MOJOK.COPT LIB berencana melarang penggunaan pemain asing untuk posisi striker karena krisis di timnas Indonesia. Sungguh rencana yang visioner dan canggih.

Sebuah pemikiran yang luar biasa jenius dilontarkan oleh Tigorshalom Bobby, COO PT LIB. Saat ini, konon, sedang terjadi krisis striker di timnas Indonesia. Banyak pemain lokal, khususnya striker, yang gagal bersaing dengan striker asing. Oleh sebab itu, untuk mengatasi masalah yang sunggu luar biasa pelik ini, PT LIB berencana membuat regulasi yang canggih dan visioner.

Jadi, Tigor mengungkapkan bahwa PT LIB akan merancang sebuah kebijakan yang isinya “memaksa” klub-klub di Liga Indonesia menggunakan pemain lokal saja untuk posisi striker. “Itu masih tahap rencana dan masukan dari juga dari klub Liga 1 2019. Pemain lokal yang tersubur hanya ada dua, (Stefano) Lilipaly dan Samsul Arif. Lilipaly pun juga pemain naturalisasi,” ungkap Tigor di depan wartawan.

Memang, di Liga 1 saat ini, pencetak gol terbanyak dari pemain lokal diwakili oleh Samsul Arif dan Lilipaly. Pemain yang bermain untuk Barito Putera dan Bali United tersebut, masing-masing, sudah mengemas 10 gol.

“Kami juga akan meminta masukan ini kepada klub karena kompetisi itu tentu saja untuk menghasilkan pemain-pemain terbaik untuk timnas Indonesia. Regulasi musim deoan pemain asing tidak boleh di lini depan bisa saja terjadi karena ini juga untuk timnas Indonesia. Kapan terakhir kita punya penyerang berkualitas?” Tutup Tigor.

Baca juga:  Prediksi PS TIRA vs Persija: Persija Akhirnya Bermain?

Sungguh rencana yang visioner. Siasat ini tidak mungkin terpikirkan oleh negara-negara sepak bola yang lebih maju seperti Spanyol, Jerman, atau Italia. Hanya PT LIB yang diwakili oleh Tigor yang bisa mencapai level makrifat bahwa untuk memproduksi pemain bagus (striker) adalah dengan menutup keran pemain asing untuk posisi tertentu.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika kelak Indonesia tidak punya lagi sosok gelandang berkualitas? Bagaimana apabila saat ini terlalu banyak penyerang sayap yang lebih suka berlari menggiring bola sepanjang pertandingan dan tidak awas dengan situasi pertandingan? Bagaimana apabila kelak tidak ada bek tengah berkualitas lagi?

Kalau ingin memproduksi pemain berkualitas sementara diri ini terancam dengan keberadaan pemain asing, mengapa tidak sekalian sejak lama bikin aturan tegas untuk melarang naturalisasi? Jika ingin lebih ekstem, sekalian saja semua klub tidak boleh menggunakan pemain asing. Coba tengok Liga 2 di mana ada beberapa pemain berkualitas yang gagal ketika bergabung dengan klub Liga 1 karena dasarnya saja tidak matang.

Satu hal yang lebih penting untuk ditanyakan kepada Tigor dan PT LIB adalah mengapa bukan kalimat “pembinaan berjenjang, profesional, dan terencana dengan baik” yang menjadi jawaban ketika timnas Indonesia krisis striker?

Apakah pembinaan pemain muda sudah digelar secara profesional? Kamu tahu, kompetisi klub untuk kelas usia U-19 hanya digelar tiga bulan saja dari September hingga November? Apakah semua klub sudah punya tim akademi yang profesional dan berjenjang hingga kelas U-8 untuk menunjang klub dan kelak timnas Indonesia?

Baca juga:  Prediksi Serbia vs Brasil: Menang Pilu, Kalah Malu

Membangun selalu membutuhkan waktu yang panjang. Ingat, membangun butuh titik awal. Jika klub tidak punya infrastruktur untuk menunjang pembinaan, bagaimana mungkin akan “terproduksi” pemain timnas dengan level dunia? Infrastruktur akademi yang profesional adalah titik awal memproduksi pemain berkualitas. Tidak ada yang lain.

Melarang menggunakan striker asing, meski ini baru sekadar rencana, sudah salah kaprah. Kalau dari tahap rencana saja sudah keliru, apa yang bisa kita harapkan dari proses yang sudah berjalan? Apakah masalah timnas Indonesia hanya terbatas kepada tidak adanya striker tajam? Bagaimana dengan kualitas dan cara bertahan timnas Indonesia?

Kesuksesan atas usaha instan tidak bertahan lama. Lihat saja pemain-pemain naturalisasi lawas yang sudah pernah membela timnas Indonesia? Apakah mereka bertahan lama, baik kontribusi maupun pengaruh di kehidupan sepak bola Indonesia secara keseluruhan? Jadi, untuk rencana PT LIB ini, yang bisa kita lakukan adalah menertawakannya. Tidak ada yang lain.