MOJOK.COKolombia vs Jepang| Mordovia, Rusia| Live TransTV, K Vision, Usee TV | Selasa, 19/6, 17.00 WIB | Prediksi: Kolombia menang.

Sungguh terasa kacau. Dua bulan sebelum Piala Dunia 2018 dimulai, timnas Jepang resmi memecat sang pelatih, Vahid Halilhodzic. Pemecatan seorang pelatih, biasanya dibarengi dengan naiknya harapan akan sebuah perbaikan. Apalagi, yang menggantikan Halilhodzic adalah muka lama. Ia adalah Akira Nishino, pelatih veteran berusia 63 tahun.

Namun sayang, pergantian pelatih dari Halilhodzic ke Nishino belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Ya maklum saja, pergantian pelatih hanya dua bulan menjelang Piala Dunia. Waktu persiapan yang pendek hanya menjadi sebatas mencari komposisi yang tepat. Padahal seharusnya, ketika tinggal hitungan bulan menjelang Piala Dunia dimulai, tim sudah dalam tahap mematangkan ide dan cara bermain.

Oleh sebab itu menjadi “maklum” apabila Jepang tidak mampu menunjukkan performa yang memuaskan di laga uji tanding. Selama dua bulan masa persiapan, Jepang cukup banyak melakukan laga uji tanding. Tiga kali, Nippon bertanding dengan Ghana, Swiss, dan tim muda Paraguay. Hasilnya? Dua kali kalah melawan Ghana dan Paraguay dengan skor 2-0 dan menang 4-2 atas tim muda Paraguay. Di atas lapangan, performa Jepang sungguh buruk.

Berkaca dari hasil uji tanding dan masa persiapan yang pendek, Nishino sampai berseloroh bahwa di laga Kolombia vs Jepang, sebuah keajaiban dibutuhkan. Ucapan Nishino tersebut bukan tanpa bobot. Ia adalah sosok pelatih yang pernah memantik lahirnya sebuah keajaiban. Tepatnya di Olimpiade 1996, ketika Jepang menghadapi Brasil.

Baca juga:  Final Piala Dunia 2018: Modric-Rakitic, Model Dua Playmaker

Saat itu, Nishino membawa skuat di bawah usia 23 tahun, tanpa menyertakan satu pun pemain overage (Olimpiade mengizinkan sebuah tim untuk membawa tiga pemain di atas usia 23 tahun). Jepang sendiri mengandalkan Hidetoshi Nakata, yang namanya mulai dikenal setelah Olimpiade tersebut.

Di sisi lain, Brasil diperkuat nama-nama muda yang kelak menjadi legenda. Mereka adalah Ronaldo Nazario, Roberto Carlos, dan Dida. Brasil menyertakan pemain overage dalam diri Rivaldo, Bebeto, dan Aldair. Apa yang terjadi? Jepang bermain bertahan, dengan man-to-man marking ketika Brasil memasuki wilayah pertahanan mereka. Hasilnya? Jepang menang dengan skor 1-0.

Laga penuh keajaiban itu mendapatkan judul “Keajaiban di Miami”, ketika timnas Jepang muda mengalahkan Brasil yang dipenuhi calon legenda. Oleh sebab itu, ketika Nishino menyinggung soal keajaiban, segalanya terasa masuk akal. Apakah Jepang mampu mengalahkan Kolombia dan melahirkan legenda baru? Kejaiban Mordovia?

Meski “hanya” melawan Kolombia, laga ini akan sangat berat bagi Jepang. Laga Kolombia vs Jepang adalah soal kegagalan persiapan tim yang disebut kedua. Bahkan komposisi pemain utama pun Jepang belum betul-betul mendapatkannya. Semuanya didasarkan oleh hasil uji tanding yang sungguh buruk.

Itulah alasan mengapa laga Kolombia vs Jepang akan berjalan sangat berat bagi Nishino. Jepang bisa mengalahkan Brasil di Olimpiade 1996 karena persiapan yang lebih matang dibandingkan persiapan untuk Piala Dunia 2018. Sebuah fakta yang membuat Kolombia menjadi favorit untuk pertandingan ini.

Baca juga:  Prediksi Mesir vs Uruguay: Redup Sinar Mohamed Salah

Kolombia, yang masih dilatih Jose Pekerman, adalah salah satu penampil terbaik di Piala Dunia 2014 yang lalu. Kolombia hanya kalah dari Brasil di babak perempat final. Sebagian besar skuat Kolombia sendiri tidak mengalami banyak perubahan dengan dua pemain andalan mereka, James Rodriguez dan Radamel Falcao datang ke Rusia membawa performa dan kondisi fisik terbaik.

Nama pertama, oleh Nishino pelatih Jepang disebut sebagai mood maker, bukan hanya sebatas playmaker saja untuk tim Kolombia. Oleh sebab itu, mengunci pergerakan James adalah tugas esensial untuk pemain-pemain Jepang. Pekerman sendiri memberi James kebebasan yang luas untuk bergerak di semua lini penyerangan. Gelandang serang Bayern Munchen tersebut bisa menentukan hasil akhir sebuah laga hanya dengan satu umpan dan satu gol.

Kolombia, yang bermain dengan skema dasar 4-2-3-1 dan 4-3-2-1 mengisi lini tengah mereka dengan pemain-pemain box-to-box tangguh. Sumur kreativitas tim ini dipikul oleh James. Meski terdengar memikul tanggung jawab yang besar, kerja James sedikit ringan karena dilindungi gelandang-gelandang yang tangguh.

Nah, oleh sebab itu, tanpa perisiapan yang betul-betul matang, Laga Kolombia vs Jepang tentu berat sebelah. Keajaiban membutuhkan kerja keras dan Jepang punya work ethic yang mendukung. Namun, sekali lagi, tanpa persiapan, sepak bola modern bisa menghukum Jepang.