MOJOK.COPSS Sleman membuktikan bahwa dengan level kebugaran yang prima, sebuah tim bisa menyapu stigma tim tandang yang sulit menang.

Setelah jeda libur Lebaran, Liga 1 dan Liga 2 kembali berjalan. Liga 1 menghadirkan persaingan yang panas lagi rapat di papan atas, tengah, hingga bawah. Satu kemenangan bisa membuat satu klub melompat beberapa tingkat. Sebaliknya, kekelahan bakal menenggelamkan mereka posisi yang lebih buruk. Tapi jangan salah, Liga 2 juga menghadirkan sensasi seru yang sama.

Liga 2 Wilayah Timur, PSS Sleman bertandang ke rumah Persiba Balikpapan, di Persiba Arena. PSS Sleman, sebagai tim tamu, datang ke Balikpapan dengan memikul beban stigma bahwa di Liga Indonesia, tim tandang hampir selalu kalah. Membawa pulang satu poin pun sudah dianggap bagus. Faktor non-teknis dan level kepercayaan diri tim kandang menjadi dua sebabnya.

Oleh sebab itu, demi menyapu bersih stigma negatif tersebut, PSS Sleman mendisiplinkan diri begitu keras. Salah satunya adalah para pemain Super Elja dilarang menonton siaran langsung pertandingan Piala Dunia 2018. Komarudin, pelatih fisik PSS menegaskan bahwa meski ini bukan kebijakan yang populer, hasil dari mendisiplinkan diri akan sangat penting. Juli ini, jadwal PSS sangat padat. Para pemain dituntut berada dalam kondisi prima. Begadang bisa melemahkan stamina.

“Kita mengimbau kepada pemain secara individu untuk benar-benar disiplin lagi, seperti istirahatnya. Apalagi sekarang ada Piala Dunia, ada yang main malam kan? Nah sehingga kita melarang itu kemarin kita sudah secara eksplisit kita melarang mereka menonton yang di game malam. Sehingga kalo game malam, mereka kita suruh nonton yang siaran ulang. Maksimal kita di yang jam sepuluh itu kan sudah game yang kedua to,” kata Bang Komar, seperti dilansir Sleman Football.

Baca juga:  Muhammadiyah dan PS Hizbul Wathan di Tengah Perkara Konflik Suporter

Para pemain PSS Sleman sendiri sudah mendisiplinkan diri sejak sang pelatih kepala, Seto Nurdiantoro, tengah menempuh pelajaran untuk mengambil lisensi AFC-Pro tahap kedua. Oleh sebab itu, Seto tidak bisa mendampingi para pemain yang tengah melakukan persiapan menjelang lawatan ke Balikpapan. Tak didampingi pelatih kepala, bukan sebuah masalah asalkan para pemain tetap mempertahankan level kedisiplinan dan determinasi.

Bukan menjadi masalah, bahkan sang asisten pelatih, Danilo Fernando sampai menegaskan bahwa anak-anak asuh Elang Jawa ini sangat optimis bisa memetik nilai penuh. Danilo memberi penegasan bahwa kedisiplinan para pemain untuk memulihkan kondisi fisik setelah jeda libur merupakan faktor kunci.

“Target kita pasti pasti cari poin ya, kalau kita ingin di papan atas, mau nggak mau tanggung jawab kita harus menang, walaupun main di luar kalau kita bisa ya kenapa tidak. Kita makanya fokus pada kondisi fisik pemain agar dalam kondisi prima karena kita tahu tekanan di luar cukup luar biasa. Kalau kondisi mereka prima, saya rasa mereka bisa atasi tim lawan,” ungkap Danilo seperti dikutip Sleman Football.

Ucapan Danilo menjadi kenyataan. PSS Sleman bermain cukup dominan di kandang Persiba. Hasilnya pun sangat memuaskan. Terima kasih untuk dua gol dari Slamet Budiono, PSS mengakhir laga dengan skor 1-4. Sebuah kemenangan yang tak hanya terasa manis, namun juga ini kemenangan yang luar biasa.

Baca juga:  Klasemen Liga 1: Klub Liga 1 yang Berpeluang Degradasi

Sungguh jarang ada sebuah klub tandang yang bisa menang dengan skor besar. Apalagi ketika tim dari Pulau Jawa bertandang ke Kalimantan. Jika menang pun, hasilnya tak sebesar kemenangan PSS atas Persiba.

Dominasi PSS terlihat jika kita menengok data statistik pertandingan. PSS membuat 322 umpan, sementara Persiba hanya 247. Semenara itu, PSS melepas 5 tembakan tepat sasaran, berbanding 3 dari tuan rumah. Lewat penguasaan bola sampai 56 persen, PSS menunjukkan bahwa kondisi fisik yang prima membantu sebuah tim bermain lebih tenang dan presisi.

Tanpa stamina yang mumpuni, sebuah klub akan kesulitan bermain bola-bola pendek dengan intensitas tinggi dan akurasi yang memuaskan. Ketika lelah, seorang pemain akan cenderung membuat kesalahan-kesalahan dasar seperti mengumpan dan mengontrol bola.

Fisik yang prima juga terlihat dari dua gol cantik Slamet Budiono. Pemain yang dengan julukan Budigol itu membuat gol sembari mempertahankan akselerasi tinggi. Jika lelah, Budiawan akan kesulitan melakukan feint untuk mengecoh lawan atau melepaskan tembakan dengan akurasi yang terjaga.

Kemenangan manis ini sukses mengatrol posisi PSS Sleman ke puncak klasemen Liga 2 Wilayah Timur dengan 13 poin. Untuk semenara waktu, PSS unggul dua poin dari Madura FC dan Blitar United FC. Jika bisa mempertahankan level kebugaran dan konsisten di semua laga, mimpi promosi ke Liga 1 yang lepas musim lalu bisa terwujud.