bentancur bisa merebut bola tanpa melakukan sliding tackle.

Keseimbangan yang bagus antara mensirkulasikan bola dan jago duel satu lawan satu membuatnya menjadi bagian penting dari trio gelandang. Dia menjadi bagian dari trio pemain di tengah yang mampu menjadi playmaker, breaker, dan creator di sepertiga akhir. Kombinasinya dengan Pjanic dan Ramsey bakal menjanjikan.

Baca juga:  Empat Catatan Betul-Betul Penting Pascafinal Liga Champions

Kesederhanaan Juventus di Liga Champions

Juventus bukan tim yang kekurangan kualitas pemain. Terkadang, bermain dan menang di Liga Champions tidak selalu bergantung kepada teknik individu atau ide bermain yang rumit. Berkaca dari Liverpool yang juara musim lalu dan Real Madrid di musim sebelumnya, bermain sederhana dengan mental yang tepat justru lebih berhasil.

Real Madrid bermain sederhana, tapi efisien dengan Ronaldo sebagai ujung tombak. Mereka banyak mengeksploitasi kesempatan mengirim umpan silang untuk bikin gol. Liverpool memadukan pressing intensitas tinggi dengan kemampuan mengontrol tempo. Trio Mane-Firmino-Salah di depan sangat maksimal. Baik dari sisi cara bermain maupun mental.

Juventus, di bawah asuhan Sarri tidak perlu bermain dengan cara yang rumit. Kesederhanaan Bentancur bisa menjadi contoh. Kontrol lini tengah, maksimalkan umpan silang, dan bantu Ronaldo menemukan efisiensi yang sama seperti ketika berseragam Real Madrid saya rasa sudah cukup.

Laga-laga berat melawan tim top Eropa perlu disikapi secara sederhana. Tentu saja, mental dan keyakinan untuk menang harus mengiringi. Si Nyonya Tua sudah punya bahannya. Tinggal bagaimana mereka meracik bahan-bahan itu menjadi sajian yang sederhana, tetapi nikmat dan berkesan.

BACA JUGA Juventus: Menjaring Pemain, Membeli Mental Juara Eropa atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.