• 2
    Shares

MOJOK.COPengaruh perdamaian antara Persebaya dan Arema, saya yakin, akan bergaung ke seluruh Indonesia. Menjadi contoh akan manisnya persaudaraan.

Salah satu pertandingan penting di sepak bola Indonesia akan digelar hari Minggu (6/5) sore. Adalah Persebaya Surabaya, akan menjamu Arema Malang, dalam lanjutan gelaran Liga Indonesia. Duel dua tim bersejarah.

Pertandingan ini penting untuk dua hal. Pertama, soal posisi di klasemen sementara. Arema, sebagai tim tamu, masih terjerembab di posisi kedua terbawah dengan poin lima. Sementara itu, Persebaya Surabaya ada di posisi ke-10 dengan delapan poin.

Selisih tiga poin tidaklah jauh. Jika menang, poin Arema akan menyamai poin Persebaya. Sekaligus, jika menang, Singo Edan akan keluar dari zona degradasi. Sebuah situasi yang tentunya harus dikejar Arema lantaran terlalu lama terjebak di zona degradasi bukan situasi yang ideal. Oleh sebab itu, poin yang rapat akan membuat pertandingan ini semakin seru.

Alasan kedua mengapa pertandingan ini penting adalah besarnya animo masyarakat Indonesia untuk mengikuti perkembangan pertandingan ini. Tidak hanya soal jalannya pertandingan, namun kisah-kisah di luar lapangan. Kedua tim ini, terutama di basis suporter, punya sejarah yang kurang menyenangkan.

Gesekan tidak selalu terjadi di jalan-jalan atau di lingkungan stadion. Gesekan yang juga berbahaya terjadi di ranah media sosial. Media-media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram adalah “palagan perang” yang baru. Saling sindir, saling umpat bisa berakhir dengan sebuah tawuran yang berbahaya. Apalagi jika kisruh suporter di media sosial sudah menjalar keluar dari narasi sepak bola, misalnya soal agama atau ras.

Pertandingan antara Persebaya vs Arema menjadi peristiwa yang penting terkait panasnya media sosial. Nama besar keduanya akan menyedot atensi lebih tinggi di jejaring sosial. Lalu-lintas makian akan semakin deras, dibarengi sumpah serapah yang tidak sehat. Apalagi, ketika nanti berujung kepada usaha menyebar kabar palsu yang berbahaya itu.

Kurang lebih tiga tahun yang lalu, saya bersama Fandom Indonesia menghadiri undangan sebuah diskusi di bilangan Ring Road Utara yang digagas salah satu suporter di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jika saya tidak salah ingat, ada perwakilan dari setiap kantong suporter di Kota Gudeg ini. Tema utama diskusi malam itu adalah mengelola media komunitas atau suporter.

Baca juga:  Memulai Revolusi dari Desain Anak Tangga, Bantaran Kali, dan Kloset

Salah satu topik bahasan adalah pertikaian antar-akun pseudonim di media sosial yang berpotensi merembet ke dunia nyata.

Ketika situasi memanas, kabar palsu tersebar dengan cepat. Dibumbui provokasi, semakin banyak akun-akun dengan pengaruh yang besar di media sosial bisa terpancing. Jika sudah begitu, media sosial menjadi ranah yang tak lagi sehat karena potensi merusak yang ia bawa. Malam itu, para peserta diskusi sepakat bahwa kontrol media sosial, terutama basis suporter, harus dilakukan.

Tujuannya, untuk mencegah perang media sosial berkobar terlalu lama dan membasmi kabar palsu yang berpotensi memprovokasi pihak-pihak tertentu.

Pun pemberitaan tentang klub yang tanpa mengindahkan kaedah cek dan ricek atau klarifikasi kerap menimbulkan situasi simpang siur di masyarakat. Tidak selalu buruk, tapi yang jelas memberi pekerjaan tambahan bagi manajemen atau akun resmi sebuah klub untuk memberi respons.

Edukasi perlu diberikan kepada para pengelola media komunitas. Salah satu cara paling sederhana adalah mencantumkan nama-nama pengelola media komunitas tersebut. Tujuannya, supaya redaksi yang bisa dilacak oleh publik ini membuat berita atau informasi yang dibagikan bisa dipertanggungjawabkan.

Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dikutip tanpa perubahan dari editorial fandom.id, menyinggung perlunya pengelola media komunitas atau yang memiliki ide untuk membangunnya mengikuti Pedoman Pemberitaan Media Siber yang dikeluarkan oleh Dewan Pers.

Pedoman tersebut bukan untuk membatasi kreativitas, justru sebaliknya, bisa menjadi payung hukum bagi redaksi media komunitas ketika melakukan kerja-kerja jurnalistik. Tidak ada hal-hal yang memberatkan untuk memahami dan melakukan yang diamanatkan. Bahkan, pedoman tersebut bisa bermanfaat untuk media komunitas yang tidak memiliki legalitas hukum.

Jurnalisme yang baik bagi media sepak bola sebaiknya tidak hanya menjamin adanya informasi yang cepat bagi teman-teman suporter, melainkan juga akurat dan semestinya tidak memperpanjang konflik antar-suporter.

Baca juga:  Terbang Melayang dan Jatuh Berkeping-keping Karena Insta Story #weshouldalwaysbekind

Dengan dasar hasil diskusi di atas, laga Persebaya vs Arema bisa menjadi medium yang baik untuk menularkan niat perdamaian. Akun-akun dengan nama besar bisa terus mengingatkan media komunitas untuk menjaga sejuknya linimasa media sosial. Pada ujungnya nanti, konflik antar-suporter bisa diredam lewat sebuah media yang murah, namun dengan daya jangkau yang sangat luas bernama media sosial.

Miftakul FS pernah menulis soal indahnya kebersamaan orang Surabaya dan orang Malang di Pasar Keputran. Mereka saling membutuhkan. Orang-orang Malang membawa hasil bumi ke Pasar Keputran. Sebuah rutinitas yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

“Rutinitas yang bukannya tanpa interaksi. Rutinitas yang bukannya tanpa kepentingan. Di antara orang-orang Surabaya dan Malang tersebut terdapat ikatan saling membutuhkan. Dari Pasar Keputran itulah hasil bumi orang-orang Malang didistribusikan ke seantero Surabaya. Juga sebagian Sidoarjo. Masuk ke dapur-dapur orang Surabaya. Lantas bersalin rupa menjadi energi bagi orang-orang Surabaya. Energi untuk menjalani rutinitas. Energi yang menggerakkan kehidupan.” Tulis Miftakul FS dalam artikelnya yang berujudul “Pasar Keputran, Bonek, dan Arema” yang terbit di Fandom tanggal 20 Desember 2015.

“Dan dari Pasar Keputran itu orang-orang Malang mendapatkan penghasilan. Sayur-mayur dan buah-buahan yang mereka didistribusikan lewat Pasar Keputran berganti lembaran uang yang masuk ke kantong orang-orang Malang.”

Intinya adalah, orang Surabaya dan Malang punya keterikatan yang kuat, punya hubungan yang mesra, dan saling menguntungkan. Permusuhan yang mungkin hanya berasal dari gengsi sudah sepatutnya diselesaikan, ditutup.

Pengaruh perdamaian antara Persebaya dan Arema, saya yakin, akan bergaung ke seluruh Indonesia. Menjadi contoh akan manisnya persaudaraan. jika tidak bersatu, ketika nanti dizalimi oleh operator liga, kekuatan suporter tidak akan cukup untuk melawan. Persatuan, adalah dasar perdamaian. Damai, adalah dasar kehidupan yang lebih adil. Mari semai kedamaian itu bersama-sama.