MOJOK.CO  Bergabung dengan Lechia Gdansk adalah keputusan Egy Maulana Vikri yang patut dirayakan.

Tanggal 11 Maret 2018, hari Sabtu, Egy Maulana Vikri diperkenalkan oleh Lechia Gdansk sebagai pemain baru. Tak main-main, Egy akan bermain dengan nomor punggung 10. Sebuah nomor punggung dengan makna mendalam. Sebuah kabar yang tentunya manis untuk Indonesia, dan harus dirayakan. Mengapa? Karena Egy sudah jauh dari kekacauan Liga Indonesia.

Selepas gelaran Piala AFF U-18 dan sebuah turnamen di Toulon, Prancis, nama Egy Maulana Vikri melejit. Olah bola yang mumpuni dan level kepercayaan diri yang mengagumkan untuk seorang remaja mengundang banyak pujian.

Sebuah penampilan yang sukses mengundang perhatian beberapa tim Eropa. Berkat penampilannya itu juga, Egy dianjurkan untuk berkembang di luar Indonesia.

Salah satu klub yang sudah secara terang mengundang pemain berusia 17 tahun ini adalah Benfica. Raksasa Portugal tersebut ingin Egy menjalani trial di Portugal selama beberapa waktu. Benfica siap menanggung asuransi selama Egy menjalani “uji kelayakan”.

Tak hanya Benfica, ada sebuah klub dari Jerman yang bahkan sudah siap mengajak Egy dan perwakilannya untuk berembug soal gaji per minggu.

Jika bersedia, Egy akan “disekolahkan” selama satu tahun terlebih dahulu di salah satu klub Thailand yang berafisilasi dengan klub Jerman, yang identitasnya dirahasiakan tersebut. Maklum, Egy baru bisa bermain di Jerman ketika sudah menginjak usia 18 tahun.

Selain Benfica dan klub Jerman, ada tiga klub Spanyol yang juga konon menaruh minat kepada Egy Maulana Vikri. Mereka adalah Espanyol, Getafe, dan Real Madrid. Sayang, pihak Egy enggan memberikan informasi lebih lanjut perihal ketertarikan ketiga klub Spanyol tersebut.

Egy sendiri tidak terburu-buru mengambil keputusan. Pemain kelahiran Medan tersebut masih mempertimbangkan klub mana yang paling cocok untuk dirinya. Terutama, yang menjadi bahan pertimbangannya adalah klub mana yang bisa memberinya menit bermain dan kesempatan berkembang. Bukan hanya sekadar memberi tempat di tim akademi masing-masing.

Untuk alasan itulah, Egy Maulana Vikri, pada akhirnya memilih berkarier di Polandia bersama Lechia Gdansk.

Meski sadar bahwa dirinya harus beradaptasi dengan lingkungan yang keras dan sungguh berbeda dibandingkan apabila ia memilih Portugal, keputusan Egy terbilang cukup bijak. Bagi pesepak bola belia, selain ilmu dan latihan, yang sangat diperlukan adalah pengalaman bertanding bersama tim utama. Singkatnya, sebuah kesempatan bertanding adalah bekal perkembangan terbaik.

Baca juga:  El Clasico Bisa Antiklimaks kalau Real Madrid dan Barcelona Gini Terus

Menumpuk pengalaman selagi muda akan memberi Egy banyak ruang untuk menganalisis, merasakan dirinya membuat kesalahan, dan berkembang berdasarkan kesalahan-kesalahan tersebut. Jika sejak dini seorang pesepak bola menyadari mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak, perkembangannya menjadi lebih terarah.

Meski bermain di sebuah liga yang dianggap kasta kedua di Eropa, Egy akan mendapatkan kesempatan yang berharga itu. Tentunya, melihat talenta Egy, Lechia Gdansk tidak akan menjadi pelabuhannya yang terakhir. Bukan maksud merendahkan Lechia, namun potensi Egy memang begitu besar. Boleh dikata, salah satu wonderkid terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Jika Egy berkembang dengan sempurna, baik teknis maupun mental, tidak akan lama kita akan melihat Egy bermain di liga kasta pertama di Eropa. La Liga atau Bundesliga akan sangat cocok untuk perkembangan karier dan kemampuan Egy selanjutnya.

Nah, sebelum berangan terlalu jauh, saat ini, yang perlu dilakukan adalah merayakan kepindahan Egy ke Eropa. Merayakan selamatnya Egy Maulana Vikri dari kekacauan dan kesemrawutan Liga Indonesia.

Lubang Hitam Liga Indonesia yang berbahaya untuk Egy Maulana Vikri

Liga Indonesia, bukan lagi sebuah rahasia, masih sangat jauh dari kata profesional. Terdengar frontal? Atau justru sangat familier? Begitu banyak kepentingan pribadi atau golongan yang bermain di sana, membuat Liga Indonesia bukan ekosistem yang sehat untuk perkembangan pemain muda potensial.

Jika membicarakan pergerakan pihak tertentu di balik layar hanya seperti membicarakan ranah abu-abu, mari kita berbicara dari yang bisa dilihat oleh mata telanjang.

Pertama, soal uang.

Apakah pembaca tahu bahwa tanggal sepak mula Liga Indonesia 2018 mundur setidaknya empat kali? Liga Indonesia, sebelumnya pernah dijadwalkan akan bergulir pada tanggal 24 Februari, 3 Maret, 10 Maret, dan antara tanggal 18 hingga 25 Maret 2018. Mengapa sampai ditunda empat kali?

Salah satu alasannya adalah uang. Jadi, PT. LIB selaku operator liga, masih menunggak uang subsidi klub untuk musim 2016/2017. Total tunggakan mencapai 7,5 miliar. Jika uang ini belum lunas terbayar, liga belum bisa dilaksanakan.

Selain soal uang, penundaan kompetisi juga berkaitan dengan ketidakpastian jadwal Piala Indoensia (semacam Piala FA-nya Indonesia) dan jadwal pemusatan tim nasional.

Sebuah liga profesional, sejatinya sudah merilis jadwal musim selanjutnya beberapa saat setelah liga yang tengah berjalan dinyatakan selesai. Dengan begitu, klub peserta akan punya waktu untuk mempersiapkan diri, beradaptasi dengan waktu bermain dan lawan yang dihadapi. Ketidakpastian jadwal jelas mengganggu persiapan dan tidak sehat untuk perkembangan pemain.

Baca juga:  Dilema Aplikasi Kontool dan Perusahaan Sejenis Jika Berkembang di Indonesia

Kedua, soal ketegasan wasit.

Musim lalu, Liga 1 Indonesia memperkenalkan penggunaan wasit dari luar negeri untuk menjadi pengadil. Diharapkan wasit-wasit dari luar negeri tersebut bisa menularkan pengalaman, dan yang paling penting adalah membangun ketegasan wasit-wasit Indonesia. Maklum, wasit Indonesia masih perlu berbenah untuk soal ketegasan.

Di luar wasit yang memang berkualitas dan diakui FIFA, masih banyak wasit yang terjebak dalam stigma lawas, yaitu “menguntungkan tuan rumah”. Hal ini berkaitan dengan pembiaran pelanggaran keras, bahkan berbahaya yang dilakukan pemain.

Sangat sering, wasit tak memberikan pelanggaran untuk aksi yang sebetulnya berbahaya. Jika peluit ditiup tanda pelanggaran, wasit sangat berat untuk mengeluarkan kartu sebagai peringatan. Sikap permisif terhadap pelanggaran keras ini sungguh tidak sehat. Mengapa? Karena ketika aksi berbahaya dilakukan lagi, wasit tak bisa berbuat banyak.

Bagi pesepak bola berteknik seperti Egy Maulana Vikri, lingkungan ini sungguh berbahaya. Olah bola yang mumpuni akan membuat dirinya menjadi target. Tak dimungkiri, keberhasilan meredam seorang Egy akan menjadi kebanggaan bagi pemain-pemain tertentu. Bahkan apabila aksi meredam Egy dilakukan dengan tekel berbahaya.

Tanpa ketegasan wasit, pemain seperti Egy tak akan terlindungi.

Ketiga, situasi kontrak.

Sering terjadi, pesepak bola yang cedera, justru tidak mendapatkan perawatan yang ideal. Yang terjadi justru klub memutus kontrak pemain tersebut. Memang, untuk hal ini, klub tak sepenuhnya salah karena banyak pemain enggan membaca isi kontrak. Celakanya, di dalam kontrak tersebut terdapat klausul pemutusan apabila terjadi cedera berat.

Terlepas dari masalah pemain yang kurang teliti, situasi tersebut jelas bukan hal yang ideal untuk Egy Maulana Vikri. Ditambah wasit yang tidak tegas, pemain lawan yang brutal, cedera berkepanjangan, maka perkembangan Egy tidak akan berjalan. Yang ada, Egy hanya akan dikenal sebagai “salah satu wonderkid yang gagal.”

Daftar di atas akan sangat mudah ditambah lagi. Namun, tiga hal itu saja sudah cukup untuk menggambarkan kesemrawutan Liga Indonesia. Maka, keputusan Egy Maulana Vikri untuk bermain di luar negeri patut dirayakan. Semoga Egy betah, dan apabila perlu, jika Liga Indonesia ternyata tidak berbenah, selamanya Egy bermain untuk klub Eropa saja.

Oya, satu hal lagi. Semoga dengan bergabung dengan klub Polandia tidak membuat rasa nasionalisme Egy dipertanyakan. Bagaimana Bapak-Ketua-PSSI-yang-cuti-sungguh-lama-sekali-untuk-nyalon-Pilkada-Sumut? Lapan anam?