MOJOK.COMalam Selasa menjadi malam perjuangan bagi Juventus dan Ronaldo, Arsenal, dan Inter. Uji konsistensi Juventus dan Inter Milan. Uji daya tahan bagi Arsenal.

Monday Night Football bukan jadwal yang menyenangkan. Kamu harus menyesuaikan diri dengan hari Senin, di Selasa dini hari, yang biasanya menjadi waktu menarik napas setelah weekend yang keras. Terutama ketika tim kamu kalahan di weekend dan berpotensi menghabiskan waktu seminggu penuh untuk meratap.

Tiga tim seperti berjuang untuk “menyesuaikan diri” dengan jadwal yang jarang mereka rasakan. Adalah Juventus, Arsenal, dan Inter Milan yang sempat memulai laga dengan hambar. Bahkan Juventus, hingga babak pertama usai, seperti kehilangan intensitas. Di Inggris, Arsenal dibikin sesak napas oleh Leeds United. Inter? Mungkin hanya Inter yang merasakan determinasi itu. Namun, bukan lantas Inter tidak berjuang hingga akhir.

Ketiga tim ini merasakan perubahan instan yang sukses berjalan. Mereka memanfaatkan kesalahan-kesalahan kecil dari lawan untuk “membunuh laga”. Terkadang, sepak bola adalah sebuah waiting game. Mereka yang membuat kesalahan pertama, menjadi pecundang di ujung laga.

Cristiano Ronaldo dilahirkan untuk menjadi penentu. Pun dengan Lukaku dan Lautaro Martinez yang kembali menjadi protagonis. Malam Selasa yang, untungnya, berakhir manis bagi dua kuda pacu Serie A itu. Juventus dan Inter menang dengan skor besar, 4-0 dan 3-1. Namun, skor besar itu tidak sepenuhnya menggambarkan jalannya laga.

Skor yang betul-betul menggambarkan jalannya laga terjadi di Emirates Stadium. Arsenal menang tipis atas Leeds dengan skor 1-0. Sama seperti Juventus dan Inter, Arsenal merasakan babak pertama yang hambar. Tidak hanya hambar, Arsenal dibuat sulit menarik napas ketika merasakan man to man marking ala Marcelo Bielsa.

Juventus diberi “hadiah” oleh Cagliari di babak kedua. Sebuah salah umpan, yang tidak terjadi di babak pertama, diendus oleh Ronaldo. Dia sudah membaca kalau umpan itu terlalu pelan. Ronaldo berlari lebih dahulu dan sampai lebih cepat. Aksi yang sangat sederhana, tetapi menggambarkan kualitas reading the game legenda Portugal itu.

Baca juga:  Sadio Mane, Kisah Sepatu Koyak dan Celana Pendek

Saya suka Ronaldo yang bermain lebih sederhana. Seperti Ronaldo di tahun-tahun terakhir bersama Real Madrid. Dia menjadi poacher yang efisien memanfaatkan peluang. Dibekali teknik menendang bola kelas elite dan kemampuan reading the game di atas rata-rata, habitat Ronaldo memang di dalam kotak penalti, bukan lagi sosok winger penuh pemeran trik.

Malam Selasa penuh perjuangan itu berakhir manis bagi Ronaldo. Dia mencetak gol ketiga berkat umpan diagonal Douglas Costa. Ditekan oleh kiper Cagliari, Ronaldo tidak menghajar bola sekuat mungkin ke tiang jauh. Dia “meletakkan” bola di tiang dekat, melewati kaki kanan Robin Olsen. Kiper Cagliari itu salah membaca gelagat Ronaldo. Dia membuka sisi kanan, yang dibidik dengan jitu.

Malam itu, Ronaldo menjadi pemain Portugal pertama yang mencetak trigol di Serie A. Satu lagi rekor untuk salah satu pemain terbaik di dunia itu. Juventus menang dengan skor 4-0. Skor yang sekilas tidak adil untuk Cagliari yang musim ini menjadi lesatan yang mengejutkan. Pun di laga ini, mereka seharusnya mendapatkan dua gol. Keberuntungan? Hal-hal non-logis yang biasa terjadi di sepak bola.

Perjuangan Juventus juga ditunjukkan oleh Arsenal. Mereka marah, atau lebih tepatnya Mikel Arteta marah. Pelatih termuda di Liga Inggris itu marah karena para pemain tidak mendengarkan instruksinya. Kepada wartawan Arteta berbicara secara terbuka kalau pemain-pemain Arsenal tidak mendengarkan perintahnya. Dulu, Manchester United bangkit berkat hairdryer treatment Sir Alex Ferguson. Selasa malam, pemain Arsenal merasakannya dari mulut Arteta.

Lacazette mengonfirmasi kejadian itu. Di babak kedua, mereka mendengarkan instruksi Arteta. Tidak hanya mendengarkan saja, mereka menjalankannya dengan baik. Leeds akan menekan, Arteta tahu itu. Respect penuh dari Arteta kepada Leeds yang bisa menyajikan sepak bola intensitas tinggi per tiga hari. Namun, mereka pun kehabisan bensin. Di mata Arteta, melawan Leeds seperti pergi ke dokter gigi. Sungguh tidak enak.

Baca juga:  Alisson Resmi ke Liverpool, Ini Analisis Kemampuannya

Kemarahan Arsenal terlihat di babak kedua. Mereka menekan lebih rajin. Menjelajah setiap sentimeter lapangan. Mereka berjuang untuk melawan sebuah sistem yang di babak pertama sukses membuat kaki-kaki Arsenal terbelenggu.

Belenggu. Sebuah ikat yang dulu menjerat Romelu Lukaku. Steve Banyard, salah satu komentator spesialis Liga Inggris dan Serie A menggambarkan Lukaku sebagai seorang monster. Monster Inter yang kini sudah mencetak 11 gol dari 11 penampilan terakhir.

Monster Inter itu sudah lepas dari segala kesusahan untuk menjadi pemain yang lebih komplet. Kemampuannya yang dulu membuat Everton menjadi pembunuh raksasa, kini bangkit kembali. Sebuah perjuangan panjang, salah satunya melewati lembah Setan di kota Manchester. Lukaku seperti dibaptis ulang. Menjadi monster yang dibutuhkan Inter.

Lukaku, pada dasarnya, pemain cerdas. Dia penahan bola yang telaten, pencari ruang yang jeli, dan eksekutor andal. Dalam diri Lautaro Martinez, Inter menemukan jodoh bagi sang monster. Duet yang menjaga asa Inter untuk terus menempel Juventus di puncak Serie A. Poin keduanya sama, hanya berselisih gol, dan Inter menjadi capolista sementara.

Malam Selasa menjadi malam perjuangan bagi Juventus, Arsenal, dan Inter. Uji konsistensi Juventus dan Inter Milan. Uji daya tahan bagi Arsenal. Sebuah malam penuh inspirasi bagi setiap fans yang menghabiskan sepertiga malam untuk cemas dan gelisah. Lalu tersenyum lebar menyaksikan kekasihnya keluar sebagai pemenang.

BACA JUGA Pak Arteta, Skuat Arsenal Dibuldozer Saja atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.