MOJOK.CORasa lega justru saya rasakan ketika mendapati kabar Mesut Ozil sudah hengkang dari Arsenal, menuju Turki untuk bersama Fenerbahce.

Izinkan saya untuk sedikit curhat. Kalau tidak salah ingat, 12 atau 13 tahun yang lalu saya pernah ditinggal nikah sama (mantan) pacar. Saya tidak tahu kalau di hari Minggu itu dia ijab khabul sama cowok lain. Saya baru tahu ketika ibunya telepon sambil nangis-nangis. “Mas, si Mbak menikah.”

Saat itu saya setengah sadar. Baru tidur menjelang subuh karena malamnya mabuk-mabukan bersama keluarga. Kalau tak salah ingat, adik sepupu saya ulang tahun. Saya belum sempat menjawab ketika ibunya bilang, “Sabar ya, mas,” lalu mematikan telepon. Antara sadar dan tidak, saya meletakkan hape lalu tidur lagi.

Beberapa jam kemudian, saya baru sadar dan ingat dengan telepon itu. Bukannya sedih, saya malah merasa lega. Tentu ada rasa kecewa, tetapi kelegaan di dalam hati itu lebih dominan. Perasaan yang sama itu kini saya rasakan lagi ketika Mesut Ozil “resmi” meninggalkan Arsenal.

Kata “resmi” saya kasih tanda kutip karena sebetulnya kepindahannya ke Fenerbahce belum betul-betul sah. Mesut Ozil terbang ke Turki dalam rangka menyelesaikan kontraknya bersama Fenerbahce. Namun, caranya memegang syal dan menunjukkan kelegaan seakan-akan dirinya sudah bukan lagi pemain Arsenal.

Pada titik ini saya sadar bahwa sudah sejak lama Mesut Ozil sudah tidak cinta Arsenal. Kalau memang masih cinta dan ingin menjaga hati para fans Arsenal, Mesut Ozil akan merahasiakan kepergiannya ke Turki. Setidaknya, dia tidak perlu buru-buru terbang ke Turki dan menyelesaikan kontraknya di Inggris.

Ketika masih berstatus pemain Arsenal, dia sudah memikirkan kehidupan selanjutnya yang dia sangka akan jauh lebih enak. Well, kita memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Mesut Ozil. Mungkin, perlakukan Arsenal di balik layar memang sudah keterlaluan.

Namun, bagi kita, para fans, pertanyaan yang pasti kita tanyakan adalah, “Kita salah apa sampai harus menjalani nasib seperti ini?” Sama ketika ditinggal kawin sama (mantan) pacar. “Salahku apa?” Tapi, yah, kelegaan di dalam hati itu memang jauh lebih penting.

Terkadang, kita tidak perlu memikirkan terlalu dalam alasan sebuah perpisahan. Terkadang, kita hanya perlu menerimanya sebagai sebuah pendewasaan, lalu move on menuju chapter baru dalam kehidupan. Cinta sejati tidak datang lalu pergi. Cinta sejati akan datang dan bersemayam selamanya dalam hati.

Saya bilang begitu karena masih sangat banyak fans Arsenal yang tidak bisa menerima kepergian Mesut Ozil. Masih banyak akun fans yang menggunakan foto Ozil sebagai profile picture karena tidak rela atas perlakuan klub. Ingat kawan, terlalu lama terjebak dalam kekecewaan itu tidak sehat untuk jantung.

Ada seorang kawan saya, ketua sebuah komunitas Arsenal di Yogyakarta yang mengaku “mangkel” atas kejadian ini. Mangkel itu artinya marah. Tidak mengapa kawan, saat ini, keluarkan semua emosi di dalam hati. Marahlah sampai paripurna. Namun, setelah itu, mari menerima perpisahan sebagai bagian dari penciptaan.

Setelah ditinggal pergi salah satu orang yang pernah begitu dikasihi, kehidupan pasti seakan-akan sangat kacau. Masa depan menjadi tidak jelas. Apakah diri ini bisa bertahan sendirian dalam kekecewaan? Kawan, jangan pernah merasa sendirian karena masih banyak teman di luar sana yang siap mewakafkan bahu sebagai tempatmu bersandar.

Mesut Ozil pergi karena (mungkin) tak lagi dicintai Arsenal. Di sisi lain, bisa jadi dia pergi karena Arsenal memang sudah merasa kini waktunya menyambut era baru.

Seperti pergantian era pada umumnya, turbulensi adalah hal yang wajar untuk terjadi. Ketika Arsenal berkali-kali terjebak dalam krisis, ingatan akan umpan-umpan cantik Mesut Ozil pasti terbayang. Saat itu, kamu harus sadar bahwa cintamu telah pergi. Kekuatan untuk bertahan ada di dalam dirimu. Bukan dengan mengingat dia yang sudah minggat.

Kepergian Mesut Ozil meninggalkan berbagai rasa perpisahan. Ada yang mendoakan, ada yang menyesali, ada yang mangkel, ada yang ikhlas, sementara saya merasa sangat lega. Baik dan buruk yang akan terjadi kelak tidak akan mengubah fakta bahwa yang kita dukung adalah klub, bukan pemain.

Pada titik tertentu, perpisahan harus dirayakan. Bukan sebagai pengingat akan sakit hati, tetapi sebagai usaha untuk belajar menjadi lebih dewasa. Kelak, hanya waktu dan tawa yang akan menjadi perban untuk luka di hati. Terutama tawa bersama-sama kawan dan waktu membahagiakan bersama cinta yang baru.

BACA JUGA Arsene Wenger Mundur: Cinta dan Dukungan Saya Selalu Untuk Arsenal dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Serie A Liga Aki-aki? Sesat Pikir Followers Akun Para Penghasut